All things are One. There is no polarity, no right or wrong, no disharmony, but only identity.
All is One, and that one is love/light, light/love, The One Infinite Creator...
~Ra, humble messenger of the Law of One~
All is One, and that one is love/light, light/love, The One Infinite Creator...
~Ra, humble messenger of the Law of One~
Wednesday, February 25, 2009
Kisah akan Ke-terpisah-an dan Ke-tersambung-an
Hidup adalah kisah. Setiap kita merangkai kisah dan legenda pribadi kita masing-masing bahkan sejak kita masih dalam kandungan sang ibu hingga kita meniupkan nafas kita yang terakhir. Kisah pribadi kita itulah yang bersama kisah-kisah pribadi lainnya terajut menjadi satu rangkaian besar kisah kehidupan umat manusia di muka bumi.
Tema abadi dari kisah kehidupan manusia di muka bumi tersebut adalah tentang “baik lawan jahat” atau kebaikan melawan kejahatan. Kita secara umum mendefinisikan “baik” sebagai suatu bentuk perilaku yang mementingkan dan membantu orang lain. Sedangkan “jahat”, lawan atau kebalikan dari “baik” kemudian didefinisikan sebagai suatu bentuk perilaku yang mementingkan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain.
Definisi yang saling beralawanan ini sebenarnya bersumber pada satu prinsip yang sama, yaitu keterpisahan. Jauh sebelum semesta melahirkan manusia sebagai salah satu bentuk kehidupan, seluruh bentuk kehidupan dalam kesadarannya mengetahui bahwa mereka satu adanya, dan bahwa tiap mereka merupakan bagian tak terpisahkan yang saling tersambung dalam satu jejaring eksistensi maha besar. Ini disebut kesadaran akan keutuhan atau kesatuan eksistensi.
Pada awalnya manusia secara sadar mengetahui ketersambungan eksistensinya dengan sesama manusia dan alam sekitarnya, seperti halnya yang terjadi dengan sebagian besar spesies hewan sekarang ini. Contoh paling jelas yang bisa kita lihat dewasa ini adalah ketika tsunami menghancurkan wilayah Aceh di Indonesia pada desember 2004. Begitu tim penyelamat masuk ke wilayah bencana puluhan ribu mayat manusia ditemukan, namun tidak ada ditemukan mayat binatang yang menjadi korban.
Semua spesies binatang secara kolektif telah mendapatkan intuisi tentang bahaya besar yang akan menerjang, dan secara serentak menyelamatkan diri ke daerah yang lebih tinggi.
Media berita melaporkan bahwa kelompok gajah yang sehari-harinya jinak secara spontan mencabut lepas rantai dan tiang pancang yang mengikat mereka ke tanah dan berlarian menuju puncak bukit seraya mengeluarkan suara trompet sebagai pertanda bagi hewan lain untuk mengikuti mereka. Sejenak setelah tsunami menghantam dan perlahan mereda, para gajah itu kembali pulang dan memanfaatkan postur mereka yang tinggi dan kekuatannya yang besar untuk menyelamatkan anak-anak dari lumpur dan banjir untuk kemudian membawa mereka ke tanah yang lebih tinggi.
Seperti itulah koneksi yang eksis diantara para makhluk hidup pada awalnya, saling ter-sambung-kan secara instingtif dalam satu jejaring kesadaran kolektif. Pada satu titik tertentu dalam sejarah semesta, kita secara kolektif memutuskan untuk menjelajahi dan menyelidiki akan ke-terpisah-an. Kita menginginkan, bukan hanya tubuh fisikal yang terpisah, namun juga kita secara sadar merasa terpisah dan tak terhubungkan dengan manusia lain.
Kita memang sudah mengalami keterpisahan, kita mempunyai pribadi dengan jiwa, ruh dan jasad fisik yang terpisah. Namun kita memutuskan untuk menjelajahi pengalaman akan keterpisahan sampai ke ujung perjalanan dan terlahir dengan tidak mempunyai kesadaran apapun mengenai ketersambungan kita dengan sesama manusia. Dengan kata lain, kita ingin, paling tidak satu kali, menjadi entitas yang independen dan benar-benar terpisah dari seluruh aspek semesta lainnya dalam petualangan kita dengan jasad fisikal ini.
Walaupun sejatinya kita tetap ter-sambung-kan dengan keseluruhan eksistensi, seperti halnya seluruh semesta adanya, namun kita tidak akan secara sadar menyadari atau mengetahui adanya ketersambungan tersebut. Nah, Itu baru sesuatu yang menurut kita, bisa disebut... PENGALAMAN !
Alasan dan fungsi paling mendasar akan adanya individualisasi adalah agar Sang-Pencipta dapat menjelajahi dan mendapatkan pengalaman akan keseluruhan aspek Sang-Pencipta sendiri dari berbagai sudut pandang berbeda yang tak terbatas jumlahnya.
Apakah ada yang lebih realistik, independen dan kreatif, kita bertanya kepada diri kita sendiri, dari sudut pandang seorang individu yang benar-benar independen dan kreatif, dengan seluruh perasaan, kecerdasan dan keinginan bebasnya sendiri?
Sejak saat itu, saat yang telah lama terlupakan dalam pusaran waktu, manusia terlahir ke dunia ini dimana keterpisahan menjadi realitas hidup mereka. Dalam realitas ini jugalah dunia yang dipenuhi dengan rasa ketakutan akan kekurangan dengan mudah terbentuk.
Ketika manusia lupa akan ketersambungannya dengan semesta dimana dirinya berada, sangat mudah untuk merasa tak berdaya dihadapan kebesaran dan keganasan alam. Dalam kondisi tersebut keinginan untuk tetap hidup dan survive berubah menjadi ketakutan untuk tetap hidup. Persepsi akan keterpisahan dengan mudah melahirkan keyakinan bahwa hanya tersedia sumber daya dalam jumlah tertentu untuk kelangsungan hidup seseorang yang tentu saja kemudian akan menimbulkan keinginan untuk memperebutkan sumber daya tersebut.
Ketakutan akan kemungkinan dikalahkan oleh orang lain dalam perebutan sumber daya di tengah kondisi dan lingkungan yang secara fisikal menyimpan bahaya bagi kelangsungan hidup tiap individu dapat memicu timbulnya hasrat untuk memperoleh kekuatan dan kemampuan yang melebih individu lain dengan tujuan agar merasa lebih aman dan terjamin.
Begitulah, implikasi negatif dari kesadaran keterpisahan dengan semesta dan Sumber Segala Sumber Sesuatu berkembang terus menerus seiring berlalunya waktu. Ketika manusia terus dan terus menjadi makin terpisahkan satu sama lain dikarenakan pengalaman buruk atau bahkan mengerikan dan traumatis akibat perbuatan egois orang lain, kegelapan dan kejahatan menjadi makin dalam.
Di dalam dunia ke-sendirian, dimana orang saling curiga dan manusia saling “memangsa” manusia lain, hingga tidak ada yang bisa kita percayai, kemana kita harus berpaling?
Mengetahui bahwa kegelapan dan kerusakan ini akan terjadi, Sang-Pencipta berulang kali mengirim individu yang membawa cahaya kasih sayang dan kebijaksanaan-Nya ke tengah-tengah umat manusia, untuk menjadi teladan yang baik dan menunjukkan kepada manusia jalan keluar dari lingkaran destruktif kegelapan dan kejahatan.
Kebudayaan barat sebagian besar tersentuh dengan ajaran yang secara emosional sangat transformatif dari Yesus, begitupun kebudayaan di belahan dunia yang lain juga mendapatkan para penunjuk jalan yang membawa cahaya terang dalam cara dan metode yang paling sesuai dengan kondisi mereka. Contohnya adalah jalan yang ditunjukkan oleh Buddha, Krishna, Confucius, Lao Tse dan Muhammad.
Saat ini, babak kehidupan manusia yang sekarang mendekati akhir masanya. Hari-hari sekarang ini adalah hari-hari perubahan. Frekuensi energi seluruh kehidupan di planet ini sedang meningkat ke level yang lebih tinggi guna memungkinkan babak baru kehidupan manusia dapat dimulai. Pengawal jaman yang tua ini satu demi satu berlalu, dan anak-anak baru dilahirkan, anak-anak dengan membawa frekuensi energi dan kesadaran yang selaras dengan kesadaran baru yang akan lahir.
Dunia sedang berubah, dan hari-hari ini kita menyaksikan lahirnya realitas baru di muka bumi. Harapan menggantikan ketakutan, kerjasama menggantikan persaingan, kasih sayang menggantikan kebencian, dan ketersambungan menggantikan keterpisahan.
Read more...
Friday, February 13, 2009
10 Guidelines for Enlightenment
Wah tak terasa dah weekend lagi, dan besok juga hari yang banyak dinantikan sebagain saudara kita...jadi ditengah suasana yang lagi "romantic" gini...enaknya gak nulis yang "berat2" dulu kali yee...enaknya santai...tapi teteuppp serius gicuu lhoo...well I guess this "10 Guidelines for Enlightenment" by swami beyonanda...is just Perfect...
:) enjoy !!
1. Be a FUNdamentalist -- ensure that the Fun always comes before the Mental. Realize that life is a situation comedy that will never be cancelled. A laugh track has been provided and the reason we are put in the material world is to get more material. Have a good laughsitive twice a day, which will ensure reguhilarity.
2. Remember that each of us has been given a special gift just for
entering, so you are already a winner!
3. The most powerful tool on the planet today is Tell-A-Vision. That's where I tell a vision to you and you tell a vision to me. That way, if we don't like the programming we're getting, we can change the channel.
4. Life is like photography -- you use the negative to develop. No
matter what adversity you face, be reassured: Of course God loves you...He's just not ready to make a commitment.
5. It is true: As we go through life thinking heavy thoughts, thought
particles tend to get caught between the ears and cause a condition called "truth decay". Be sure to use mental floss twice a day, and when you're tempted to practice 'tantrum yoga', remember what we teach in the Swami's Absurdiveness Training Class: DON'T GET EVEN, GET ODD.
6. If we want world peace, we must let go of our attachments and truly live like nomads. That's where I no mad at you and you no mad at me. That way there'll surely be nomadness on the planet. Peace begins with each of us. A little peace here, a little peace there. Pretty soon all the peaces will fit together to make one big peace everywhere.
7. I know great earth changes have been predicted for the future, so if you're looking to avoid earthquakes my advice is simple: When you find a fault don't dwell on it.
8. There's no need to change the world. All we have to do is toilet
train the world and we'll never have to change it again.
9. If you're looking for the key to the Universe I've got some good
news and some bad news.
The bad news: There is no key to the Universe.
The good news: It was never locked.
10. Finally, everything I've told you is channeled. That way, if you
don't like it it's not my fault. But remember: Enlightenment is not a
bureaucracy, so you don't have to go through channels."
:) Have a nice weekend...:)
don't like it it's not my fault. But remember: Enlightenment is not a
bureaucracy, so you don't have to go through channels."
:) Have a nice weekend...:)
Read more...
Thursday, February 5, 2009
We, God and Our Relationship...
Ada satu sahabat saya yang mengungkapkan kekhawatirannya bahwa jika tulisan yang saya paparkan di blog ini dapat membuat seseorang menjadi Atheist atau Komunis dikarenakan lemahnya "iman" orang tersebut, sebuah kekhawatiran yang sangat bisa saya mengerti. Sebagai manusia yang terlahir dalam sebuah masyarakat dengan seperangkat "conditioning" akan realitas, tentunya bukanlah perkara "mudah" bagi kita semua untuk "menerima" realitas yang berbeda dari yang selama ini telah kita kenal, yakini dan jalani.
