All things are One. There is no polarity, no right or wrong, no disharmony, but only identity.
All is One, and that one is love/light, light/love, The One Infinite Creator...


~Ra, humble messenger of the Law of One~

Thursday, December 11, 2008

What is a wanderer?

Have you ever feel or sense of being a stranger to your surrounding? such as you are foreigners in some kind of strange land or country. Well, the feeling of being different is not necessary because your physical make-up like skin colors, hair color nor eyes is different with your neighborhood but more importantly because your psychological make-up is not fit to the way of your place of living is operate.

It’s more likely that your inner-world is shifted while you are sharing the same “outer-world” with other individuals around you. Maybe you are still look the same as your families and friends, but you feel differently, think differently and react differently than your friends or even your family. You have your own “values”, your own “dreams” and your own “visions” and you might found that you didn’t fit-in well in here. If you do, well…that’s what a wanderer’s common symptom is about.

The sense of being a non-native to your habitat is caused by the different frequency of your physical and non-physical aspect is operated. It happened when you are partly or fully awaken to your non-physical self or metaphysical-self thus made your physical or earthly identity less relevance to your psychological make-up, instead your “real” world is shifted from earthly material world to the aesthetic beauty and ethical innerness of the metaphysical world.

As we as individuals are come with uniqueness and come in all shape and colors, so as the wanderers. They comes with many variations of physical attributes, but most of them share a common characteristics of being alone and in isolations, especially when they made decisions on the way they lived or be, and through time they will feel a strong and increasing inner knowing that they are here to serve. The lesson and mission of the wanderers have in common is to received and share their love.

Their ultimate services is to became of themselves, as deep and as true as possible to themselves in most possible moments while workings in their life lessons here. When they are true to themselves in their deepest self of being, the best version of themselves, then they will become a light anchor that bringing the light through to the earth planes as they breathe in and breathe out with an open and loving heart and that’s what exactly our world needed the most right now, an open and loving hearts.
Read more...

Menguak Rahasia Penciptaan (4 - selesai)

Rancang Bangun Harmonis sang-Pencipta
Disadur ringkas dari buku Shift of the Ages karya David Wilcox
Selengkapnya dapat di download for free di: www.divinecosmos.com


Bagian Keempat

EVOLUSI KESADARAN


Setelah kita melihat berbagai rancangan luar biasa dari penciptaan kita mungkin selanjutnya bertanya-tanya, untuk apa semua rancangan menakjubkan itu diciptakan? Mesti ada kegunaan dan peruntukkannya...dan dari informasi yang sudah terungkap sejauh ini bisa dikatakan bahwa semua itu merupakan “panggung” bagi Evolusi Kesadaran (sering diistilahkan juga evolusi spiritual) dalam lakon panjang yang bernama penciptaan.

Untuk itu kita akan melihat model “evolusi kesadaran” yang diberikan grup Ra kepada peradaban atlantis, yang secara akurat berhubungan dengan semua densitas keberadaan yang diidentifikasikan. Sebelumnya, salah satu prinsip dari model evolusi yang kita dapatkan dari Ra harus secara jelas kita fahami : kita secara visual dapat mempersepsikan semua bentuk kehidupan / organisme di bumi maupun dimana saja yang memiliki level kesadaran densitas pertama, kedua dan ketiga bukan hanya organisme berkesadaran densitas ketiga. Sehingga, densitas energi level ini tidak secara langsung identik dengan konsep “dimensi tinggi” seperti yang akan kami jelaskan nanti.

Densitas Pertama

Dalam informasinya Ra mengidentifikasikan kesadaran densitas pertama adalah kesadaran yang dimiliki oleh “dunia elemental”, tanah-udara-api dan air. Dalam densitas ini hanya eksis kesadaran kosong yang tidak mempunyai fokus dan persepsi akan ruang dan waktu.

Perlahan dalam waktu yang sangat lama, seiring dengan elemen-elemen ini berinteraksi satu sama lain, seperti air mengalir dan menggerus permukaan tanah, atau erosi angin terhadap tanah, kesadaran kosong yang dimiliki elemen tadi mulai terlokalisai dan terfokus pada area di tempat dan interval waktu saat itu. Ini akan mengakibatkan pusaran energi cerdas tadi berkombinasi menjadi “pola kecerdasan yang baru” untuk kemudian elemen dasar tersebut akan mulai “membentuk” asam amino dan pada gilirannya molekul-molekul DNA, yang merupakan tanda sekaligus jembatan yang memungkinkan “perpindahan dimensi” menuju ke densitas kedua.

Densitas Kedua

Densitas ini melingkupi semua “bentuk organisme” yang normalnya kita anggap sebagai “hidup” dari organisme bersel satu, flora dan fauna, burung dan ikan, primata kecuali manusia. Dalam densitas ini, sudah ada “kesadaran” namun organisme ini belum mengembangkan “persepsi” individualisasi yang terpisah (belum ada kesadaran “diri”) - mereka masih berbagi kesadaran kelompok / kesadaran kolektif melingkupi semua anggota spesies mereka.

Ini memicu berbagai fenomena yang bisa diobservasi, seperti segerombolan besar burung atau ikan yang secara spontan dan tiba-tiba melakukan gerakan serentak secara terus menerus merubah arah pergerakan kelompoknya tanpa terjadinya “tabrakan” dari satu anggota kelompok dengan anggota lainnya.
Dr. Rupert Sheldrake telah menulis secara mendalam mengenai hal ini, yang sebenarnya tidak terlalu sulit dimengerti jika kita memahami bahwa “kesadaran ada diseluruh semesta”, tidak hanya ada dalam pikiran kita. Kesadaran secara alami dibagi antar berbagai spesies fauna, melalui medium energi cerdas yang menghubungkan seluruh eksistensi kehidupan dalam semesta ini, dalam derajat tertentu kadang kelompok spesies yang berbeda juga dapat berbagi kesadaran.

Beberapa binatang dalam spesies tertentu selalu “berkonsultasi” dengan “pikiran kelompok” (Group Mind) ketika mereka melalui rutinitas harian mereka, dan jika ada cukup jumlah spesies yang sama yang memiliki suatu pengalaman yang sama, pengetahuan dari pengalaman ini akan terserap dan menjadi bagian dari “pikiran kelompok” atau “kesadaran kolektif”.

Inilah yang terjadi pada fenomena yang dikenal dengan “efek monyet ke-seratus” (hundredth monkey effect) dimana beberapa kelompok monyet diteliti dalam dua buah pulau yang jauh terpisah, terisolasi satu dengan lainnya. Ilmuan pada satu pulau melakukan uji coba dengan menaruh rintangan yang belum pernah dijumpai oleh kelompok monyet itu dalam mengambil makanan mereka. Baik makanan itu berupa kentang atau nasi, selalu dilumuri pasir, pada awalnya semua monyet itu mengalami kesulitan, namun ternyata beberapa monyet satu persatu seiring dengan waktu mulai mendapatkan ide untuk mencuci makanan mereka dalam aliran air untuk menghilangkan pasir yang melekat.

Setelah kira-kira seratus ekor monyet melakukan ide ini, suatu “batas kritikal masal” tercapai. Sementara kelompok monyet di pulau kedua tidak pernah diberi makanan dengan dilumuri pasir, namun begitu kelompok monyet di pulau pertama bisa memecahkan masalah tersebut, peneliti segera melumuri pasir makanan yang akan diberikan kepada kelompok monyet di pulau kedua, dan secara mencengangkan, secara tiba-tiba semua monyet di pulau kedua, segera mencuci makanan yang dilumuri pasir (yang baru pertama kali diberikan) tersebut “seakan-akan mereka telah terbiasa melakukan itu sebelumnya” , padahal kelompok monyet di pulau kedua tidak pernah melakukan kontak dengan kelompok 100 monyet di pulau pertama yang menjadi pendahulu dalam memecahkan permasalahan tadi.