Bagi kita yang terhubung dengan realitas fisikal melalui seperangkat sistem kepercayaan atau "belief system" dengan istilah agama, kepercayaan atau religion maka sangat logis bahwa segala persepsi, anggapan, akar pemikiran dan perspektif kita akan realitas, kenyataan dan hakikat akan diri kita dan segala sesuatu diluar diri kita akan terbentuk sebagaimana sistem kepercayaan itu mengkomunikasikan realitas itu sendiri.
Realitas, kenyataan dan hakikat dalam ke-sejatiannya adalah tak terbatas, sementara kita serba terbatas. Bagi kita yang mau berfikir mendalam, berkontemplasi atau bertafakur akan kenyataan ini, tentunya akan segera menyadari bahwa ketika yang-terbatas ingin mengenal dan mengetahui yang-tak-terbatas maka yang didapat hanyalah sebatas batasan dari yang-terbatas itu sendiri.
Jadi, kepada sahabat saya yang dengan tulus menyampaikan kekhawatirannya akan "bahaya" terjerumusnya pembaca blog ini menjadi Atheist atau Komunis, saya ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas perhatian yang diberikannya kepada manusia lainnya, that's really an act of loving. Saya hanya bisa berkata, don't worry everything is gonna be alright, afterall each of us already perfect in our own way, just keep reading this blog, and you will see what I'm talking about. :)
Among the topic that attracted many interest is about... Who is God and what is our relationship to God? The reason for these questions for the most part appears to be due to the fact that many, if not most people have, from an early age, been raised by parents, relatives, schools and other organisations who "preach" about the personfied God of the major dogmatic religions. A typical vision is that of an elederly gentleman with a long flowing white beard, sometimes with a kindly face and sometimes with a stern face according to the sect of the religion, who sits on his large golden thrown surrounded by his large winged Archangels, handing out judgements as to who may go through the pearly gates of "Heaven" after passing on, and who must spend all eternity in the "hellfire" and "damnation" of "hell".
It is no surprise therefore that there is so much confusion, and just as unsurprising that the World is in the state it is in today with the focus of most people being on this perception that more likely a self imposed realities than absolute realities that there is.
The topic of "Who is God" is of course a very large, indeed infinite one, and in fact no human can possibly fully answer the question anyway. God is omnipotent, omniscient and omnipresent as a "power" "presence" or "force" Who is totally beyond our comprehension in His/Her sheer Magnificence, Power and Presence. It is indeed true that God knows everything that occurs in the entire Universe in all spheres of life and reality from the very "highest" Being to the single celled organism all of which are equal in the "eyes" of God.
The Universal God has numerous names in accordance with individual cultures and the way Universal truths are taught to followers. God has been frequently over the ages, and indeed today most appropriately referred to as; The Universe, The Source, The First Cause, The Ether, The Akasha, The One, The All, Allah, Spirit, The Great Spirit, The Prime Creator, and by many other names. Again, this is the Universal aspect of God Who exists, has always existed and always will exist beyond the temporal confines of space and time, the same God of which we are all integral aspects, each having our own existence in the Mind of God as individuated, immortal, Spiritual beings, the very same God who is in every single one of us and we in God.
Principally we can refer to "God " by three different names:
The Source: Everything in the Universe, all Energy, vibration and life flows from The Source. Everything in the Universe is an integral aspect of, and an expression of The Source. Nothing can exist outside of, or separate to The Source. The Source is at once omnipotent, omniscient, and omnipresent. The Source is Everything that Is.
The First Cause: The Source Energy is the First Cause of everything in the Universe. Everything in the Universe was and still is being created by The First Cause. It was The First Cause that brought the entire Universe into Being within The Infinite Mind of The Source.
The Source is The First Cause, the Primary Creator in the Universe, The Macrocosm. We human beings, as expressions of The First Cause, made in the true Spiritual Image of The First Cause, are co-creators within the Universe, we are therefore secondary creators or "causes"
within our local Universe, the Microcosm, realities we create with the power of our Minds just as The First Cause creates the ultimate reality, The Universe, within the infinite Mind of The First Cause.
God: God is The Source and The First Cause. God is a name that, although subject over the ages to creed and dogma and often even personified in a human form, is nevertheless a name that almost everyone in the world can relate to as the Supreme Being in the Universe, and is therefore a name that is entirely appropriate in that context, in a Universal, non dogmatic form.
So What or Who is God in absolute terms?
Quite simply God is the entire Universe and everything contained within the Universe and exists in the form of Energy; conscious, intelligent Energy. At the very centre of this Energy is The Source of this Energy who we may call "God" . This Energy vibrates at every decreasing frequencies the further from The Source is exists until finally, at the outermost limits of The Universe is the manifesation of God with the lowest frequency, highest density of all, the physical Universe of matter. The physical world exists at such a low vibration and high density by comparison to the Universe as a Whole that it was aptly described by quantum physicist David Bohm as "frozen Light". He uses the work "Light" in its Divine sense, because another word for God, and the Energy in which we have our Being is "The Light".
The smallest unit of Universal Energy is the "Quanta", and it is of Quanta that everything is "made" by the influence of Mind. In the Macrocosm, God created the Universe by literally "thinking" it into existence. Quanta only become observable under the influence of the Mind. In the physical world scientists have already observed this when they noticed that the only time Quanta ever manifest as particles is when they are being observed.
God created the Universe, the Macrocosm in the same way that we all create our own realities, the Microcosm, by the power of thought.
When we focus on the object of a desire, we create a vibration of the Energy that corresponds to our desire in the form of an image that represents our desire, until, by the Law of Attraction vibrates in harmony with our desire thereby enabling our desire to manifest into our experiential existence. Until we vibrate in harmony with our desire, we cannot experience it. This where most people cannot attract their desires; they are simpy not vibrating the Energy of the Universe in harmony with the desire. In my view it's imperative to understanding great detail of the Law of Attraction and the processes required to bring yourself into harmony with the object of your desires. With the power of the Mind and its correct focus, there is truly nothing that you cannot be, do or have.
So what is our relationship with God? It is true that we are made in the Image of God, but not the personified image of the dogmatic religions, but rather the Spiritual image. God is pure Energy and so too are we as human beings pure Energy made in the "imagination" or image of God.
We all exist as "images" or "ideas" in the Mind of God. However, we are very complex images comprising countless Quanta of Energy, each with our own unique characteristics while at the same time sharing a particular Energy "configuration" that makes us uniquely "human". Our Energy configuration includes a part of the individuated "consciousness" or "Spirit" of God, and that is which animates us and makes us who we are. This of course is a very simplistic overview of who we are.
So how do we differ from God? The first thing we must always keep in mind is that as well as being "made" as individuated images of God, we still all share, as does everything in the Universe, the same ultimate Energy. There is no separation in the Universe. All apparent separation is nothing but an illusion brought about by the tricks of the five physical senses which perceives and "decodes" the Energy in such a way as to cause the illusion of separation. It is this widely perpetuated illusion that contributes to so much misery in the world today with the individual egos of people always working only for what they perceive as "themselves". In fact we are all one, and as such whatever we do, think or imagine immediately affects the entire Universe and everyone and everything within the entire Universe. What we do, think and imagine is therefore a huge responsibility, and a lesson that needs to be learned by all of humanity. "God" is perfect in His/Her thinking, and as a result the Universe is perfect.
So we all exist as unique "individuations" of God made in the Spiritual image of God, but how do we differ from God? The answer is "Perfection". God, the Universe is Perfection in every way. Nothing can be added to, subtracted from our modified from God to make God more perfect. God is total perfection and manages the Universe with immutable Perfection with one major force in particular, the most powerful force in the Universe, Unconditional Love. We only differ from God therefore in terms of our own individual state of perfection. It is therefore at the core of our very Soul and Spirit and who we "are" to be as "God" by evolving to the same state of perfection as God, until finally, if we choose to do so, we can achieve Unity with God at which point our consciousness is Unified with "The All" and All becomes known. This is the true meaning of Life: to evolve back to The First Cause, The Source, God.
As we achieve higher states of perfection through experience, the vibration of our individual Spiritual body increases, and as this happens we "migrate" inwards in the direction of The Source, and as we do so we become aware of ever more glorious realms of life that are far beyond the remotest comprehension of Earthly humans. This is one motivation we have to pursue perfection and evolution, the prospect and certainty that as we progress, the more "heavenly", magnificent and glorious will be our life and reality.
We evolve back to God in the process of perfection. Humans of the planet Earth are just starting out on the sacred path back to God.
Earth is the "kindergarten" of the Universe, and it is here that everyone begins the journey on the great and sacred path by learning fundamental lessons that can only be learned in a physical environment, mixing with a wide range of people and circumstances that do not exist in the Astral worlds and beyond. This is why people choose to incarnate time and again in order to learn the necessary lessons of progression on the path to perfection and therefore God.
Finally we must all keep in mind the ultimate and sacred truth that we are all one and whatever we do affects everything in creation.
Whatever we do will always return to us by the immutable Law of Cause and Effect. It is in understanding these Universal Laws that we progress, and become less and less "separate", the "inner" Beings always assisting the "outer" beings less progressed along the path in their own evolution, ever driven by Unconditional Love.
So Who is the true God?
The true God is not tyrannical, benevolent or vengeful, and does not exhibit petty human characteristics such as jealousy, caprice or anger.
The true God does not need or desire to be worshipped or to receive offerings, and is most certainly not influenced by flattery or praise.
The true God is neither demanding, vengeful or vindictive, and does not rule the Universe from high places as if He/She were a monarchy with the human race as subjects, casting down judgements and punishments at will for perceived transgressions. We are all "God", and God never punishes Him/Herself because it is through us, as expressions of God, that God continues to evolve through our individuated experiences however "good", "evil" or indifferent they might be.
The true God does not punish people for failing to believe in Him/Her, for failing to attend a church or failing to accept "Jesus" as their "saviour".
This same true God does not in any way require intermediaries or "go betweens" to be positioned in the physical world between Him/Herself and "common man" in order to interpret, represent and convey the "will" of God. No such intermediary has, has ever had or ever can or will have the ear of God, or indeed possess any other sort of special connections or relationship with God.
No such self-appointed representative of God can possibly know "God's will" or accordingly convey such "will" to the people, and neither can such intermediaries convey the wishes of the people back to God. As aspects of God, in the Mind of God, God already knows our every wish, need and desire the very moment we think it.
Above all God is neither separate from the Universe or from anyone or anything within the Universe. God is at once Omnipotent, Omniscient and Omnipresent; every human being, all life and everything within the entire Universe has its being within the infinite Mind of God, and God is within every human being, all life and everything in the entire Universe.
Everyone is a totally equal and integral aspect of God, the Supreme Universal Consciousness, The Source, The Prime Creator, The First Cause, Who in turn is the same absolute, total and complete perfection every single human being is striving to achieve during the course of the journey of evolution along the Divine path back to God from whence we all originated, of Whom we are all an integral and equal aspect and to Whom we are all destined to return.
Everyone without exception is the master of their own destiny. We all create our own realities and we are all always governed by the very same immutable Universal laws existing to maintain the perfect order of the glories, splendours and magnificence of the multi-dimensional Universe of Consciousness in which we have our being. The true God ultimately sustains everything in creation with the most powerful force, vibration, Energy of all within the Universe, in all spheres of life and reality; Pure Unconditional Love
Finally, even religions symbolically recognise the great truth that we are all as one and are all inseparable aspects of God:
Christianity: "The kingdom of heaven is within you"
Islam: "Those who know themselves know their God"
Buddhism: "Look within, thou art Buddha"
Vedanta, part of Hinduism: "Atman and Brahman are one"
Note: Atman is individual consciousness, the Microcosm and Brahman is Universal consciousness, the Macrocosm
Upanishads, part of Hinduism: "By understanding the self, all this Universe is known"
Yoga, part of Hinduism: "God dwells within you as you"
Confucianism: "Heaven, earth and human are of one body"
And finally a quote from the Christian bible which highlights this truth very well: "On that day, you will know that I am in my Father, and you in me, and I in you" -- John 14:20"
Read more...
Friday, January 30, 2009
Menelusuri Kisah Adam dan Tulang Rusuknya, Hawa.
Salah satu kisah paling tua yang pernah dikenal oleh peradaban manusia sampai sekarang ini adalah kisah tentang penciptaan manusia (pria) pertama yang disebutkan bernama Adam dan manusia (wanita) pertama yang disebutkan bernama Hawa, yang disebutkan juga diciptakan dari tulang rusuk Adam sendiri.
Kisah itu sendiri berakar dari informasi yang diabadikan pada kitab-kitab suci agama-agama Ibrahim (Yudaisme, Kristiani, dan Islam) yang merupakan sumber ajaran dengan muara pada satu garis keturunan yang sama secara genetis, dan dengan seiring perkembangan agama-agama tersebut menjadi agama dengan pemeluknya yang terbesar di dunia, kisah adam dan hawa itu sendiri makin mendunia karena masing-masing agama terus mengulang kisah tersebut dalam kitab-kitabnya masing-masing.
Secara Kronologis sumber ajaran yang dianggap sebagai saudara “tua” dari agama-agama Ibrahim adalah Yudaisme, dengan kitab yang dianggap paling tua yang dikenal manusia, yaitu Genesis, disitulah kita akan memulai pencarian kita, tepatnya di bab ke-enam, dimana kita akan menemukan paparan sebagai berikut :
“The sons of God saw the daughters of man, and that they were good; and they took them for wives, all of which they chose...” (Anak-Anak lelaki Tuhan melihat anak perempuan manusia, dan bahwa anak-anak perempuan manusia itu indah; dan mereka mengambil anak-anak perempuan itu sebagai istri, semua dari yang mereka pilih...)
The Nefilim were upon the earth in those days, and thereafter also, when the sons of the gods cohabited with the daughters of Adam, and they bore children unto them. They were the might ones of eternity - the people of the shem” (Nefilim pada masa itu hidup dibumi dan masa sesudahnya juga, ketika anak-anak lelaki Tuhan hidup bersama dengan anak-anak perempuan dari Adam, dan mereka memperoleh keturunan sesudahnya. Para Nefilim itulah makhluk yang perkasa dari keabadian – makhluk dari Shem).
Jika kita memeriksa Injil modern sekarang ini kita akan menemukan bahwa paparan asli dari kitab Genesis itu telah direduksi menjadi hanya..”There were giants upon the Earth” (Tersebutlah raksasa-raksasa di muka bumi) sedangkan beberapa terjemahan lain tetap mencantumkan istilah “Nefilim” pada terjemahan yang mereka buat.
Istilah (N.F.L) yang berakar dari kata di bahasa Yahudi dalam kata Nefilim secara literatur berarti “Yang dikirim turun kesini” namun untuk mendapatkan informasi lebih detil tentang Nefilim dan asal mula keberadaan mereka kita harus kembali lebih kebelakang lagi dari kitab Genesis, ke masa yang kita semua kemungkinan besar tidak pernah mendengar atau membacanya di sekolah ataupun dimanapun juga.
Kebenaran tentang Nefilim sudah terungkap dalam beberapa tahun terakhir, walau belum menjadi pengetahuan umum. Diawal abad ini para arkeolog membongkar dan menggali tumbukan puing dan reruntuhan disebuat lokasi yang disebut dengan Nippur dimasa kuno dulu, lokasi yang sekarang berada di wilayah Irak. Ketika mereka menggali lebih dalam lagi, mencari batu-batu artifak, mereka menemukan sejumlah besar kepingan tanah liat yang terlihat seperti pecahan tembikar dengan hiasan dan design yang terdiri dari garis-garis lurus pendek.
Seperti halnya penemuan Rosetta Stone yang mengandung tulisan hieroglyphs Mesir dan Yunani Kuno, pecahan tembikar di Nippur menggoncangkan dunia arkeologi karena mengandung tulisan Mesopotamia kuno, ketika itulah para arkeolog menyadari bahwa pecahan tembikar di Nippur bukanlah berasal dari sekedar hiasan tanah liat, tapi merupakan bagian dari sebuah perpustakaan besar yang ditulis diatas lempengan tanah liat dalam bahasa yang paling kuno yang pernah dikenal manusia.
Menterjemahkan tulisan yang terlihat seperti garis-garis aneh memang tidak mudah, tapi ketekunan para arkeolog pada akhirnya membuahkan hasil dan mereka mendapatkan kejutan besar mereka yang kedua. Lempengan tanah liat yang disebut “cuneifom” dalam bahasa kuno Mesopotamia ini, menceritakan bahwa perpustakaan tersebut sangat tua dan merupakan koleksi dari raja Mesopotamia, Ashurbanipal yang hidup sekitar 3000 tahun yang lalu. Dalam salah satu lempengan tersebut Ashurbanipal mengatakan bahwa ia dapat membaca beberapa tulisan yang dianggap “kuno” pada masa ia hidup, termasuk tulisan-tulisan sebelum datangnya air bah atau banjir besar di dunia. Jika kita terkejut mendengar kesamaan kisah tersebut dengan kisah dalam injil dan Genesis, mari kita lihat apalagi informasi yang terungkap oleh guratan-guratan pada lempengan tanah liat raja Ashurbanipal, 3000 tahun yang lalu.
Raja Ashurbanipal mengumpulkan dan menterjemahkan berbagai literatur “sangat kuno” dengan upayanya sendiri. Seberapa jauh kebelakang kita harus menembus waktu untuk sebuah masa yang disebut “sangat kuno” oleh seorang raja yang hidup 3000 tahun yang lalu? Perkiraan yang paling konservatif menyebutkan masa sekitar 10.000 tahun yang lalu, karena literatur tersebut terlihat dibuat dalam untaian kalimat berirama untuk memudahkannya diingat, dapat dikatakan perpustakaan raja Ashurbanipal tersebut mengungkapkan sudut pandang unik akan sejarah manusia. Namun perpustakaan tersebut punya banyak kejutan bagi kita.
Selama ribuan tahun, mungkin sekitar 5000 tahun yang lalu, ada kepercayaan yang dominan dan dipegang erat, sesuatu yang mirip dengan yang kita kenal sebagai “Agama” sekarang ini. Di masa kuno tersebut agama dan kebudayaan tak bisa dipisahkan, identik. Pemimpin dan penguasa manusia ketika itu adalah mereka-mereka yang digambarkan mempunyai kedekatan dan interaksi dengan para Dewa, yang secara kolektif disebut Annunaki.
Kosa kata bahasa kuno Mesopotamia dan artinya yang terus bertambah seiring dengan penterjemahan tumpukan besar lempengan-lempengan di Nippur memberikan kita petunjuk akan sesuatu yang luar biasa. Ternyata para Dewa “kuno” ini mengambil sebutan mereka dari kata “Annu” yang mempunya arti mirip dengan Surga, dan “Ki” yang artinya mirip dengan “bumi”, jadi secara literatur Annunaki berarti “Mereka yang datang dari Surga ke Bumi”.
Sejumlah besar puisi, cerita dan catatan sejarah yang diabadikan diatas lempengan Nippur menceritakan kepada kita sejarah yang sangat jelas, tanpa simbolisme dan metafor yang sering ditemukan di karya tulis kuno. Tapi, anehnya proses penterjemahan lempengan Nippur dilakukan dengan sangat “low profile” dan tertutup. Bahkan sekarang ini, jika kita menyebut “kebudayaan kuno” selalu Mesir dan bukan Mesopotamia kuno yang mendapatkan rujukan. Kekayaan detil dan kisah yang bertalian secara selaras dan tidak bertentangan yang terungkap dari lempengan di Nippur tidak diragukan lagi adalah penemuan arkeologi paling penting yang pernah ada, namun tetap saja hal ini berhasil dikubur dan disembunyikan dari pengetahuan publik. Kenapa?
Inilah yang tidak pernah diberitahukan kepada publik. Sekumpulan lempengan dengan sebuah informasi tertentu yang disebut Enumma Elish, dari perpustakaan kuno di Nippur menggambarkan formasi dari tata surya kita, di masa yang sangat berbeda dengan hari ini tentu saja. Dalam sistem tata surya yang diabadikan dalam lempengan tersebut terdapat bumi kita (yang disebut dengan Tiamut), juga bulan, dan planet-planet tetangga kita. Dalam lempengan itu juga dikatakan bahwa sebuah planet yang bergerak liar melintas ke dalam tata surya, dan mengacaukan medan gravitasi dan mengakibatkan salah satu planet dalam tata surya itu hancur berkeping-keping membentuk sabuk asteroid, dan planet “pendatang” itu terlempar keluar dan membentuk lintasan elips terhadap matahari dengan lama orbit mengelilingi matahari sekitar 3600 tahun sekali.
Korelasi Enumma Elish dengan sebuah dokumen lain yang disebut Atra Hasis, mengungkapkan sebuah informasi yang paling mengejutkan. Teks dalam Atra Hasis mengungkapkan bahwa Annunaki berasal dari planet pendatang di tata surya kita tersebut, planet yang sekarang mengorbit matahari dengan lintasan berbentuk elips setiap 3600 tahun sekali, planet yang disebut dengan nama Nibiru.
Planet Nibiru digambarkan mengalami semacam kondisi penurunan kondisi atmosfir planet dan kemudian mengirimkan sebuah tim ekplorasi ke bumi untuk mencari mineral tertentu, logam lebih tepatnya yaitu emas. Logam tersebut di tambang oleh sebuah ras yang disebut “Igigi” yang merupakan bentuk primitif dari ras Annunaki tersebut. Dalam Atra Hasis, Igigi dikatakan mengeluh kepada Annunaki atas kesulitan dan kelelahan yang mereka alami dalam menjalankan tugas penambangan yang sangat menuntut kerja fisikal.
When the gods instead of man (Ketika para Dewa dan bukannya manusia)
Did the work, bore the loads, (melakukan pekerjaan, menanggung beban)
The gods' load was too great, (beban para Dewa terlalu besar)
The work too hard, the trouble too much, (pekerjaan itu terlalu berat, kesulitannya terlalu banyak)
The great Anunnaki made the Igigi (Annunaki yang perkasa menciptakan Igigi)
Carry the workload sevenfold. (Meneruskan beban pekerjaan tujuh kali lipat)
Ketika para Igigi meminta pembebasan atau keringanan atas tugas yang diberikan pada mereka kepada pemimpin dari tim eksplorasi yang datang ke bumi, yaitu An (figur seorang ayah dan pemimpin tertinggi) maka An mengadakan rapat khusus dengan kedua anaknya yaitu Enki dan Enlil. Dalam teks Atra Hasis disebutkan bahwa saat itu terjadi ketegangan dan nampaknya pemberontakan oleh Igigi sangat mungkin bisa terjadi, namun Enki mempunya usul yang brilian.
Why are we blaming them? (Mengapa kita menyalahkan mereka, Igigi?)