Disini terlihat bahwa “batasan masal” tercapai begitu monyet ke-seratus mempelajari ketrampilan tersebut, dan kemampuan itu terserap menjadi perilaku umum dari kelompok, keseluruhan kelompok monyet lainnya selanjutnya mempunyai ketrampilan itu secara otomatis atau seringkita sebut secara insting. Ini menunjukan kepada kita bagaimana suatu ketrampilan bertahan hidup yang baru “terserap” dalam “kesadaran kolektif” dari spesies tertentu.

Dalam model yang diberikan Ra, ini merepresentasikan satu aspek dari evolusi kesadaran suatu spesies secara kolektif, tanpa didahului kesadaran bebas anggota dalam kelompoknya. Ini adalah sistem yang didesain secara alami untuk organisme level rendah agar mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dan karenanya mampu berfungsi secara bersama-sama dengan otomatis dan instingtif. Pada masanya, fenomena ini dapat dilihat sebagai penemuan ilmiah paling spektakuler di awal abad ke 20.

Densitas Ketiga

Pertanyaan selanjutnya mungkin adalah “jika binatang bisa berbagi pikiran, kenapa sebagian besar manusia tidak bisa?” Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah, kita sebenarnya masih memiliki kecenderungan kearah “pikiran kolektif” meskipun tidak lagi berada pada level “kesadaran telepati langsung/spontan”. Untuk bisa melanjutkan evolusi ke densitas ketiga, suatu individu harus melepaskan sebagian apa yang didapatnya pada densitas kedua.

Densitas ketiga adalah densitas keberadaan-pertama dimana setiap organisme memiliki “kesadaran langsung akan dirinya sebagai entitas yang unik dan terpisah dengan entitas lainnya”. Agar bisa memiliki kesadaran diri sebagai suatu “individu”, kita harus kehilangan “kemampuan” untuk berbagi “rasa” dan “pikiran” dengan entitas lain dalam spesies yang sama dalam suatu “kesadaran kolektif”. Pikiran individu dari masing-masing entitas sebenarnya menjadi jauh lebih “powerful” dalam proses ini.

Kita sebenarnya jauh didalam ingatan kita menyimpan memori memiliki kesadaran kolektif yang membuat kita beraktifitas dalam mode “autopilot” atau otomatis dan karenanya kita bisa tersedot kedalam “mentalitas kawanan” atau yang Dr. Caroline Myss sebut sebagai “insting primitif” dimana kita ingin menjadi bagian dari kelompok dan membiarkan kelompok melakukan semua “proses berpikir” bagi diri kita. Kendala dari memiliki “kesadaran kolektif” adalah terbuangnya kebutuhan untuk memiliki pemikiran individual, perenungan dan pembelajaran, akibatnya spesies tersebut kecil kemungkinannya akan tumbuh melalui pengalaman.

Dengan kesadaran densitas ketiga muncul untuk kedua kalinya proses kesadaran, hanya saja kali ini tidak secara langsung berkaitan dengan bertahan hidup, yaitu proses saling kasih sayang, cinta dan kreatifitas. Dalam konteks spiritual Ini dianggap sebagai level eksistensi terpenting dalam semesta karena pada level kesadaran ini setiap individu dianugerahi kondisi yang sangat unik, yaitu :

Keinginan Bebas (Free Will)

Di densitas ketiga ini tidak ada bukti “langsung” bahwa pencipta itu eksis. Jadi sangat mungkin bagi individu di dunia ini untuk menyimpulkan bahwa mereka “sendirian” dalam semesta. Namun kita juga dapat berpikir bahwa seluruh semesta kita merupakan permainan besar yang dirancang oleh “One Infinite Creator” dimana ide besarnya adalah untuk memecah kesadaran-NYA sendiri menjadi beberapa fragmen yang berbeda, yang setiap bagiannya mempunyai keinginan bebas, sebebas-bebasnya.

Konsep “Law of One” berulang kali menekankan hal ini, bahwa Free Will atau keinginan bebas adalah prinsip paling mendasar dan melandasi mekanisme alam semesta, dan seringkali hal ini kurang dimengerti dan dihargai. Keinginan bebaslah yang berada dibelakang pilihan dari berbagai fragmen dari sang pencipta untuk “berpisah” dan membuat cetak biru alam semesta yang pada gilirannya akan memunculkan Galaksi sebagai mega-entitas yang punya kesadaran.

Banyak individu yang merasa bahwa mereka memiliki “hak” atau bahkan “kewajiban” untuk memaksakan kepercayaan mereka pada individu lainnya. Namun, dibalik layar kehidupan ada lebih dari cukup “entitas level tinggi” yang secara akurat melindungi keinginan bebas orang lain, oleh karenanya memastikan bahwa tidak ada individu yang akan mendapatkan pengalaman yang melampaui atau melebihi dari apa yang mereka ciptakan sendiri untuk diri mereka melalui keinginan mereka sendiri juga.

Pengalaman kita dalam siklus peradaban di bumi sekarang ini sangat menentukan, karena kita telah menginstitusionalisasikan sistem “ilmiah” yang secara keras menentang ide bahwa ada kepentingan yang lebih tinggi dibalik semua kejadian dalam keseharian kita, sehingga jika ada individu yang mulai berpikir bahwa “realitas dibalik layar” itu benar-benar eksis, ia harus rela dikucilkan dan duduk dalam kesendirian dan pertanyaan mengapa ia bisa menjadi begitu berbeda hanya karena ia mengatakan apa yang dirasakan dan dialaminya.

Untuk itu, kita dapat sekali lagi menegaskan bahwa yang paling penting harus kita sadari untuk membebaskan diri kita dari “dongengan” peradaban modern sekarang ini adalah bahwa “kejadian-kejadian penting dalam hidup kita tidak terjadi secara acak atau kebetulan”. Kenyataanya adalah kita hidup dalam sebuah sistem keberadaan yang sangat struktur lengkap dengan hukum dan prinsip-prinsip mekanis yang sangat spesifk dimana keinginan bebas merupakan “landasan” dari semua itu.
Ada mekanisme alam yang sangat akurat dan telah dirancang sedemikian rupa yang menentukan kapan dan bagaimana kita akan menghadapi semua yang telah kita “ciptakan” seperti ungkapan ada aksi maka selalu ada re-aksi - baik di “jalur positif” ataupun “jalur negatif, yang akan kita bahas dibawah ini.

Proses penyesuaian untuk mencapai kondisi keseimbangan yang kita “undang” ke diri kita sendiri secara sangat presisi dilakukan oleh “entitas level tinggi” tanpa rasa “menghakimi” sama sekali, karena ini semata-mata adalah proses balancing energi. Jadi kita juga harus ingat ketika kita mengalami peristiwa yang kita sebut “musibah” kita sebenarnya menerima kompensasi dan penyesuaian dari energi kita sendiri atau bahasa lainnya menerima re-aksi dari aksi yang kita lakukan sebelumnya.

Proses penyeimbangan energi ini selalu memberi kita “kesempatan” untuk melakukan kemajuan spiritual secara drastis dalam setiap kejadiannya, karena kita secara umum selalu kembali ke kondisi seimbang dimana kita tidak mempunyai “pola energi yang tidak seimbang” dari masa lalu. Jika kita melakukan suatu aksi yang kita pikir “buruk”, biasanya kita akan “mengundang” secara segera “penyeimbang” dari aksi kita tersebut, kita menamakannya dengan berbagai macam istilah seperti, konsekuensi, karma, hukuman, penalti yang merujuk pada re-aksi dari aksi yang sebelumnya. Pendek kata apapun aksi kita baik kepada diri sendiri maupun orang lain akan selalu mendatangkan re-aksi yang sepadan.

Dan jika kita ingin secara spiritual melanjutkan evolusi kita di semesta ini, kita secara bijak dituntun untuk memilih dengan menggunakan keinginan bebas kita meninggalkan sedikit demi sedikit rasa “keterpisahan” kita dengan semesta diluar diri kita – ini berarti kita mencintai orang lain seperti halnya kita mencintai diri kita sendiri dan kita secara totalitas menghargai keinginan bebas mereka.

Pada saatnya kita akan sampai kesuatu kondisi dimana kita bisa bercermin dan “melihat” wajah Sang Pencipta disana, melihat wajah orang lain dan “menemukan” juga wajah Sang Pencipta disana, dan kita bisa mengagumi seluruh semesta disekeliling kita dan melihat Sang Pencipta ada disana, dengan menyadari bahwa “diri sejati” kita lah yang kita lihat dalam seluruh level, dalam seluruh perwujudan, seluruh eksitensi dan semua itu - sempurna. Pada akhirnya, kita tidak akan mempunyai personaliti, tidak mempunyai memori dan persepsi akan masa lampau, kini dan masa depan, hanya kesadaran sederhana bahwa kita bahkan tidak eksis, semua itu DIA, DIA adalah semua dan semua itu SATU adanya.

Jadi, maksud dari Sang Pencipta adalah agar setiap individu memilih secara sadar untuk sekali lagi kembali ke kondisi ke-Esa-an (Oneness) – dan bukan karena dipaksa oleh sesuatu diluar keinginannya sendiri. Jika kita hanya mengikuti apa yang dikatakan pada kita tentang apa yang boleh dan apa yang tidak, mana yang harus dilakukan, apa yang harus dipercayai, maka kita tidak akan mempelajari apa-apa, dan tidak akan membuat perkembangan apapun.

Mungkin, satu-satunya kesadaran yang paling mendasar adalah bahwa “Kita hidup dalam Semesta yang penuh Cinta dan Kasih Sayang”. Jika seluruh Semesta ini merupakan “SATU” entitas, satu kesatuan, maka itu berarti jika kita menyakiti orang lain, pada hakikatnya kita menyakiti diri kita sendiri.

Dalam densitas ketiga ini kita tidak dibebankan untuk memiliki “kesadaran penuh” akan prinsip ke-Esa-an yang melandasi semua eksistensi, malah Ra menginformasikan bahwa kita justru harus menyadari dan mengakui bahwa kita tidak-mengetahui semua hal tentang Semesta agar kita dapat melanjutkan perjalanan Evolusi kesadaran kita.

Dalam densitas ketiga, kita “meraba-raba” dalam gelap untuk mencari kebenaran, sementara kita tidak memiliki bukti langsung keberadaan Sang Pencipta. Yang paling penting adalah bagaimana kita menggunakan keinginan bebas kita untuk memilih jalur mana yang akan kita jalani.

Kita bisa memilih “mencintai dan menghargai orang lain” (Ra mengistilahkan dengan Service To Others – Jalan Pengabdian pada sesama, disingkat STO) atau “memanipulasi dan mengendalikan orang lain” (Ra mengistilahkan dengan Service To Self – Jalan pengabdian untuk diri sendiri, disingkat STS) atau dalam konteks “energi” disitilahkan dengan jalur positif dan jalur negatif.

Jalur positif adalah jalur yang meradiasikan atau membagi energi dari diri sendiri kepada orang lain, energi yang dimaksud sangat luas cakupannya (bisa berupa tenaga, pikiran, waktu, materi dan segala bentuk “bantuan” kita bagi orang lain) sedangkan jalur negatif adalah menghisap atau mengambil energi dari orang lain untuk dirinya sendiri, jadi ini hanyalah masalah “arah” atau “vektor” dari energi apakah “memancar keluar” atau “menarik kedalam”.

Penggunaan istilah “jalur positif” juga tidak berhubungan langsung dengan sistem “nilai” yang dikembangkan manusia seperti “baik” atau “jahat”, karena keduanya diperlukan agar semua materi “fisikal” bisa eksis – kita memiliki daya tarik dan tolak dalam aether, memancar dan menyerap, itulah yang “membuat energi dalam keseimbangan bisa “terkunci” satu sama lainnya dan memungkinkan terciptanya “energi beku” yang kita sebut materi fisikal atau benda padat.

Namun dalam realitas energi yang lebih “murni”, lebih halus atau apa yang sering kita sebut sebagai sesuatu yang spiritual, jalur positif adalah jalur yang relatif lebih “mudah” atau nyaman dalam jangka panjang perjalanan kita kembali ke kondisi ke-Esa-an, karena kedua jalur tersebut pada saatnya akan ter-rekonsiliasi dan melebur menjadi ciptaan penuh cinta dan kasih sayang.

Ketika kita melakukan aksi (ini bisa berupa tindakan, pikiran dan perkataan) atas dasar kasih sayang pada sesama, kita memancarkan keceriaan dan kebahagiaan pada sekeliling kita, akibatnya kita memperkuat prinsip ke-Esa-an (karena itu artinya kita memproyeksikan seakan-akan orang lain itu diri kita sendiri yang juga ingin dikasihi dan disayangi orang lain) dan jika kita melakukan aksi demi kenyamanan, keuntungan, keselamatan, atau eksistensi diri sendiri (egois) dengan mengorbankan orang lain, kita sejatinya berusaha menyerap energi hidup orang lain kedalam diri kita, untuk eksistensi diri kita sendiri, akibatnya kita memperkuat prinsip keterpisahan dalam satu landasan eksistensi yang sama.

Salah satu kesadaran yang lebih mendalam akan hal ini adalah bahwa ketika kita memancarkan dan membagi energi hidup kita kepada orang lain, secara alami energi itu akan “tertarik kembali” kepada kita tanpa kita harus memanipulasi dan mengontrol apapun untuk mendapatkannya – kita menciptakan “aliran” energi dalam diri kita. Energi hidup yang mengalir keluar dari diri kita menciptakan “ruang kosong” yang harus di “isi kembali”, dengan prinsip dari mekanikal fluida (zat cair) yang berlaku di alam semesta, tekanan tinggi (aether densitas yang lebih tinggi) selalu mengalir ke tekanan rendah, akibatnya semua energi hidup yang kita bagi keluar akan dikembalikan oleh semesta, satu kenyataan penting lainnya yang harus kita sadari yang menyiratkan ada kondisi “ke-Esa-an”, ke-utuh-an dari eksistensi semesta bahwa semua itu SATU adanya, dimana semua aksi yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri, ketika kita mengasihi orang lain sebenarnya kita mengasihi diri kita sendiri begitupun ketika kita menyakiti orang lain, kita hakikatnya sedang menyakiti diri kita sendiri.

Kita tidak akan secara otomatis “berpindah naik” ke densitas berikutnya yang lebih tinggi intensitas energinya jika kita tidak “siap” untuk eksis di level itu (eksistensi kita akan musnah dimedan yang lebih tinggi densitas energinya), secara alamiah ada mekanisme “penyaringan” untuk itu yang telah dirancang sedemikian rupa. Untuk bisa “lulus” naik ke densitas keempat-positif ( dekita harus mempunyai orientasi diatas 50% dalam kecenderungan “mengasihi dan menyayangi sesama”, yang termanifestasikan dalam pikiran, perasaan dan perbuatan kita, yang bagi “entitas level tinggi” kesemuanya itu benar-benar transparan dan bisa “dipersepsikan”.

Sekarang ini diperkirakan bahwa kira-kira sekitar 95% populasi manusia modern di bumi ini akan “mengulang” pelajaran siklus hidup densitas ketiga mereka pada planet lain “serupa bumi” setelah bumi secara utuh berada di dalam densitas keempat, karena sangat mudah dalam kehidupan di densita ketiga untuk fokus kepada materialisme dan bagaimana menemukan cara untuk bisa memanipulasi orang lain, binatang, tumbuhan, dan bumi itu sendiri untuk meningkatkan level kenyamanan dan kemudahan hidup bagi eksistensi diri sendiri, dengan kata lain penyerapan seluruh energi kehidupan bagi diri kita sendiri.