Their work was too hard, their trouble was too much. (Pekerjaan mereka sangat berat, kesulitan mereka sangat banyak)
Every day the earth resounded. (Setiap hari bumi menjerit)
The warning signal was loud enough, we kept hearing them.(Tanda peringatan cukup keras, kita terus mendengarnya)
There is [.-pieces missing- ] (Ada sesuatu...-bagian tembikar hilang-)
Ninhursag the womb-goddess is present (Ninhursag, sang dewi-rahim ada disini)
Let her create a mortal man (Biarkan ia menciptakan makhluk yang tak-abadi, seorang manusia)
So that he may bear the yoke (Sehingga manusia itu dapat membawa bajak)
So that he may bear the yoke, the work of Enlil, (sehingga manusia itu dapat membawa bajak, pekerjaan Enlil)
Let man bear the load of the gods! (Biarkan manusia yang membawa beban dari para Dewa)
[.-pieces missing-.] (bagian tembikar hilang)
Belet-ili the womb-goddess is present, (Belet-ili dewi-rahim ada disini)
Let the womb-goddess create offspring, (Biarkan dewi rahim menciptakan keturunan)
And let man bear the load of the gods!" (Dan biarkan manusia menanggung beban dari para Dewa)
Kisah dalam Atra Hasis berlanjut dengan Annunaki bergender wanita, Ninhursag menciptakan spesies peranakan silang dengan “merekayasa” genetik dari Annunaki dengan “binatang buas” bumi, yang tak lain sebenarnya adalah “manusia primitif” atau yg kita kenal sekarang ini dengan istilah homo erectus.
Annunaki kemudian memiliki pekerja yang secara intelektual mampu mengerjakan pekerjaan kasar menambang mineral dan logam bagi Annunaki. Dengan segera prototipe manusia ini ( yang disebut A-dam berarti sesuatu seperti “duplikasi” ditambah “manusia”) dimodifikasi terus untuk menyesuaikan dengan tugas-tugas tertentu yang akan diembankan kepadanya, termasuk didalamnya versi “manusia” dengan spesifikasi yang berbeda dengan ukuran yang lebih kecil dan fitur dan kemampuan yang lebih “lembut” dan “halus” yang kemudian digunakan oleh Annunaki sebagai pembantu rumah.
Teks Atra Hasis menjelaskan lebih lanjut bahwa, versi manusia yang “halus” dan “lembut” (sangat mungkin diperoleh dengan menyilangkan genetik wanita Annunaki dengan genetik manuasia primitif bergender wanita) itulah yang mendekati dan menyerupai ras Annunaki itu sendiri, tak heran para Annunaki kemudian “tertarik” dan mengambil mereka menjadi istri. Dan para Annunaki itulah, yang disebut dengan “Raksasa di muka bumi” seperti yang diabadikan dalam kitab Genesis.
Kitab Genesis lebih lanjut lagi memberikan petunjuk tentang epos awal ini. Ninhursag, yang menciptakan “manusia berkecerdasan” dirayakan dan diagungkan oleh Annunaki, ia diberikan gelar “Nin-Ti” or Lady of Life (Ibu Kehidupan), dan karena bahasa Yahudi kuno memiliki arti berganda untuk kata “Ti”, yang berati “Rusuk” sekaligus juga “Kehidupan”, akibatnya kisah penciptaan Hawa, versi wanita dari “manusia berkecerdasan” pertama, menghasilkan kisah yang berbeda dari naskah “asli” nya, yaitu bahwa wanita pertama diciptakan dari tulang rusuk Adam, dan kisah itu tetap diulang dalam kitab-kitab selanjutnya setelah Genesis sampai ke masa modern sekarang ini. Read more...
Wednesday, January 21, 2009
December 21, 2012 - are you ready?
The simultaneous polar reversal in earth and sun will throw the solar system out of whack. That will cause massive upheaval in the earth. At that point of time, the extraterrestrials will officially show up and put “cosmic seat belts” around us as they apply the superpower of the Hyperspace to bring the solar system back to what it is today.
This has happened before. The extraterrestrials take care of the earth and the solar system whenever the solar system faces challenges like that.
According to scientists and technologists something strange is happening behind the scene. The terrestrial and solar polar reversal peaks are coming within three weeks of that day, December 21, 2012. Innumerable UFOs are scouting our skies regularly and increasing as we approach that day. The tectonic plate shifts, underwater volcanoes, earthquakes, landslides and Tsunamis are increasing at rates never seen before. The solar flares are increasing. The earth’s magnetosphere and ionosphere are experiencing strange disturbances. The numbers of typhoons and cyclones have increased many folds. The number of floods and droughts has increased beyond imaginations in the last ten years. Scientists who look beyond conventional science point out that that the Hyperspace that contain our Universe is also showing signs that something strange is happening in our universe. The multidimensional time research is showing that a parallel universe may be predicting strange effects.
The Maya prediction of a cataclysmic end to the world as we know it is near. Secret preparations are being made in many countries for the governments to come out clean what they have been hiding for decades ? the existence of unexplained advanced extraterrestrial UFOs.
Brazil, India and China are taking the lead in this matter. They want to make sure the emerging new world understands that we have to coexist with our advanced extraterrestrial neighbors.
Negotiations are on with future manned travel to Moon, Mars and so on. There was a reason why Russia and America stopped lunar missions. There was reason why no one dared to travel to Mars on manned mission. There are reasons why the pictures from Apollo mission in Moon look fictitious. Apollo mission was real but it was an eye opener to the space agencies. The extraterrestrials were already in Moon to greet us.
In December 21, 2012 something will change. The world will secretly use the help of the extraterrestrials to avert massive disaster for out civilization. The major Governments may not be able to keep the facts the under the rug any more.
The question remained, is not whether the governments are ready or not but rather, are we ready ?
Read more...
Wednesday, January 14, 2009
Kenapa manusia makan ? nggak makan pun bisa...
Ngomongin manusia dan apa yang dimakan manusia, mau tidak mau akan membawa kita untuk memikirkan desain penciptaan dari yang namanya manusia dan alam semesta.
Hidup adalah tentang perjalanan panjang Evolusi kesadaran diri dari densitas kesadaran yang terendah, densitas elementer (Earth-wind-fire-water) naik ke densitas flora dan fauna, kemudian naik lagi ke densitas Self Counsciouss dimana Manusia menemukan realitas fisiknya (disini mulai tumbuh keinginan atau free will) pada waktunya seiring dengan makin tingginya kesadaran manusia, ia akan naik ke densitas yang lebih tinggi lagi, dimana realitas fisikal mulai kehilangan existansinya dan kita akan masuk ke densitas yang kita sebut saja meta-fisikal atau spiritual, disini kesadaran akan mengarah dari kesadaran diri menjadi kesadaran kolektif, dan kalau kita naik terus ke densitas kesadaran yang lebih tinggi kesadaran "aku" akan melebur ke dalam kesadaran Universal dimana hanya ada satu Identitas...
Lalu ngaruhnya apa ama soal makan-memakan ini?
Simple aja, manusia makan menurut tingkat kesadarannya masing-masing, dan nggak ada yang salah dengan ini, everyone is perfect in their own way...
Dalam survival mode, manusia makan apa saja (sehingga dulu kita diajaran bahwa manusia itu omnivora / pemakan segala) semuanya di hamtam, nggak kenal pantes nggak, hala-haram..pokoke asal perut laper, semua sikat...
Namun ketika kesadaran diri makin tinggi dan interaksi sosial makin intens, manusia mulai memperhatikan pola makannya, disini berbagai ajaran hidup mulai mengajarka memilih makanannya, contoh dalam Islam, ada patokan Halalan Toyyiban, makanlah segala yang halal dan baik, dan makanlah sebelum lapar lalu berhenti sebelum kenyang...
Ketika kesadaran spiritual makin tinggi, makan tidak lagi cukup sekedar halal atau baik, orang yang spiritualnya peka, akan risih jika harus makan yang getaran energinya rendah (segala macam daging), itulah kenapa buddha mengajarkan pantang daging, dalam Islam, Muhammad melihat bahwa masyarakat Arab ketika itu sangat sulit untuk menghindari daging (ingat di gurun pasir lebih mudah piara binatang ketimbang menanam buah atau sayuran) untuk itu secara bijaksana Ia mencari jalan tengah, yaitu dengan mengajarkan makan sekedarnya dan puasa secara rutin...untuk detoksifikasi energi negatif yang dikonsumsi, cara memotong hewan pun dimaksimalkan agar menghasilkan sedikit mungkin energi negatif...
Apakah jika kesadaran spiritualnya makin tinggi kita tidak perlu lagi makan ? dalam artian fisikal ya, tapi dalam arti "makanan spiritual" tidak, dalam densitas yang lebih tinggi makanan yang dikonsumsi tidak lagi harus berupa "fisik", karena esensi dari semua ini adalah Energi, maka sebagai Makhluk yang berupa Energi makanannya pun Energi pula, dan energi ini disupply oleh Creator lewat emanasi Energi Cintanya yang infinite dan unconditional...
Tapi itu cerita lain, sebenarnya sekarang pun ada manusia yang mempraktekkan hidup tanpa makan, hanya bergantung dari energi cinta sang pencipta yang dalam manifestasinya berupa energi matahari...
Coba simak referensi berikut ini :
****
Human Photosynthesis - back to our origins?
An interview with Hira Ratan Manek by Miriam Knight
Hira Ratan Manek was born in 1937 and grew up in Kerala, India, getting his Mechanical Engineering degree from the University of Kerala. After graduation, he joined the family business, which was shipping and spice trading, and continued working there until he retired in 1992. After he retired, he began to study sun gazing, particularly the teachings of Lord Mahavir of the Jains, who practiced this method two thousand six hundred years ago. Since June 1995 HRM has lived on sun energy, water and the occasional cup of tea or buttermilk "for social purposes."
MK: Hira, you stopped eating solid food in 1995 and have baffled the doctors and scientists who have studied you during water fasts of 211 and 411 days. How do you manage it?
HRM: This is an ancient practice based on logic and modern biological science that relys on water and sunlight for energy. This is really photosynthesis taking place in the human body.
MK: Do you feel that we all have the latent ability to do this?
HRM: Everyone…each and every human being! In his autobiography, Yogananda mentions a few people living on sun energy, like Teresa Neumann and Giri Bala, who survived for over 50 years without food or liquid on sun energy alone. Giri Bala would not disclose the technique because she said the world was not ready for it. The humble work that I have done is to study others and disclose these ancient practices. I have not discovered anything.
MK: Why is it that we no longer do it?
HRM: There was a communication gap in the last thousands of years. I don't claim discovery of this practice – only revival. All cultures in the past had this practice. In India it is called suryanamaskar; in Egypt it was the worship of the sun god Ra, and they had pyramids to harness the sun energy; Native Americans had the sungazing dances; Peru had the sun temples like Macchu Picchu; Brazilian and Mexican people had sun god worship. When we say sun worship it is because of the communication gap about how they made use of the sun in olden days. Human beings are so intelligent, that they will not worship anyone unless there is some benefit! They knew how to make use of the sun in their day to day life.
MK: You say this is coming back now because the world needs it.
HRM: Yes, people are fed up with modern medicines to cure their illnesses.
MK: Is it an all or nothing thing or are there increasing benefits from increasing exposure to the sun?
HRM: Yes, there are three divisions. First comes the mental health that you get with three months of gazing at the sun. You must start slowly with 10 seconds and work up to, say, 15 minutes a day, but only within the first hour after sunrise or before sunset. For children you limit it to 5 minutes. You don't have to give up food, just reduce the quantities. And the best health drink is solarized water – leave it in the sun in glass jars. It is even better if you put gemstones in it.
If you do this for six months you get physical health. If you go for nine months, then you get spiritual health also. It is your choice.
What we are scared about nowadays is the ultraviolet effect of sunlight. Modern science has misguided us by referring to UV light at midday. But sunlight doesn't always have the bad ultraviolet. It has been proved that during the first hour after sunrise or before sunset in any part of the world and at any time of the year, there is zero UV.
MK: What happens if you live in a part of the country like Portland where we get a lot of rainy or cloudy days?