Karena alasan itulah struktur kehidupan kita sekarang ini sedang menuju kehancuran, lingkungan rusak, secara sosial dan psiklogis manusia tidak bergerak lebih maju dari peradaban sebelumnya, apalagi secara spiritual, kenaikan intensitas energi seiring makin dekatnya kita ke densitas keempat, yang membanjiri tata surya kita pada prinsipnya “tidak mengizinkan” sistem kesadaran kolektis seperti ini untuk eksis lebih lama lagi – densitas keempat mempunyai intensitas energi internal yang sangat tinggi, semua eksistensi yang lebih rendah intensitas energinya tidak akan “tahan” untuk tetap eksis dalam medan energinya.

Namun, ketika siklus komos ini telah selesai, jika kita bisa sedikit saja diatas level 50% mencintai dan mengasihi sesama dengan sepenuh hati kita, segenap pikiran dan dalam perilaku kita, maka intensitas energi level dari diri kita akan mengalami kenaikan, karena “cinta” adalah energi dengan intensitas paling tinggi diseluruh semesta, dan itu berarti kita telah siap untuk melanjutkan evolusi ke level selanjutnya dan naik kelas ke realitas keberadaan yang lebih tinggi. Jadi, terminal selanjutnya dari bumi sudah di-set, bumi kita ini akan ber-transformasi menjadi bentuk yang lebih “tinggi” versinya yaitu “bumi densitas keempat-positif”, tinggal kita memilih akan kah kita “ikut” bersama bumi atau tidak.

Mereka yang akan “mengulang” siklus kehidupan densitas ketiganya akan ditempatkan pada densitas energi level yang sesuai dengan kondisi mereka untuk meneruskan “pelajaran” hidup mereka. Semesta pada dasarnya “mempersilahkan” kepada manusia untuk memilih (baik sadar dan tidak sadar) di densitas ketiga ini, namun kebanyakan manusia modern di bumi sekarang ini terjebak pada apa yang Ra gambarkan sebagai “jebakan keapatisan atau ketidak acuhan”, akibatnya tindakan mereka campur aduk dan tidak konsisten sehingga tidak pernah cukup terpolarisasi pada satu jalur, itu sebabnya sebagian besar populasi akan mengulang siklus kesadaran densitas ketiganya ditempat lain yang sesuai. Proses ini bukan proses penghakiman baik atau jahat, lebih ke arah “begitulah adanya”, proses yang natural.

Prinsip metafisika umum ini berlaku universal diseganap semesta, dan tulisan ini merupakan upaya untuk “mengingat kembali” penciptaan dari persepektif “Yang-Satu”, sumber keberadaan kita semua. Begitu kita bisa membuka fakta sebenarnya dibalik sains, pikiran kita akan terkondisikan untuk dapat memperoses dan mencerna pengetahuan dari dalam diri yang lebih besar, dan kita pada gilirannya akan bergerak maju dalam jalur perjalanan spiritual kita, sekali lagi perlu disampaikan bahwa semakin kita bisa keluar dari persepsi bahwa kita adalah makhluk individu yang terpisah dari yang lain, untuk kemudian kita bisa melihat “unity” atau “wholeness” dan mempersepsikan “yang lain” sebagai bagian dari eksistensi yang sama, bagian dari Diri “Yang-Satu” semakin cepat progress yang kita peroleh.

Sebagai gambaran singkat, densitas keempat adalah densitas dari “unconditional love” - Cinta kasih tanpa syarat. Dimana masing-masing jalur baik STO dan STS akan belajar di densitas ini akan segenap aspek dari Cinta kasih. Pejalan di jalur STO (Service To Other, atau jalur positif) akan belajar tentang bagaimana mencintai “yang lain” seperti halnya diri sendiri, dalam bentuk paling ekstrimnya adalah sampai ke level “martir” bagi manusia yang lain. Sedangkan pejalan di jalur STS (Service To Self, atau jalur negatif) akan berusaha untuk belajar mencintai Dirinya sendiri diatas orang lain yang dalam bentuk paling ekstrimnya “membunuh” orang lain bagi eksistensi dirinya sendiri. Dalam densitas keempat tidak ada lagi proses “veil” atau hijab, tiap detak niat dan gerak pikir orang lain terbuka dan terbaca oleh semua orang, dan berbagai fenomena “supranatural” yang kita kenal sekarang ini akan menjadi sesuatu yang normal di densitas keempat ini.
Pada akhir densitas ini akan terbentuk yang namanya “social memory complex” atau “kesadaran sosial kolektif” yang merupakan akumulasi dari kesadaran pribadi yang berada pada frekuensi keberadaan yang sama dan berjalan ke arah jalur spiritual yang sama. Analogi yang pernah kita temukan pada densitas ketiga adalah pada kesadaran kolektif dari sekawanan lebah, dimana pada setiap individu kawanan terbuka informasi dari seluruh kawanan, dan tiap individu merupakan bagian dari kesadaran kawanan, benar-benar manifestasi dari satu adalah semua...semua itu satu, jadi fenomena kesadaran sosial kolektif ini merupakan ciri utama di densitas keempat.

Densitas kelima merupakan densitas akan “universal wisdom” - kebijaksanaan universal, densitas dimana yang menjadi inti pelajarannya adalah segala sesuatu tentang mekanisme alam semesta bekerja. Pada densitas ini pengetahuan akan semesta terbuka, sampai ke level yang paling elementer, semua mekanisme semesta baik fisikal maupun yang metafisikal terbuka untuk diraih.

Pada Densitas keenam, densitas yang merupakan ”density of balance” – densitas keseimbangan, cinta kasih dan kebijaksanaan akan diintegrasikan dan dihayati pada titik keseimbangannya yang paling optimal. Di densitas ini Cinta kasih akan diperkaya dengan kebijaksanaan sehingga dalam mengekspresikannya akan pas baik “content” dan “context” nya. Sebagai contoh secara fisikal di densitas ketiga misalnya dalam mengekspresikan cinta kasih pada anak-anak kita, jika dilakukan secara membabi buta yaitu dengan mengikuti semua kemauan sang anak, dari sisi kebijaksanaan itu dianggap tidak bijaksana karena justru dengan begitu dalam jangka panjang tidak memberikan kebaikan dan manfaat bagi sang anak karena tidak mengajar sang anak untuk disiplin, menghargai orang lain dan mengerti konsekuensi semua pilihan yang ia lakukan. Untuk itu cinta kasih pada anak kita perlu diimbangi dengan kebijaksanaan akan apa dan bagaimana mengekspresikannya dengan pas agar hasil yang diperoleh akan positif baik bagi sang orang tua dan sang anak dikemudian hari.

Densitas ketujuh adalah “density of Oneness” - Densitas ke-Esaan, dimana pada densitas ini kesadaran bahwa semua itu adalah bagian dari yang-satu dan ke-esaan dihayati secara penuh dan seluruh aspek keberadaan dapat dipersepsikan sebagai sesuatu yang sakral, sehingga di densitas ini dualisme akan terlampaui, dan semuanya ini akan dikenal dan dipersepsikan sebagai satu kesatuan, maka istilah “semua itu satu”, “tidak ada dualisme yang ada hanya identitas”, menjadi sebuah keniscayaan yang bisa dihayati. Pada gilirannya maka secara perlahan semua rasa dan perspektif keterpisahan atau individualitas akan larut dan lebur, hilang musnah dan sekali lagi melalui keinginan secara sadar menyatu, manunggal, back into Oneness.

Akhirnya densitas kedelapan adalah “pintu gerbang” keberadaan dari oktaf berikutnya, merupakan proses kembali yang utuh kedalam awal keberadaan. Ketika inilah satu siklus lengkap berupa sistem evolusi kesadaran melalui 7 densitas utama dan 1 densitas transisi (membentuk sistem oktaf, dimana densitas kedelapan merupakan densitas transisi yaitu merupakan juga densitas pertama dari oktaf berikutnya), persis seperti tangga nada diatonik dimana “do” tinggi yang merupakan nada kedelapan merupakan juga “do” pertama dari oktaf nada berikutnya.