HRM: In such a case your success may be delayed, but it will still come. If you are in a tropical country, you make your body a solar chip within two years. Here it may take four years. In the correct hours you can gaze at where the sun should be through the clouds, or later when it comes out you can gaze through a glass window so that the ultraviolet is filtered out to some extent, and you will get some benefit. Success is guaranteed.
MK: What do you mean by mental health?
HRM: Ah, mental health. That is a very big, serious subject the world is facing. We all lack balance of mind and that is why we make blunders. With perfect balance of mind you will start thinking in a positive way – negative thoughts go away. You are full of self-confidence and become fearless in life.
MK: Why does the light bring that kind of effect?
HRM: Because from birth we have infinite powers. Our brain is a supercomputer. We are moving into an age where computers will be a thing of the past. We will be using our "brainuter!" The power we enjoy from birth is the software of this computer. Then our thinking process is the combination of the keyboard and the mouse. Now what this computer lacks is the power supply, and the power supply is the sun energy. After all we know that this generates electricity. This light can enter the brain only through the human eye. The eye is connected directly to the brain – that is a medical fact.
MK: So absorption through the skin isn't relevant?
HRM: It has only a temporary effect. Light needs to be thrown on the eyes to energize the brain, if you want permanency. You see in your region [Pacific NW] how people get the winter blues or seasonal affective disorder without sunlight.
MK: Does that mean that when we go out of mental or emotional balance, our batteries are running low?
HRM: Yes definitely. Our cells need recharging, and they can be recharged like a battery. I am sorry when I hear people are treating these emotional imbalances with antidepressants instead of sunlight.
You need to make your body like a solar chip. Once you do that, and it takes about two years, you can stay in darkness for a while and nothing bad will happen.
MK: Can artificial sunlight, like full spectrum bulbs achieve the same thing?
HRM: Artificial sunlight doesn't have the photons that natural sunlight has. We can never compete with nature.
This practice is very apt for the United States, where obesity is the greatest terror. The best thing for obesity is walking barefoot by the sea on dry, warm sand for 45 minutes in the evening hours and also gazing at the sun. This activates all the 5 main glands through acupressure points. If obesity is not cured you will have very big problems. But people cannot fast and control hunger by themselves.
With sun gazing you are not fasting, because hunger disappears.
Even medical men agree that the body requires only energy, not food.
When we eat plants, we convert food into energy, but it is a secondary source of sun energy. That is why the raw food people say not to cook, because the sun energy will be lost. The energy in non-vegetarian food is even more degraded.
MK: What other effects does sunlight have on health?
HRM: Your body has the mechanism to absorb sunlight directly to the brain and stimulate five important glands. The pineal gland, what we call the third eye, used to be considered useless by medical science.
But it has been scientifically demonstrated, with before and after MRIs, that as the pineal gets activated, more and more neurons regenerate in the brain.
MK: So could this have implications for treating Alzheimers and Parkinsons?
HRM: Definitely! I have a group where the people are getting cured from depression, Alzheimers, Parkinsons - all those things. I had a gentleman who was in a wheelchair. He took only sunbaths for one year and now he is totally OK. Medical science has said that neurons do not regenerate, but they do; and when they regenerate your aging process slows down, your life span increases, also memory and intelligence become superb.
Your body has auto-repair and auto-healing abilities. If your mind thinks that you are improving, you do, but we are negative towards ourselves.
MK: Tell me about the development of the spiritual side after a year of this practice.
HRM: Yes, that is the best thing. Why are we backward in spiritualism?
Because we lack mental health and spiritual balance. We have so many desires, desires... They are killing our physical system and disturbing our peace and world peace.
When you are in perfect balance, positive and fearless, you will not harm other people. What is sin, after all but harming others? When there is no sin, you are in the spiritual kingdom; the best things will come to you automatically. It is simple – don't harm others.
MK: What is the vision that drives you to lecture all around the world?
HRM: Global healing and peace everywhere. There will be no energy crisis because sun energy will never end; no pollution because sun energy never produces pollutants; no obesity and no hunger; no aids and no cancer. All will be mentally, physically and spiritually fit.
Yes, we are moving towards the golden age of satyayuga from the present kaliyuga – from bad to eternal good.
Anybody with questions, doubts or difficulties in understanding is welcome to write to HRM at hiraratanmanek@yahoo.com, or go to his
website: www.solarhealing.com Read more...
Wednesday, January 7, 2009
Creation or Evolution?
Life is hard. Species can die. In fact, the human race would have died long ago if it weren’t for the fact that our bodies are designed to adapt to a constantly changing environment.
Evolution could be called adaption, because the ability to adapt is the one feature that keeps all life upon Earth alive and functioning. In the laboratory, it has been noted that a frog can be heated in a beaker of water to a degree that would normally be fatal, but it remains alive because it has had the time to adapt to the increasing temperature. Had the frog been suddenly exposed water of such high temperature, it would have been unable to survive.
Charles Darwin, the pioneer of evolution theory, was a trained minister of religion as well as a naturalist. He thought long and hard about releasing his findings about the natural evolution of the species because he was keenly aware of the materialistic element in society which would use this information against religion. He was right, of course.
Others used his work to claim that there was no need for divine selection when natural selection occurs automatically.
They have since gone on to claim that all life could have risen from prehistoric sludge completely by accident. What they don’t even begin to explain, however, is the existence of consciousness in all of this.
Consciousness is necessary for natural selection and adaption to occur. If you move from a hot climate to a cold climate, you will adapt to the new environment, but first you had to have the consciousness to decide upon the move.
What is consciousness? It is certainly more than a few electrical signals bouncing around inside a brain.
Computers can mimic some limited aspects of the brain such as human logic, but they are not self-aware.
There isn’t a computer in the world that can think for itself. Computers just follow sets of preset rules, and they do so as quickly as possible.
Beneath all forms of consciousness is awareness. A sense of being is fundamental to all life because all life is constructed from consciousness. Even a solid object like a rock is composed of original thought and original feeling set into motion. All of life is contained within the consciousness of the original Creator, including the prehistoric sludge from which the first biological cells were formed.
Materialistic science today is in a cul-de-sac.
There is no way forward for branches of science which fail to include consciousness in their theories.
Consciousness is the most fundamental aspect of life.
You can’t have a universe without it.
Human beings were originally designed and then evolved within the framework of a conscious universe, one created and developed by the original Creator. It took billions of years for planets to form and biological life to emerge and evolve, but remember this.
Time is a creation of the Creator. The Creator does not have to wait billions of years to see a biological process emerge.
Everything happens in the now, just in different parts of the tapestry of time, which the Creator sees as a whole.
The whole design, inception, development and evolution of the universe are happening right now, within that overview, as seen by the original Creator. A little tweak here and there along the timeline can produce a perfect rendition of any form of biological life. Life is too interesting to create in one big bang and then just watch it unfold, as if on auto-pilot.
Life is a work in progress, a true work of art, and the Creator has the ability to make adjustments at any point along the timelines.
Science today searches for answers, but what it really needs is a valid search path. Life did not begin by accident.
It began by design. Those branches of science which include the presence of consciousness will find the answers that they seek when they include the existence of original consciousness and intelligent design in their search.
Read more...
Tuesday, January 6, 2009
Selamat Tahun Baru 2009
Walau mungkin sedikit "telat" dikarenakan kesibukan saya, saya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2009, semoga kita semua mendapatkan apa yang kita cita-citakan dan selalu dalam lindungan kasih dan sayang-Nya.
Berbicara tentang pergantian tahun, itu artinya kita berbicara siklus benda-benda langit, termasuk planet tempat kita tinggal, bumi yang merupakan "dasar" penanda akan "satuan" waktu bagi kita.
Satu tahun ditandai dengan satu rotasi penuh bumi mengelilingi matahari. Jika rata-rata umur manusia adalah 70 tahun maka, artinya manusia itu rata-rata hidup selama rentang waktu yang ditempuh bumi untuk 70 kali mengelilingi matahari.
Mungkin rentang waktu itu bagi kita sudah "cukup lama" namun jika dibandingkan dengan kosmos waktu kita dibumi itu ibarat sekejap mata. Sebagai perbandingan, jika kita berada di Jupiter selama 1 kali orbitnya mengelilingi matahari (1 tahun jupiter) maka itu tandanya bumi sudah 12 kali mengelilingi matahari alias 12 tahun sudah berlalu dibumi.
Bandingkan juga dengan Uranus yang memerlukan rentang waktu sama dengan 84 kali bumi mengelilingi matahari untuk menyelesaikan putaran orbitalnya mengelilingi matahari, belum lagi kalau kita melihat pluto yang memerlukan 284 tahun bumi untuk menyelesaikan satu putaran orbitalnya mengelilingi matahari.
Dan tahukah kita jika matahari kita yang kita jadikan "pusat" kehidupan pun mengitari "pusat" yang lebih besar lagi..yaitu pusat galaksi bima sakti, matahari kita mengorbit "matahari-nya" galaksi bima sakti dengan kecepatan 250 km per detik...itupun matahari kita (dan tata surya kita termasuk bumi tentunya) memerlukan waktu 230 juta tahun untuk mengorbit "matahari-nya" galaksi...
Waktu yang untuk ukuran bumi seperti sebuah ke-abadian, namun itupun dihadapan kosmos masih belum apa-apa, kini astronomers menemukan galaksi kita dan jutaan galaksi lainnya mengorbit sebuah pusat universe, tentunya dengan besaran waktu yang sulit kita persepsikan, apalagi kalau mengingat universe mempunya "saudara2" universe yg lain..membentuk satu super-universe...sampai sini saya kehabisan kata2 untuk mendeskripsikan besaran kosmos...tak terperi
Sungguh, dihadapan kosmos, lama waktu hidup kita tak lain hanyalah seperti mimpi...sekejap, sekilas, hampir tak berarti...itulah kenapa seorang bijak mengatakan...Life not counted by how many breath you take, but by dramatic moments that take your breathe away...:)
Selamat Tahun Baru 2009
Read more...
Berbicara tentang pergantian tahun, itu artinya kita berbicara siklus benda-benda langit, termasuk planet tempat kita tinggal, bumi yang merupakan "dasar" penanda akan "satuan" waktu bagi kita.
Satu tahun ditandai dengan satu rotasi penuh bumi mengelilingi matahari. Jika rata-rata umur manusia adalah 70 tahun maka, artinya manusia itu rata-rata hidup selama rentang waktu yang ditempuh bumi untuk 70 kali mengelilingi matahari.
Mungkin rentang waktu itu bagi kita sudah "cukup lama" namun jika dibandingkan dengan kosmos waktu kita dibumi itu ibarat sekejap mata. Sebagai perbandingan, jika kita berada di Jupiter selama 1 kali orbitnya mengelilingi matahari (1 tahun jupiter) maka itu tandanya bumi sudah 12 kali mengelilingi matahari alias 12 tahun sudah berlalu dibumi.
Bandingkan juga dengan Uranus yang memerlukan rentang waktu sama dengan 84 kali bumi mengelilingi matahari untuk menyelesaikan putaran orbitalnya mengelilingi matahari, belum lagi kalau kita melihat pluto yang memerlukan 284 tahun bumi untuk menyelesaikan satu putaran orbitalnya mengelilingi matahari.
Dan tahukah kita jika matahari kita yang kita jadikan "pusat" kehidupan pun mengitari "pusat" yang lebih besar lagi..yaitu pusat galaksi bima sakti, matahari kita mengorbit "matahari-nya" galaksi bima sakti dengan kecepatan 250 km per detik...itupun matahari kita (dan tata surya kita termasuk bumi tentunya) memerlukan waktu 230 juta tahun untuk mengorbit "matahari-nya" galaksi...