Kita sekarang ini sudah memasuki densitas keempat dan dalam waktu yang tidak lama lagi akan secara utuh masuk kedalam densitas ini, dan kita memiliki banyak alasan untuk berharap bahwa hidup akan menjadi jauh lebih fantastis dibandingkan dengan apa yang kita jumpai sekarang ini. Ra mengatakan bahwa kehidupan di densitas keempat positif akan “seratus kali lebih harmonis” dari kehidupan densitas ketiga yang kita alami sekarang ini. Hanya saja, seperti halnya proses kelahiran dan transisi, akan ada sedikit ketidak nyamanan dan goncangan yang harus dialami sebelum secara penuh proses itu dilalui.

So, my dear friend...Enjoy the ride....:)


- Selesai -

Read more...

Wednesday, December 10, 2008

Menguak Rahasia Penciptaan (3)

Rancang Bangun Harmonis sang-Pencipta
Disadur ringkas dari buku Shift of the Ages karya David Wilcox

Selengkapnya dapat di download for free di: www.divinecosmos.com



Bagian Ketiga


Aspek paling penting dan utama dari “Pengetahuan Atlantis yang hilang” dan juga merupakan awal dari upaya kita merekonstruksinya kembali adalah konsep bahwa Segala sesuatunya tersusun dari Energy. Peradaban Yunani menamakan “energi” ini dengan nama “Aether”, yang merupakan istilah mereka untuk untuk kata “Kilau” atau “Terang”, menunjukkan bahwa energi ini punya kesamaan sifat dengan Cahaya. Ilmu pengetahuan sekarang ini umumnya mengabaikan ide ini dan menganggap itu “menggelikan”, sekedar mitos masa lalu, namun sebenarnya ide ini merupakan bagian integral dari Filosofi Yunani. Jika kesimpulan Manly Hall dalam bukunya “Secret teaching of all ages” bahwa alasan kenapa orang-orang Yunani mempunyai pengetahuan akan “aether” adalah karena mereka mewarisinya dari peradaban Atlantis merupakan suatu fakta, maka nampaknya sumber aslinya adalah dari grup Ra.

Untuk memudahkan kita mendapatkan “gambar besar” dari semua ini, kita akan meringkasnya sesederhana mungkin, dan menghindari bahasa yang terlalu “teknis” sehingga diharapkan kita tidak “terjebak” dalam berbagai “istilah teknis” yang membuatnya seakan jadi rumit dan penuh komplikasi.

Kita akan memulainya dengan membuat daftar dari karakteristik dasar dari medan energi yang baru saja ditemukan kembali ini, yang secara konsisten akan kita sebut dengan “aether” dan bagaimana aether membentuk segala sesuatunya. Memang ada kemungkinan daftar yang akan kita buat “membuat kepala pusing” ketika pertama kali kita mencoba mengorganisasikan dan menyatukan semua informasi ini dalam pikiran kita. Sembari kita melanjutkan pembahasan kita, semua hal ini akan kita simpulkan kembali, jadi jangan merasa dibebani kewajiban untuk mengerti semua ini secara instan...yang penting ikuti saja dulu, sadari dan ketahui saja dulu...pada waktunya semua akan jadi jelas..