Waktu yang untuk ukuran bumi seperti sebuah ke-abadian, namun itupun dihadapan kosmos masih belum apa-apa, kini astronomers menemukan galaksi kita dan jutaan galaksi lainnya mengorbit sebuah pusat universe, tentunya dengan besaran waktu yang sulit kita persepsikan, apalagi kalau mengingat universe mempunya "saudara2" universe yg lain..membentuk satu super-universe...sampai sini saya kehabisan kata2 untuk mendeskripsikan besaran kosmos...tak terperi
Sungguh, dihadapan kosmos, lama waktu hidup kita tak lain hanyalah seperti mimpi...sekejap, sekilas, hampir tak berarti...itulah kenapa seorang bijak mengatakan...Life not counted by how many breath you take, but by dramatic moments that take your breathe away...:)
Selamat Tahun Baru 2009
Read more...
Tuesday, December 30, 2008
The “Change” Enigma – What Change actually?
We all know that the Earth is experiencing global warming, geological and other changes, such as social, political or financial, whether we like it or not. Just read the headlines.
What we may NOT know is the following:
SUN: The Sun’s magnetic field is over 230 percent stronger now than it was at the beginning of the 1900s, and its overall energetic activity has sizably increased, creating a frenzy of activity that continues to embarrass NASA’s official predictions.
VENUS: Venus is now glowing in the dark, as is Jupiter’s moon Io.
EARTH: In the last 30 years, Earth’s icecaps have thinned out by as much as 40 percent. Quite inexplicably, just since 1997 the structure of the Earth has shifted from being slightly more egg-shaped, or elongated at the poles, to more pumpkin-shaped, or flattened at the poles. No one at NASA has even bothered to try to explain this yet. http://www.gsfc.nasa.gov/topstory/20020801gravityfield.html
MARS: The icecaps of Mars noticeably melted just within one year, causing 50-percent changes in surface features. Atmospheric density had risen by 200 percent above previous observations as of 1997.
JUPITER: Jupiter has become so highly energized that it is now surrounded by a visibly glowing donut tube of energy in the path of the moon Io. The size of Jupiter’s magnetic field has more than doubled since 1992.
SATURN: Saturn’s polar regions have been noticeably brightening, and its magnetic field strength increasing.
URANUS: According to NASA’s Voyager II space probe, Uranus and Neptune both appear to have had recent magnetic pole shifts – 60 degrees for Uranus and 50 for Neptune.
NEPTUNE: Neptune has become 40 percent brighter in infrared since 1996, and is fully 100-percent brighter in certain areas. Also, Neptune’s moon Triton has had a “very large percentage increase” in atmospheric pressure and temperature, comparable to a 22-degree Fahrenheit increase on Earth.
PLUTO: As of September 2002, Pluto has experienced a 300-percent increase in its atmospheric pressure in the last 14 years, while also becoming noticeably darker in color.
Everything you have just read is referenced from mainstream media sources, The whole key to mass media control is to ensure that these facts are never seen all at the same time. It becomes “all too weird” once we add in the ever-increasingly stressful socio-political events on Earth, such as a “perpetual war against terrorism,” with the smirking Bush as Wild-West-Messiah-In-Chief playing “Bring ‘em On for Armageddon,” along with the fulfillment of many other ancient prophecies, including those of the Judeo-Christian Bible.
Energetic conditions are now being created in our Solar System that accelerate both physical and conscious processes at the same time. The physical processes,such as the “Earth changes” that are actually occurring throughout the entire Solar System, aren’t hard to see. They can easily be measured with our instruments and studied scientifically. We can and will nail down the cycles of time that drive these events, and how they work. The conscious processes that occur in the collective body of human thought can also be measured with the blunt movements of financial markets between the extremes of joy and fear, buying and selling – which will prove to be remarkably in tune with outside astrophysical factors. We will also see historical events that repeat themselves in remarkably similar fashions over certain cycles of time, such as 2160 years.
In addition, certain cycles perfectly connect physical and conscious processes together – such as finding an outside energetic cause that simultaneously creates massive earthquakes, explosions of nearby stars, collapsing of bloated empires, formation of new societies from the ashes, relatively exact increases in the size of the world’s population by a simple mathematical function, the development of new calendar systems for measuring time and the arrival of great spiritual teachers for humanity. This can be thought of as a spiraling energetic structure of time that is imploding into a point of “singularity” in our near future – a point of final spiritual transformation, if you will, the shedding of the old ways and the adaptation of the New Heaven and New Earth. Better yet, this cycle was found in a very ancient source, more than three thousand years before the birth of Jesus.
The conscious processes in our own lives are much more subtle, and that is where we firmly enter the arena of choice. We can either choose to move through the often-shattering experiences of love and trust, or shut them down in fear and hate to avoid any further (apparent) damage. We have every right to continue to be blind to the suffering of others, and focus only on our own needs, attempting to manipulate and control others for our own gain. However, if we make this choice, the energetic conditions that surround us at this time will make our lives harder and harder and harder. We get to learn by experience that we will keep getting smacked around until we surrender to love for others and for ourselves. Elaborate plans for an imperial “New World Order” will crumble into dust, the funding for these initiatives completely evaporated as a byproduct of these changes, as have all previous empires collapsed as each notch of this “imploding spiral of time” is reached. It feels like a form of spiritually-invoked abuse at first, but it is the simple byproduct of the law of cause and effect, once properly understood – and all is happening for a Divine purpose.
As these energetic conditions continue to increase, they will indeed reach a final “point of no return,” a moment of spontaneous quantum evolution, a process known as "Ascension" of the planet Earth to a new set of conditions, New Earth. As I said, this point ultimately does not matter, even though we do have a “smoking gun” that can nail it down to within about a two-year window. We have been told by sources such as The Law of One that if we have not done the work on ourselves that these current energetic conditions can produce, we will simply be transported to a new and different Earth to pick up where we left off once the “shift” happens.
If we do choose to shift, and cry, and grow, and love, we shall live to see the day when every tear that we have shed is an investment in the new being that we shall metamorphosize into, as the Earth completes its own conscious evolution. There are definite dividends to these investments, as what we will have is a world that will apparently be 100 times more harmonious than what we are living in now, with the abilities of the greatest masters at ourfingertips. There will still be plenty of work to do, but we will have crossed a major hurdle and will actually live in this “dream world.” For now, we can choose today to make shifts in ourselves that bring Heaven to Earth, and allow us to live in the glory, grace and trust that has been prepared for us since time immemorial, on the inevitable spiraling path back into Oneness.
Read more...
Thursday, December 25, 2008
Kisah Besar Tak-terceritakan Dibalik Perayaan 25 Desember
Pada hari ini tanggal 25 Desember 2008, seperti halnya “25 Desember” lain setiap tahunnya, dimulai sejak tahun 325 Masehi, dunia merayakan hari Natal hari yang diyakini sebagai tanggal lahirnya Yesus Kristus sang juru selamat. Namun, dibalik itu sesungguhnya ada kisah besar yang tidak diceritakan dibalik perayaan 25 Desember dan segala sesuatu diseputarnya, dan tulisan berikut ini akan bercerita tentang kisah tersebut.
Kisah ini dimulai dengan Matahari. Sebuah bintang di pinggir galaksi Bima Sakti dengan beberapa planet yang mengorbit mengitarinya merupakan obyek yang paling dikagumi, dipuja, disembah dan dieluk-elukan sepanjang sejarah manusia. Berbagai artifak arkeologis yang berasal dari puluhan ribu tahun sebelum Masehi penuh dengan berbagai ukiran, pahatan dan tulisan yang mengabadikan penghormatan dan pemujaan manusia kepada Matahari.
Hal tersebut mudah difahami karena dengan munculnya mentari setiap pagi, kita dapat melihat dengan cahayanya, kita dapat merasakan kehangatan sinarnya serta memberikan rasa aman dan menyelamatkan manusia dari gelap, dingin dan para pemangsa yang sering berkeliaran di malam hari.Tanpa kehadiran sang mentari, kebudayaan kuno menyadari bahwa benih tanaman tak dapat tumbuh dan kehidupan di muka bumi tidak akan dapat bertahan hidup.
Begitu dalamnya pemahaman mereka akan matahari, mereka juga mengikuti pergerakan matahari dan hubungannya dengan bintang-bintang sehingga mereka bisa menggunakannya untuk panduan arah dan petunjuk untuk mengantisipasi dan mengenali kejadian alam yang akan terjadi dimasa yang akan datang seperti datangnya gerhana, bulan purnama, musim kering ataupun musim salju hanya dengan mempelajari susunan bintang atau konstelasi benda langit.
Kumpulan berbagai rasi bintang inilah yang dikenal dengan zodiak, yang merupakan gambaran, konsep paling kuno yang dikenal dalam sejarah manusia. Penamaan sistem ini dengan Zodiak, berhubungan dengan proses personifikasi dari rasi-rasi bintang tersebut dengan figur tertentu seperti manusia atau binatang. Zodiak menggambarkan perjalanan “imajiner” dari sang matahari melewati 12 rasi bintang utama dalam periode waktu satu tahun rotasinya. Sistem zodiak ini juga merefleksikan 12 bulan setahun, 4 musim, titik balik matahari dan equinox, masa dimana waktu siang dan malam hari itu sama panjangnya.
Dengan kata lain, peradaban kuno tersebut tidak hanya mencatat pergerakan matahari dan bintang, namun juga mempersonifikasikannya melalui mitos menyangkut pergerakan dan hubungan antar benda-benda langit. Sang mentari, dengan karakternya sebagai pemberi dan pelestari kehidupan di muka bumi dipersonifikasikan sebagai perwakilan dari pencipta-tak-terlihat atau dewa atau Tuhan. Begitupun ke-12 rasi bintang yang mewakili “tempat” yang dilewati “Dewa Matahari” dan diidentifikasikan dengan nama-nama, biasanya menurut elemen dari alam yang menonjol pada waktu tertentu, misalnya Aquarius si pembawa-air yang merupakan pertanda mulainya hujan musim semi.
Pada jaman Mesir Kuno sekitar 3000 SM, kebudayaan mesir memuja dewa matahari yaitu Horus. Dari tulisan kuno mesir kita mengetahui bahwa Horus sebagai sang surya, sang cahaya mempunyai musuh yang dikenal dengan nama Set, dimana Set diceritakan sebagai sang kegelapan. Sehingga “ceritanya” adalah, tiap pagi Horus akan memenangkan pertempuran melawan Set, dan di malam harinya Set akan mengalahkan Horus untuk kemudian melemparkannya ke dunia-bawah, pendek kata cerita tipikal akan terang vs gelap dan baik vs jahat.
Secara ringkas cerita tentang “kehidupan” Horus adalah sebagai berikut: Horus lahir tanggal 25 Desember, dari seorang perawan (virgin) Isis-Meri. Kelahirannya dibarengi dengan kemunculan bintang di sebelah timur, dan 3 orang raja akan mengikuti bintang itu untuk menemukan lokasi si juru selamat yg baru dilahirkan itu. Pada umur 12 tahun Horus sudah menjadi guru, dan pada umur 30 dibaptis oleh seorang bijak bernama Anup untuk kemudian mendirikan dan menyebarkan ajarannya sendiri.
Horus mempunyai 12 orang murid yang menemaninya dalam perjalanan, melakukan berbagai keajaiban seperti mengobati orang yang sakit parah dan berjalan diatas air. Horus juga dikenal dengan berbagai nama julukan seperti, sang kebenaran, sang cahaya, anak pilihan Tuhan, sang penggembala dan banyak lagi yang lainnya, setelah dikhianati muridnya Typhon, Horus disalib dan dikubur selama 3 hari sebelum hidup kembali.