Selain itu, sadari juga bahwa semua yang akan kita lihat di ringkasan berikut ini merupakan sesuatu yang sudah sangat difahami dengan baik oleh manusia di masa Atlantis :
  • Kita memiliki apa yg disebut sumber energi dengan karakteristik serupa zat cair, yang secara teknis bisa kita analogikan seperti medium / perantara yang meliputi jagat raya, dengan kata lain penciptaan ini terisi penuh oleh medium ini. Energi medium ini normalnya tidak terlihat, seperti halnya “udara” yang merupakan medium yang “mengisi” ruang, aether yang merupakan energi ini mengisi “semuanya” bahkan di ruang yang kita sebut “hampa udara” sekalipun.
  • Energi ini eksis dalam tekanan yang sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari tekanan udara di permukaan bumi, namun kita toh bisa bergerak melewati medium ini dengan mudah, karena kita sebenarnya juga “terbuat” dari “bahan” yang sama.
  • Dalam “paket yang terkecil” energi ini membentuk apa yang disebut Dr. Vladimir Ginzburg “gelembung energi”, bola energi super kecil yang berguling dan mengalir antara satu dengan lainnya, sehingga membuatnya mempunya karakteristik serupa “zat cair”.
  • Ilmuwan kontemporer baru-baru ini saja menemukan medium energi ini, dan mereka menamakannya bermacam macam seperti “Virtual Particle Flux”, Zero Point Energi Field (ZPE), Quantum Physical Vacuum, “Superstrings”, “Dark Matter” dan “Dark Energy”, semua merujuk pada hal yang sama. Ilmuwan mulai sadar bahwa energi ini bertanggung jawab dalam penciptaan dunia fisikal.
  • Untuk pengertian yang praktis, harus disadari bahwa Energi ini sendiri “memiliki kesadaran” dan oleh karena itu menyatukan seluruh Semesta Raya sebagai SATU bentuk kehidupan yang Maha Besar - sering diistilahkan “Ultimate Being” suatu “Entitas Paripurna”. Setiap “gelembung energi” ini berkelompok dan membentuk pola yang teratur, kita akan mendapatkan sebuah bentuk kehidupan “cerdas”. Ini termasuk bintang, planet, galaxy sebagaimana sel, molekul dan atom.
  • Banyak peneliti dan ilmuwan dari aliran “alternatif” yang membuat riset independen untuk meneliti energi ini termasuk “perilaku membingungkan” dari energi yang awalnya dianggap “tidak memiliki kesadaran”, dan karenanya memberikan nama sesuai selera masing-masing, seperti halnya Dr. Wilhelm Reichs yang memberinya nama “Energi Orgone” (risetnya sebagian besar dilakukan secara rahasia di jaman Uni Soviet, dan baru-baru ini saja di posting di Internet dalam bahasa Inggris), beberapa hasil riset Dr. Reichs akan kita kutip kembali nanti dalam kelanjutan paparan kita.
  • Berbagai Guru spiritual menamakan medium ini “Energi Spiritual”, “Energi Cinta”, “Energi Penyembuhan”, “Ruh Suci”, dll. Semua membicarakan medan energi yang sama. Para guru spiritual ini seringkali sangat mengerti bagaimana kesadaran bisa mengendalikan energi ini, terutama ketika Kasih Sayang menjadi faktor motivasinya, dan penyembuhan yang “Ajaib” merupakan hasil dari kemampuan ini.
  • Manusia pun ternyata memiliki “tubuh energi” berbentuk bulat telur yang terbentuk dari medium ini, yang oleh “mata terlatih” bisa dilihat dan di “manipulasi”. Kondisi sakit akan muncul terlebih dahulu di tubuh energi ini berupa “distorsi energi” sebelum termanifestasi menjadi “sakit fisik”. Ini adalah salah satu rahasia yang lebih dalam yang kita tahu dari misteri Atlantis.
  • Dengan menggunakan teknologi tertentu, kita bisa memberikan “dosis tinggi” energi ini kepada seseorang dan orang itu secara bertahap akan mengalami tanda-tanda perkembangan fisik, mental dan spritual. Beberapa ilmuwan dari Rusia secara dramatis telah membuktikan hal ini, salah satunya dengan menggunakan mesin khusus berupa “Axion Field generator” atau “Dynamic Torsion Generator” yang dikenal sebagai model Comfort 7-L rancangan Dr. Alexander Shpilman. Kita bisa mendapatkan efek serupa namun dengan “dosis” yang lebih rendah dengan membangun Piramida yang merupakan salah satu “Passive Torsion Generator”, kita akan lebih detil membahas hal ini di kesempatan terpisah jika memang diperlukan.
  • Tumbuhan akan mengalami perkembangan yang dramatis dan perubahan besar jika diberikan energi ini, yang juga akan menghancurkan virus, bakteri dan berbagai organisme parasit yang membahayakan bentuk kehidupan “lebih tinggi” sehingga secara signifikan mempertinggi kesempatan untuk bertahan hidup dari tumbuhan yang sakit. Karena energi ini punya kesadaran dan kecerdasan, secara otomatis “energi” ini akan melaksanakan “apa-apa yang perlu dilakukan” untuk mengembalikan fisik/mental/spiritual dari individu yang ter-ekspos oleh energi ini pada kondisi normalnya, dan bahkan meningkatkannya ke level yang lebih tinggi, tentu saja banyak kalangan medis dan ilmiah yang meragukan karakter yg begitu mengagumkan dari energi ini.
  • Banyak tradisi kuno sudah mengajarkan akan penggunaan energi ini secara rahasia dan secara simbolis menyebutnya dengan “Air” atau “Air Kehidupan”, itulah mengapa elemen “Air” sering dijadikan simbol untuk suatu proses penyembuhan atau pengobatan baik fisik, mental dan spiritual.
  • Ada dua bentuk besar dari “Gelombang” pada aether, yaitu “medan elektro-magnetik” (Electro-magnetic Field) dan “medan gravitasi/torsi” (Gravitational / Torsion Field). Energi ini jika di manfaatkan dengan tepat dapat digunakan untuk memproduksi berbagai teknologi seperti mesin pembangkit energi gratis tak terbatas (Limitless free energi generator), Anti gravitasi dan bahkan Teleportasi.
  • Semua gerakan/perambatan gelombang dalam energi medium ini berbentuk spiral, seperti ular melingkar dengan berbagai ukurannya, dari yang super kecil sampai yang super besar (kita akan lihat nanti mengapa begitu). Berbagai ajaran kuno menggunakan simbol “Ular yang melingkar” untuk mewakili “kebijaksanaan semesta” - satu lagi kode simbolis dari pengetahuan ilmiah ini. Itulah kenapa dalam khasanah kristiani Jesus pernah berkata “Bijaklah seperti ular dan lembut seperti lumba-lumba”.
  • Cahaya merupakan salah satu bentuk pergerakan energi ini – oleh karena itu aether dapat dianggap sebagai “Cahaya cair” (Liquid light) ini selaras dengan yang ditulis dalam Kitab kejadian (Genesis) disebutkan “pada awalnya...Tuhan bergerak kehadapan “air” dan berkata: “Let there be Light”...and there was Light (Genesis. 1:1-3).
  • Ada tujuh (7) level densitas utama (Densities) yaitu suatu derajat kepekatan/kepadatan/intensitas dari “energi medium serupa zat cair” (fluidlike energy medium) ini, yang membentuk suatu “dunia keberadaan” meliputi seluruh alam semesta atau yang dalam tradisi dan ajaran esoteris disebut dengan “Tujuh tingkat Surga” (Seven Heavens). Kesemua densitas-densitas yang berbeda ini terbentuk dan dibedakan semata-mata dari jumlah getaran yang terjadi dalam satu “realitas keberadaan” tertentu dengan lainnya.
  • Analogi serupa yang dapat kita ambil untuk dapat lebih memahami densitas energi ini, adalah jika kita membandingkan antara bentuk air dan gas. Secara ilmiah kita tahu bahwa jika molekul air bergerak pada “getaran atau frekuensi” tinggi dalam artian kecepatan pergerakan elektron dan proton mengelilingi inti atom dari molekul air itu sangat tinggi, maka air tadi akan berubah wujud menjadi “uap” dan jika bergetar pada frekuensi sangat rendah, air yang sama akan berubah lagi “wujudnya” menjadi Es. Getaran yang diukur dengan istilah “frekuensi” dari partikel air ini lah yang menyebabkan perubahan wujud tadi, tidak ada yang lain. Aether berperilaku persis dengan perilaku air ini, jika aether/energi ini “bergetar” pada frekuensi tertentu yang “cukup rendah” maka wujudnya adalah berupa “dunia materi” yang kita kenal sehari-hari.
  • Secara umum, kita tidak bisa secara visual “melihat” tingkat-tingkat densitas keberadaan di jagat raya kita yang mempunyai level frekuensi lebih tinggi dari dunia kita sekarang ini berada – akibatnya seluruh jagat raya terlihat secara “nyata” 3-Dimensi bagi kita, jika kita melihat melalui teleskop. Namun, ada beberapa cara lain untuk mendeteksi keberadaan “dunia dengan densitas yang berbeda” dalam jagat raya ini dengan mengobservasi langsung pola energi unik mereka dalam spektrum gelombang sangat rendah (microwave) yang dapat ditangkap “pancarannya” oleh alat khusus, salah satunya yg dikembangkan oleh peneliti seperti Arp, Tiftt dan Aspen, tapi kita akan bahas ini lebih lanjut nanti.