Karakteristik dan atribut dari Horus ini, entah itu asli atau tidak nampaknya meliputi hampir seluruh kebudayaan manusia di muka bumi, karena banyak “dewa” lainnya yang ditemukan di berbagai budaya di belahan dunia lainnya yang memiliki struktur mitologi umum yang sama.
Ribuan tahun yang lalu di wilayah yang sekarang merupakan wilayah Ankara, Turki, sebuah peradaban yang disebut Phyrigia mempunyai seorang Dewa bernama Attis,yang lahir dari perawan Nana pada tanggal 25 Desember, mati disalib, dikuburkan dan setelah 3 hari, hidup kembali.
Di India kuno, Dewa Krisna lahir dari perawan Devaki dengan bintang di timur yang menandai kedatangannya, melakukan banyak keajaiban dan menyusul kematiannya bangkit dari kuburnya untuk hidup kembali.
Di Yunani kuno, mereka memuja Dionysus, lahir dari seorang perawan pada 25 Desember, dan merupakan seorang guru yang melakukan perjalanan dan melakukan banyak keajaiban seperti mengubah air menjadi anggur, ia disebut dengan “Raja segala raja”, “Anak pilihan Tuhan”, “Awal dan Akhir” dan setelah kematiannya, bangkit hidup kembali.
Di Persia, ribuan tahun yang lalu mereka memuja Mithra, yang lahir dari seorang perawan pada 25 Desember, punya 12 pengikut, melakukan keajaiban, dan 3 hari setelah kematiannya hidup kembali, dikenal juga dengan berbagai sebutan yaitu “sang kebenaran”, “sang cahaya”, lebih menarik lagi hari suci untuk melakukan pemujaan dan penyembahan kepada Mithra adalah hari Minggu.
Kenyataan bahwa dunia ini memiliki banyak cerita tentang juru selamat dari berbagai tempat, pada berbagai periode waktu berbeda namun memiliki “kerangka cerita” yang sama, sangat mengejutkan. Namun satu pertanyaan besar tetap muncul, kenapa kerangka ceritanya harus spt itu? Kenapa harus lahir dari perawan pada 25 Desember? Kenapa harus mati 3 hari dulu baru hidup kembali, kenapa harus 12 pengikut? Untuk mengetahuinya mari kita pelajari “solar messiah” terbaru yang kita kenal di jaman modern ini.
Yesus sang kristus lahir dari perawan Mary pada 25 Desember di Bethelehem, kelahirannya ditandai oleh kemunculan bintag di langit timur, yang diikuti oleh 3 orang raja atau pendeta yang kemudian merayakan kelahiran sang juru selamat baru. Ia menjadi guru anak-anak pada usia 12 tahun, dan pada usia 30 tahun dibaptis oleh John si pembaptis untuk kemudian mulai menyebarkan ajarannya. Yesus mempunyai 12 murid yang menemani perjalanannya, dan melakukan berbagai keajaiban seperti menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati dan berjalan di ataas air. Yesus juga dikenal dengan sebutan “Raja para raja”, “Anak Tuhan”, “Sang cahaya dunia”, “sang awal dan akhir” juga berbagai nama julukan lainnya. Setelah dikhianati muridnya, Judas dan dijual seharga 30 uang perak, ia disalib, disemayamkan dalam sebuah makam dan setelah 3 hari bangkit hidup kembali untuk naik ke surga.
Pertama-tama yang harus kita sadari, prosesi kelahiran dari semua cerita tentang para juru selamat sepenuhnya merupakan fenomena astrologi. Bintang di langit timur adalah Sirius, bintang paling terang di langit malam, yang setiap tanggal 24 Desember akan segaris dengan 3 bintang paling terang di rasi bintang yang dikenal dengan nama “Sabuk Orion”. Ketiga bintang terang di rasi sabuk orion inilah yang oleh kebudayaan kuno disebut dengan “Tiga Raja”.
Posisi “Tiga Raja” dengan bintang Sirius ini pada 24 Desember malam akan membentuk garis yang menunjuk pada sebuah arah “dimana matahari akan terbit” pada 25 Desember pagi harinya. Itulah kenapa digambarkan bahwa “Tiga Raja” mengikuti “Bintang di Timur” untuk menemukan lokasi terbitnya matahari – Kelahiran sang Surya, sang Cahaya dunia.
Sang perawan Mary adalah rasi bintang Virgo—sang perawan, karena dalam bahasa latin virgo berarti perawan. Simbol untuk Virgo menurut budaya kuno adalah aksara “M” dengan sedikit gubahan, itulah kenapa muncul penamaan Mary yg bersama ibu-ibu perawan lainnya telah melahirkan berbagai juru selamat, seperti isis-Meri yg melahirkan Horus, atau Myrrha yang melahirkan Adonis, atau Maya yang melahirkan Buddha semua punya aksara “M” sebagai huruf depand dari nama mereka.
Virgo juga dikenal dengan “Rumah dimana roti dibuat” – House of Bread, dimana representasi dari Virgo adalahs seorang wanita membawa roti, dimana merupakan simbolisasi dari musim panen gandum pada bulan Agustus dan September. Pada kenyataannya kata Bethlehem yg merupakan nama yang diberikan pada sebuah kota di timur tengah jika diterjemahkan secara literatur adalah “House of Bread”, jadi bethelehem sebenarnya referensi budaya kuno untuk menunjukkan rasi bintang Virgo, sebuah tempat di langit dan bukan di bumi.
Masih ada fenomena menarik lainnya yang terjadi sekitar akhir desember dimana titik balik matahari pada musim dingin terjadi. Titik balik merupakan fenomena alam dimana bumi berada pada posisi sangat miring terhadap matahari, sehingga ada salah satu belahan bumi yang lebih condong kepada matahari dan belahan bumi lainnya lebih jauh dari matahari. Jadi selain berotasi pada porosnya, bumi juga mirang-miring terhadap garis lintasan orbitnya mengelilingi matahari, sehingga membuat belahan bumi di utara dan diselatan kadang mengalami siang hari yg lebih panjang dan malam hari pendek, atau sebaliknya siang hari lebih pendek dan malam hari panjang tergantung posisi kemiringan belahan bumi tersebut terhadap matahari.
Periode dari titik balik matahar di musim panas ke titik balik matahari di musim dingin membuat hari-hari menjadi lebih pendek dan bertambah dingin. Dari perspektif orang-orang di belahan bumi utara, sang surya akan terlihat bergerak ke arah utara, makin mengecil, makin jauh dan makin jarang terlihat. Memendeknya waktu siang hari dan berakhirnya masa tanam benih mendekati masa titik balik matahari di musim dingin, bagi kebudayaan kuno merupakan simbolisasi akan proses kematian. Kematian sang surya.
Pada 22 Desember, “kejatuhan” sang surya secara penuh akan tampak. Karena sang surya, setelah bergerak terus menerus ke arah selatan selama 6 bulan (akibat rotasi ditambah mirang-miringnya bumi terhadap mataharai) akan mencapai titik terendahnya yang dapat terlihat dilangit. Nah pada titik balik inilah terjadi hal yang menarik, matahari “berhenti” bergerak ke selatan, paling tidak “terlihat seakan-akan berhenti” selama 3 hari, dan selama masa “berhenti” ini matahari akan berada di dekat sekali dengan rasi bintang Salib Selatan.
Setelah masa tiga hari tersebut, pada tanggal 25 Desember pergerakan bumi akan membuat matahari terlihat mulai “bergerak” yaitu sebanyak satu derajat, namun kali ini ke arah yang berlawanan, yaitu ke utara, menandakan datangnya musim semi dimana hari-hari menjadi lebih panjang dan lebih hangat. Itulah kenapa dikatakan : Sang surya “mati” di “salib”, terkubur selama 3 hari untuk kemudian bangkit hidup kembali.
Perilaku matahari yang “mati pada penyaliban--3 hari terkubur--dan konsep kebangkitan kembali” itulah yang ditamsilkan pada semua cerita akan “sang pembawa cahaya” seperti halnya Yesus sang kristus atau para “dewa matahari” ribuan tahun yang lalu. Itu adalah periode transisi matahari sebelum berganti arah ke belahan bumi utara, membawa musim semi, kehangatan yang dapat diartikan juga membawa “keselamatan”.
Walau begitu, kebudayaan kuno tidak merayakan kebangkitan matahari sampai datangnya equinox (masa dimana panjangnya waktu siang hari sama dengan waktu malam hari) di musim semi, yaitu pada hari yang kini dirayakan sebagai hari paskah. Itu karena pada keesokan harinya setelah paskah, sang surya secara “resmi” mengalahkan sang kegelapan, karena lamanya waktu siang hari akan lebih panjang dari waktu malam hari, dan proses revitalisasi berbagai kehidupan di muka bumi mulai bermunculan.
Satu lagi simbolisme astrologi yang paling kentara sekitar certa sang pembawa cahaya adalah tentang tipikal keberadaan 12 orang murid atau pengikut. Ini hanyalah representasi dari 12 rasi bintang dalam sistem zodiak, yang sang surya, matahari terlihat “mengembara” melewati dan bersama rasi-rasi bintang tersebut.
Kebudayaan kuno menyimbolkan perjalanan matahari itu dalam bentuk “Salib Zodiak” yang bukan hanya merupakan ekspresi artistik akan perjalanan hidup “imajiner” sang Mentari atau alat untuk melacak pergerakan matahari namun juga merupakan simbol spritual mereka. Bentuk ringkas “Salib Zodiak” ini mirip dengan lambang salib yang digunakan untuk umat kristiani sekarang ini, namun ribuan tahun yang lalu di kebudayan pemuja Matahari, mereka sudah menggunakan simbol tersebut dalam kepercayaan dan ritual mereka memuja sang Surya, sang pembawa Cahaya.
Dari banyak kiasan astrologi dan astronomi yang ada di dalam Injil, yang paling penting adalah yang berhubungan dengan pengungkapan adanya suatu “zaman” tertentu. Untuk mengerti hal ini kita harus kembali mempelajari tentang equinox. Kebudayaan Mesir kuno, dan berbagai kebudayaan sebelum mereka sejak dahulu mengetahui bahwa setiap sekitar 2150 tahun, matahari yang terbit pada waktu equinox di musim semi akan berada pada rasi bintang yang berbeda dari sistem zodiak, hanya saja urutan rasi bintang yang dilewati matahari setiap 2150 tahun ini berkebalikan dengan urutan yg dilewatinya dalam siklus satu tahunan.
Fenomena ini disebut “precession of equinox” dan ternyata para kebudayaan kuno itu telah memahai hal ini sejak lama.
Waktu yang dibutuhkan oleh fenomena ini untuk mengelilingi seluruh 12 rasi bintang adalah sekitar 25.765 tahun yang disebut dengan Siklus Besar dan setiap periode 2150 tahun dari tiap rasi bintang disebut sebagai sebuah “Zaman” di banyak kebudayaan kuno di muka bumi.
Dari tahun 4300 SM – 2150 SM, merupakan masa atau Zaman Taurus, sang sapi jantan. Sedangkan periode dari tahun 2150 SM – 1 M adalah Zaman Aries, sang Domba dan periode dari tahun 1 M – 2150 M adalah Zaman Pisces, sang Ikan, zaman dimana kita masih berada sekarang ini dan sekitar tahun 2150 kita akan memasukin “Zaman Baru” yaitu Zaman Aquarius, sang pembawa air.
Pergerakan simbolis melewati 3 Zaman dan ramalan akan zaman yg keempat itulah yang direfleksikan dalam Injil. Tercatat di perjanjian lama bahwa Musa setelah turun dari gunung sinai dan mendapatkan 10 perintah, sangat marah ketika mendapati kaumnya menyembah sosok sapi emas. Penafsiran umum bahwa kemarahan Musa itu disebabkan bahwa kaum Isrel mengangkat sesembahan yang salah atau semacamnya, namun sebenarnya sapi emas itu adalah simbol Taurus sang sapi jantan, dan Musa merupakan pembawa Zaman baru, zaman Aries, sang domba. Itulah kenapa kaum yahudi sekarang ini masih membunyikan trompet dari tanduk domba, sebagai perlambang kedatangan zaman Aries yang ditandai kemunculan Musa dan seiring dengan kedatangan zaman baru, semua orang harus meninggalkan zaman lama. Sosok juru selamat lainnya sebelum masa kristiani juga menyimbolkan proses transisi yang sama, yaitu ketika sang penyelamat membunuh sang domba jantan, simbologi yang sama persis dengan perbedaan hanya pada detil-detil kecil yang tidak penting.
Sedangkan Yeseu merupakan figur yang menandai datangnya zaman baru setelah zaman Aries, yaitu zaman Pisces, sang 2 ikan yang disimbolkan dengan sangat banyak di dalam kitab perjanjian baru. Seperti “Yesus memberikan makan pada 5000 orang dengan roti dan 2 ikan”, ketika memulai ajarannya Yesus berteman dengan 2 pemancing ikan, dan secara esensial tahun yang diasumsikan sebagai kelahiran Yesus adalah tahun yang menandakan datangnya zaman Pisces.
Dalam Luke 22:10 ditanya oleh muridnya tentang kapan waktu perayaan berikutnya, Yesus menjawab : “Perhatikanlah oleh kalian ketika kalian masuk ke kota, disana ada seorang laki-laki membawa kendi air, ikutilah ia sampai kedalam rumah yang dimasukinya “. Text perjanjian baru ini merupakan pengungkapan paling jelas akan simbolisasi astrologi. Laki-laki pembawa kendi air adalah Aquarius, sang pembawa air yang selalu digambarkan dalam astrologi sebagai seorang pria menuangkan air dari sebuah kendi.
Aquarius melambangkan zaman setelah zaman Pisces, dan ketika sang surya meninggalkan zaman pisces, ia akan masuk ke zaman Aquarius karena itulah urutan rasi bintang yang “singgahi” matahari saat “precision of equinox” setiap 2150 tahunnya.
Namun kita juga mendengar tentang ramalan akan datangnya “akhir dunia”, dimana ide utamanya berasal dari penterjemahan akan ayat di Injil Mathhew 28:20 dimana Yesus dikabarkan berkata “Aku akan bersama kalian bahkan sampai akhir dunia”, tetapi pada Injil versi King James, kata “dunia” merupakan kesalahan terjemahan diantara banyak kesalah terjemahan lainnya.
Kata asli yang digunakan sebenarnya adalah “aeon” yang lebih tepat berarti “zaman” dan bukan dunia atau bumi. Penterjemahan tersebut ternyata benar adanya, karena Yesus sebagai personifikasi zaman Pisces akan bersama kita hingga akhir zaman—zaman Pisces, dan baru akan berakhir ketika sang surya memasuki zaman “baru” berikutnya, yaitu zaman Aquarius, sang pembawa air.
Menyimak kerangka cerita dari para juru selamat ini kita akan menemukan bahwa kemiripan dari satu kisah dengan kisah lainnya sangat mencengangkan, seperti kita melihat karya satu orang dijiplak beberapa kali oleh orang lain. Sebagai contoh, kisah tentang dewa matahari Mesir, Horus yang terukir sekitar 3500 tahun yang lalu di dinding kuil Luxor di mesir, menggambarkan serangkaian prosesi dimulai dengan pengungkapan kepada perawan Isis-Meri bahwa ia akan mengandung Horus, pembuahan ajaib di rahim Isis oleh Neft sang ruh suci, hingga prosesi kelahiran sang pembawa cahaya dan perayaannya.
Begitu pula kisah tentang Nuh dan Bahteranya, konsep akan adanya Banjir Besar ditemukan ada di mana-mana disepanjang sejarah kuno manusia, tak kurang sekitar 200 lokasi mengklaim peristiwa tersebut terjadi pada suatu waktu yang lampau. Salah satu sumber yang paling dekat dengan masa pre-kristiani adalah Epos Gilgamesh, diukir pada 2600 SM, epos ini menceritakan Banjir besar yang dikirimkan Tuhan, lalu ada Bahtera untuk menyelamatkan para binatang kedalamnya, semua sangat mirip dengan kisah Nuh dalam Injil.
Kisah tentang Musa juga berbagai kesamaan, yaitu bahwa ia ketika dilahirkan dihanyutkan didalam keranjang di sebuah sungai untuk menghindari pembunuhan anak bayi yang dilakukan penguasa saat itu, dan kemudian ia akan diselamatkna oleh seorang keluarga kerajaan dan dibesarkan sebagai seorang pangeran. Kisah tentang bayi dalam keranjang yang dihanyutkan ini diambil dari mitos Sargon dari Akkad, ditulis sekitar tahun 2250 SM, Sargon dihanyutkan dalam keranjang ketika lahir, dan diselamatkan oleh Akki, selir seorang raja.
Lebih jauh dari itu, Musa dikenal sebagai pembawa Aturan, pembawa 10 perintah Tuhan, namun ide tentang seperangkat aturan dan perintah dari Tuhan diberikan pada seorang pembawa berita di sebuah gunung juga merupakan “modus klasik”. Dalam sejarah mitologi, Manou dari India adalah pembawa aturan paling terkenal, di Crete, Yunani, Minos mendaki gunung Dicta dimana Zeus memberinya aturan dan perintah dewata, sementara di Mesir, Mises membawa turun perintah Tuhan yang tertulis pada sebuah kepingan batu.
Meyinggung perihal 10 perintah-Tuhan Musa, kesemuanya diambil dari uraian no. 125 dari “Egyptian Book of the Dead”, Buku sang kematian dari Mesir. Apa yang tertulis di buku itu sebagai kalimat “Aku tidak mencuri” menjadi “kamu tidak boleh mencuri”, “Aku tidak membunuh” menjadi “kamu tidak boleh membunuh” dan “Aku tidak berbohong” menjadi “kamu tidak boleh bersumpah palsu” demikian seterusnya.
Nampaknya kepercayaan mesir kuno adalah fondasi utama dari teologi yahudi-kristiani. Pembaptisan, hidup setelah mati, hari pengadilan, lahir dari seorang perawan, kebangkitan kembali, penyaliban, bahtera, juru selamat, banjir besar, paskah, natal dan banyak hal lainnya merupakan atribut-atribut dari kepercayaan pemuja matahari Mesir kuno, jauh sebelum masa kemunculan teologi yahudi-kristiani.
Apakah itu berarti figur yang dikenal sebagai Yesus itu hanyalah figur mitologi dan secara historis tidak pernah ada? Well...jawabannya ada di tangan anda masing-masing, yang jelas diluar dari keterangan yang ada dalam kitab-kitab agama, belum ada catatan sejarah lain yang meyakinkan akan keberadaan Yesus secara historis.
Tentunya untuk seorang besar yang bangkit dari kuburnya, naik ke langit dihadapan banyak orang, dan mampu melakukan banyak keajaiban, kita akan berharap ia akan masuk ke dalam catatan sejarah yang akan banyak ditulis orang, bila perlu masuk buku rekor semacam “Guiness book of records”, namun nyatanya tidaklah demikian, dokumen historis tentangnya belum pernah ada sampai sekarang.
Kiasan berupa personifikasi didalam sebuah cerita, kisah, legenda ataupun mitologi sebenarnya hanyalah penyederhanaan dari sebuah realitas yang coba di komunikasikan, sebagai “alat” mitologi tidak mempunyai nilai intrinsik akan baik atau buruk, negatif atau positif didalam eksistensinya, manusialah dengan segala motifnya, yang bertanggung jawab dalam penciptaan dan penggunaan kisah ataupun mitologi tersebut.
Seperti halnya yang terjadi pada sekitar tahun 325 M di Roma, kaisar constantine mengadakan rapat “konsili Nicea”, yang mana ketika itu disadari adanya kebutuhan dari kekuatan politis yang berkuasa saat itu untuk memilik “alat kontrol sosial” guna mengendalikan masyarakat banyak. Hasil dari pertemuan tersebut adalah disusunnya sebuah doktrin kristiani dengan figur sentral Yesus yang merupakan adaptasi dari “Old Testament”, perjanjian lama dengan figurnya Joseph.
Salah satu modus utama dari adaptasi mitologi adalah aspek pengalihan atribut seorang karakter kepada karakter yang baru dalam kisah yang akan disususun. Dalam Old Testament, dikisahkan Joseph dilahirkan secara ajaib dari rahim seorang perawan. Yesus dilahirkan secara ajaib dari rahim seorang perawan. Joseph memiliki 12 saudara, Yesus memiliki 12 murid. Joseph dijual untuk 20 keping perak. Yesus dijual untuk 30 keping perak. Joseph dikhianti oleh saudaranya Judah, Yesus dikhianati oleh muridnya Judas. Joseph memulai ajarannya pada usia 30, Yesus memulai ajarannya pada usia 30, begitu seterusnya.
Sejak kemunculan doktrin kristiani yang dilandasi motif politis itulah, institusi dan otoritas keagamaan diciptakan, dan sejak saat itu hingga 1600 tahun kemudian, institusi ini menguasai cengkraman politisnya diseluruh eropa, mengontrol umat kristiani melewati “masa kegelapan”, masa perang salib dan perang dunia, kesemuanya merupakan masa-masa pertumpahan darah dalam sejarah manusia.
Doktrin politis keagamaan inilah yang memberikan eksistensi bagi institusi keagamaan, sebagai otoritas tertinggi yang secara sepihak mengklaim kepemilikan atas “hak dan wewenang” untuk menentukan “kebenaran” dan menuntut kepatuhan total, ketaatan buta dari umatnya kepada otoritas keagamaan.
Kiasan, kisah dan mitologi digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan picik dan egois manusia, dalam bentuk doktrin kaku yang berfungsi untuk memecah belah manusia, dengan menjanjikan pengikutnya bahwa mereka ada di jalan yang paling benar, jalan satu-satunya menuju keselamatan, untuk kemudian mengendalikan mereka melalui institusi keagamaan guna mencapai motif-motif egoistis mereka sendiri.
Sistem keagamaan institusional seperti ini merupakan sabotase terbesar sepanjang zaman, karena sistem ini mereduksi tanggung jawab manusia, karena dengan alasan Tuhan mengendalikan semua hal, kejahatan kemanusiaan berat seperti pembunuhan, perbudakan dan penjajahan dapat dibenarkan “atas nama Tuhan” atau “atas perintah Tuhan” untuk menyebarkan “pesan Ilahi”.
Lebih penting lagi, hal tersebut memberikan kekuasaan yang sangat besar bagi mereka yang mengetahui realitas dibalik kisah-kisah tersebut, namun menggunakannya untuk memanipulasi dan mengendalikan masyarakat. Selama masyarakat awam terlelap dalam apatisme, masa bodoh, tidak pedulian dan para kaum terpelajarnya membuang karunia dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan berupa akal dan hati untuk berfikir mendalam, merenungkan dan mengkontemplasikan cara hidupnya dan malah menggantinya dengan taklik buta, dan ketaatan tanpa syarat pada institusi agama, selama itu pula “perbudakan” psikologis manusia, sabotase kemanusiaan tersebut akan terus terjadi.
Menutup tulisan ini, saya akan kutipkan sebuah kalimat sederhana yang dapat dijadikan petunjuk bagi kita bersama untuk dapat keluar dari lingkaran manipulatif yang telah di-install dalam kehidupan kita sekarang ini, yaitu : “seek, and you will find it—and the truth will set you FREE !!!
Read more...
Subscribe to:
Posts (Atom)