  • Bagi individu yang berada dalam level kesadaran tertentu (seringkali disebut kesadaran mistis dalam tradisi esoteris) densitas-densitas yang lebih tinggi tadi dapat “dilihat” atau dipersepsikan oleh individu tersebut, dan belajar untuk mendapatkan kemampuan “untuk melihat” atau “mempersepsikan” ini merupakan aspek mendasar dari banyak pelatihan esoteris kuno, termasuk kebudayaan Atlantis.
  • Didalam masing-masing Densitas utama tadi, terdapat 7 sub-densitas, dan pada masing-masing sub densitas terdapat pula 7 sub-sub-densitas..begitu seterusnya secara tak terbatas (mengisyaratkan bahwa “dunia keberadaaa” atau dimensi kehidupan berjumlah tak terbatas) – mirip sekali dengan hologram atau fraktal cahaya. Sama halnya kalo kita mau mengukur gradasi warna...kita akan mendapatkan macam warna “yang tak terbatas” jumlahnya..jika kit a bisa mengukur/membedakan dengan sangat-sangat-tepat, karena dari warna “merah” saja misalnya kita bisa dapatkan, merah muda, merah maroon, merah bata, dsb....itu baru dari dengan mata telanjang...kalau kita amati sebuah perusahaan cat bisa membuat warna merah menjadi puluhan jenis warna merah, yang berbeda “derajat” atau densitas kemerahannya.
  • Walaupun terdapat banyak gradasi energi yang membentuk densitas yang sangat banyak, semua dapat di kategorian dalam 7 densitas utama, yang oleh Ra disebut “7 Densitas warna utama” (true color densities), ini juga secara mengagumkan selaras dengan hukum harmonis dari alam yang terdapat pada struktur 7 tangga nada musik.
  • Jika “lautan” energi yang memenuhi seluruh penciptaan ini kita sebut aether, maka dunia materi yang kita tangkap bisa kita sebut “aether beku” (frozen light) karena seperti halnya Es yang berasal dari air yang “membeku” seluruh dunia fisikal kita sejatinya adalah “energi yang membeku” atau energi yang terkunci pada satu “range” tingkat getaran atau frekuensi tertentu.
  • Getaran frekuensi dari energi ini “membentuk” densitas-densitas ini. Prinsip dasar getaran yang sama juga berlaku pada 7-set warna pada spektrum warna yang dapat dilihat manusia demikian juga 7-nada pada satu oktaf dari tangga nada “diatonik”, yang dapat kita dengar pada tuts piano yang berwarna putih, jadi melalui “warna” dan “bunyi” Semesta mengungkapkan rahasianya bagi mereka-mereka yang “mau berfikir”.
  • Berbagai ajaran kuno secara khusus mempelajari rahasia yang terkandung dalam “bunyi” dan “warna”, inilah yang digunakan dalam berbagai formasi dan desain arsitektur berbagai “bangunan suci”, seperti penggunaan kaca beraneka warna pada kathedral dan juga musik simponi gregorian yang diciptakan “Knight Templar”, sebuak kelompok yang mewarisi “pengetahuan” ini.
  • Dimanapun kita berada di jagat raya ini, semua densitas energi tersebut eksis pada derajatnya masing-masing. Namun bagaimanapun sebagaian besar dari satu wilayah akan mempunyai satu densitas level energi yang mendominasi wilayah itu dibandingkan densitas energi yang lainnya. Begitupun dengan planet-planet, sebuah bentuk “kehidupan tinggi”, juga “berkembang” karena planet ini pun memiliki “kesadaran” sebagai entitas berkecerdasan yang berevolusi dari satu densitas ke densitas berikutnya, karenanya planet ini akan berada pada densitas energi level yang sesuai dengan perkembangan evolusinya sendiri.
  • Ukuran ternyata berarti banyak dalam semesta. Planet (paling tidak itulah “bentuk/wujud yang bisa kita “persepsikan”) merupakan manifestasi “entitas” berkesadaran yang jauh lebih “advanced” dibandingkan dengan entitas-entitas individual penghuni planet itu sendiri, itulah mengapa planet begitu “toleran” pada penghuninya. Bintang jauh lebih “advanced” dibandingkan planet, dengan memiliki kesadaran yang mencakup “semua” densitas energi level. Galaksi jauh lebih advance dibandingkan bintang, memprogram kondisi dasar bagi evolusi spiritual, mental dan bahkan fisikal bagi seluruh sistem bintang didalamnya. Dan Jagat Raya (universe) yang terlihat ini jauh lebih “advance” dari semua Galaksi, menyiapkan dan mendesain cetak biru dan hukum-hukum alam dasar yang harus diikuti oleh semua elemen penciptaan, karena ini adalah manifestasi dan perwujudan dari Sang Pencipta.
  • Galaksi, adalah satu bentuk kehidupan dengan tingkat “super tinggi” dengan “kesadaran” yang tidak dapat kita fahami, mengerti ataupun kita “persepsikan”. Analogi serupa juga dapat kita fahami dari relasional antara makhluk hidup yang kita sebut level “mikro” seperti amoeba atau mikroba dan makhluk hidup “yang kita sebut” level “tinggi” seperti manusia. Jika kita asumsikan amoeba atau mikroba itu mempunya “kesadaran” maka bentuk kehidupan level tinggi seperti manusia sama sekali tidak dapat “terperi” atau “tertangkap” oleh panca indera dan pemahaman mereka, begitupun relasional antara “manusia” dan “Galaksi”.
  • Galaksi, di level kesadarannya sendiri, menggunakan hukum-hukum alam dan prinsip-prinsip dasar dari “getaran” (vibrations) untuk menciptakan berbagai lapisan berbeda dari “zona-zona energi” atau “zona keberadaan” melingkupi seluruh bagian diri mereka sendiri. Jika dilihat dari “atas” Galaksi terbagi atau terpisahkan menjadi zona-zona dan sektor-sektor densitas, yang terlihat seperti roda atau kue bulat terpotong menjadi banyak “bentuk serupa bulan sabit” yang mengembang dari “pusat” ke arah luar persis seperti sebuah bunga. Zona-zona ini pada dasarnya tetap (stationer) pada “tempatnya” dalam struktur sebuah Galaksi sementara berbagai “sistem bintang” dalam revolusinya mengelilingi “pusat Galaksi” bergerak “menembus” dan melewati zona-zona tersebut.
  • Ketika sebuah “sistem bintang” melewati suatu zona tertentu, densitas umum dari aether dari “sistem bintang” itu akan menunjukkan laju kenaikan atau penurunan yang tetap, tergantung dari posisinya terhadap zona yang dilewatinya tersebut. Zona-zona ini telah terdeteksi dan secara ilmiah di “ukur”, terutama oleh Dr. Aleskey Dmitriev yang menyebutnya dengan “Magnetic Strips”, mengacu pada maksud sebuah potongan medan yang mempunya daya magnetik. Siklus waktu yang sangat akurat, berdasar pada prinsip-prinsip matematika pada musik dan getaran, mengatur kapan dan berapa lama sebuah tata surya (planetary system) melewati zona-zona ini. Secara mengagumkan, peradaban kuno melestarikan pengetahuan fantastik ini, contohnya seperti yang ada dalam naskah-naskah kuno Sumeria.
  • Tujuan dari pergerakan berbagai tata surya menembus zona-zona energi yang berbeda densitas energi levelnya ini adalah untuk menggerakkan evolusi spiritual dengan laju yang tetap. Entitas seperti manusia mempunyai “keinginan bebas” untuk menentukan “kapan” mereka akan melanjutkan evolusinya ketahap yang lebih tinggi, dikarenakan ditiap titik akhir setiap siklus dari satu densitas ke densitas berikutnya menawarkan kesempatan untuk “terlepas” dari “siklus re-inkarnasi” dan melanjutkan evolusinya ke realitas keberadaan yang lebih tinggi – sedangkan bintang dan planet dalam perkembangan evolusinya mempunyai “timeline” yang relatif baku atau standar.
  • Batasan dari satu zona densitas dengan zona lainnya dalam dapat di visualisasikan dengan cara yang persis sama dengan garis lurus yang terbentuk ketika minyak berada diatas air, karena ini adalah analogi yang sempurna dari apa yang terjadi ketika dua cairan dengan densitas/kerapatan molekul yang berbeda kontak satu sama lain.
  • Tata surya (suatu kumpulan planet yang mengitari sebuah pusat, biasanya berupa matahari) kita yang dikenal dengan Solar System, sekarang ini sedang bergerak memasuki zona densitas yang lebih tinggi energi levelnya di Galaksi Bima Sakti, yang akan menyebabkan zona densitas bumi dan sekitarnya beranjak dari densitas ketiga dimana kita hidup sekarang menuju densitas keempat – yang secara natural akan menciptakan apa yang disebut sebagai “perpindahan dimensi” (Dimensional Shift).
  • Kita akan menebus “batasan antar densitas” pada suatu masa dalam interval tahun 2010-2013, berdasarkan informasi yang berhubungan dengan “akhir penanggalan” dari kalender suku indian Mayan yang di hitung akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012. Ini akan menyebabkan perubahan yang tidak dapat rubah-balik dalam hal kualitas dan properti dasar dari materi dan energi yang mengelilingi kita, termasuk kecepatan dari cahaya melintasi ruang yang secara drastis akan bertambah. Ingat, sekarang ini kita mengamati benda-benda langit melalu lensa teleskop yang menangkap cahaya dalam kecepatan maksimalnya di densitas ke-3 ini, tidak lebih. Artinya seluruh jagat raya akan terlihat sangat berbeda, dan akan berubah dalam “penampilannya” bagi penglihatan kita ketika kita memasuki densitas yang lebih tinggi.
  • Seluruh bagian tata surya kita sekarang ini menunjukkan tanda-tanda besar dari penambahan intensitas energi seiring kita bergerak mendekati moment tersebut, karena makin banyaknya energi berfrekuensi tinggi dan tekanan densitas yang lebih besar “menembus” tata surya kita. Tiap bulan ada berbagai temuan baru yang datang dari komunitas ilmiah yang secara tidak disengaja menambah validitas dari informasi ini, yang terbaru di bulan oktober 2002 ketika dilaporkan Pluto mengalami “Pemanasan Global” dan kenaikan tekanan atmosfir, walaupun pluto sebenarnya sedang bergerak menjauhi matahari. Meski secara resmi dikatakan ini “tidak berhubungan” dengan pemanasan global di Bumi, tapi laporan bahwa fenomena yang sama juga terjadi di Mars dan Venus, dengan anomali seperti kenaikan intensitas kecemerlangan (brightness), intensitas daya magnetik, dan perubahan drastis dari atmosfir di kedua planet tersebut, bahkan terjadi “perubahan kutub” ( kutub utara planet berguling menjadi kutub selatan atau sebaliknya) di Uranus dan Neptunus, membuat kita harus mangakui “sesuatu” sedang terjadi dalam tata surya kita.
  • Dalam catatan yang terpisah (namun relevan) ternyata, Struktur DNA berubah ketika kita berpindah dari satu densitas ke densitas energi lainnya. Rambatan energi berupa pilinan/puntiran berbentuk gelombang spiral (gulungan) di dalam aether mempunyai pola DNA yang “terpasang” padanya dalam bentuknya yang paling kecil/sederhana, yang didesain oleh “kecerdasan” dari Galaksi. Gelombang spiral energi ini menggunakan “daya” yang sangat-sangat halus namun masih bisa diukur pada manifestasi fisikalnya (kita akan bahas lebih detil lebih lanjut nanti). Ketika element dan partikel-partikel energi yang longgar bergerak kian kemari, kenaikan “intensitas” energi akan membuat pergerakannya makin cepat dan mempertinggi kemungkinan mereka akan tertangkap medan energi dari gelombang spiral ini dan secara otomatis akan menyusun kembali diri mereka masing-masing mengikuti pola yang terpasang tadi, seperti potongan-potongan puzzle atau lego, awalnya menjadi asam amino, dan pada gilirannya menjadi DNA.
  • Ketika suatu planet melewati zona yang lebih tinggi densitas energi levelnya, pola yang terdapat gelombang spiral tadi menjadi bertambah kompleks, akibatnya struktur DNA yang tersusun bermutasi menjadi lebih rumit dan “secara evolusi lebih maju”. Salah satu penemu molekul DNA telah mempublikasikan suatu penelitian yang mengatakan bahwa “sebagian besar debu yang bisa terlihat dalam galaksi Bima Sakti memiliki kualitas pola DNA yang sama dengan yang kita harapkan dapat ditemukan pada bakteri”, menujukkan bahwa formasi DNA yang terbentuk dari energi ini ada terjadi di seluruh bagian Galaksi.
  • Dosis besar berbahaya dari energi ini, yang jauh lebih besar dari yang diperlukan bagi proses penyembuhan dapat di arahkan untuk menembus suatu organisme dan memindahkan kualitas DNA dari organisme tersebut pada organisme yang lainnya, dan menyebabkan terjadinya transformasi fisikal atau Mutasi genetis. Dr. Yu V. Tszyan Kanchzen dapat menggunakan proses ini untuk membuat seekor ayam mulai bermutasi menjadi bebek, termasuk tumbuhnya selaput diantara jari-jari kaki ayam tersebut.
  • Dr. Kanchzen telah menemukan suatu bukti efektif bahwa “gerakan spiral gelombang energi adalah arsitek yang tersembunyi dari molekul DNA”, dan energi dari rancangan pola DNA ini dapat “dirubah” dalam satu kurun waktu kehidupan (satu generasi). Terlepas dari kontroversi dan tentangan menyangkut etis tidaknya percobaan mutasi genetis ini pada makhluk hidup, eksperimen seperti ini dapat dilakukan berulang-ulang secara mudah, jika memang diinginkan.
  • Evolusi spesies, baik secara fisikal maupun kesadaran spiritual, otomatis terjadi ketika kita menembus suatu level densitas aether dan memasuki densitas aether lainnya. Kita telah mempunyai sejarah panjang yang menunjukkan kapan dan bagaimana hal ini terjadi sebelumnya, ketika dalam waktu singkat secara mencengangkan organisme primitif di bumi “punah” dan menghilang dari muka bumi dan bentuk organisme yang lebih “maju” muncul menggantikan tempat mereka – dan itupun baru yang terjadi ketika kita melewati suatu “sub-level dari densitas energi”, sekarang ini kita bergerak menembus densitas energi utama ( true color density).
  • Yang terjadi ketika tata surya kita sudah berada di densitas yang lebih tinggi level energinya adalah, ekspansi energi dari inti planet-planet, ditambah ledakan energi spontan dari pusat tata surya, menciptakan siraman energi yang memiliki kualitas radiasi dan kecerdasan, suatu fenomena yang dalam tradisi Hindu kuno disebut dengan “Api Somvarta di akhir jaman”.
  • Itulah yang terjadi dalam interval sekitar setiap 50 juta tahun di masa yang lampau, ketika siraman ledakan energi ini “menyambar” seluruh organisme yang tadinya ada di muka bumi, dan secara spontan memusnahkan semuanya, kemudian secara tiba-tiba organisme yang lebih maju muncul, para geologis menyebut fenomena ini dengan istilah “punctuated equilibirium” (selaan/intervensi keseimbangan) yaitu setiap ada “kepunahan spesies masal” selalu ada “kemunculan spesies masal”.
  • Seiring pembahasan kita nantinya, kita akan mengetahu bahwa umat manusia sudah berada jauh dari level kepunahan masal atau kehancuran total planet ini, suatu level yang sudah sangat lama tidak dijumpai sejak era Dinosaurus, jadi tidak beralasan untuk “takut” akan suatu kehancuran atau kiamat yang segera tiba – kita malahan sudah mulai mengalami proses evolusi spesies sekarang ini. Proses evolusi makhluk hidup selama ini diyakini disebabkan ulah dan campur tangan “manusia”, namun model mekanisme yang kita susun menunjukkan sebaliknya. Setiap kali kejadian ini berulang di masa lampau, spesies primitif menghilang dan spesies baru yang lebih “maju” evolusinya muncul secara tiba-tiba di muka bumi – dan kali ini pun juga tidak akan berbeda.
  • Nah karena kita sudah mulai masuk ke pembahasan model baru kita akan evolusi, mari kita kembali kepada masalah perilaku dari aether karena ini berhubungan erat dengan kesadaran universal dan formasi dari materi fisikal. Kami juga akan menunjukkan bukti lebih lanjut, bagaimana informasi teknis seperti ini di sembunyikan dalam simbolisme oleh mereka-mereka yang selamat dari kehancuran Atlantis. Kami juga akan menunjukkan bagaimana klopnya dan rapinya medan energi dari level dan ukuran yang berbeda ter-organisasi diseluruh kosmos mengikuti perilaku sederhana dari getaran (Vibrations):
  • Pada level tertinggi dari hirarki densitas energi, aether ini berperilaku lebih menyerupai wujud solid/padat, sama halnya dengan air yang bisa dibekukan dan dipadatkan menjadi es. Pada level densitas ini, energi merambat sangat-sangat jauh lebih cepat dari kecepatan cahaya – secara teoritis dalam kecepatan instant atau spontan, yang memastikan terdapatnya kesadaran spontan (instantaneous consciousness) meliputi seluruh semesta atau dengan kata lain kesadaran semesta yang Esa, Satu atau utuh seperti halnya jika kita bayangkan semesta ini merupakan Satu “entitas”. Oleh karenanya, ilmu alam menyediakan untuk “adanya” kesadaran spontan pada semesta ini, yang secara alami kita perkirakan “harus ada” sebagai manifestasi “adanya” Sang Pencipta.
  • Sekali lagi, pusaran energi yang berbentuk spiral yang mengalir dan merambat “membentuk” semua “materi fisikal” dan “padat” dari “energi medium non-fisikal” ini. (tidak semua pusaran energi cukup kuat untuk membentuk materi yang stabil, partikel “visual” sekarang ini telah ditemukan, yang terlihat seperti partikel mikro atau nano biasa namun ternyata hilang dan muncul dari observasi secara konstan)
  • Karenanya, semua yang kita lihat dan persepsikan di jagat raya ini terbentuk dari pergerakan kompleks dari yang tidak lain hanyalah “tekanan” dan “kontra-tekanan”, dorongan dan tarikan dalam satu medium.
  • Untuk memvisualisasikan pusaran energi yang membentu materi dasar ini, kita harus membayangkan sebuah bola energi dengan dua buah pusaran energi berbentuk trompet/tornado, satu berputar turun dari kutub utara bola energi ini berujung ke pusat bulatan, sementara pusaran energi yang lain berputar naik dari kutub selatan berujung ke pusat bulatan dimana ujung dari kedua pusaran yang “kopong” atau “kosong” saling menyambung membentuk “saluran” atau lubang energi kecil, bersih melintasi bagian tengah atau inti bulatan energi ini. Seluruh bulatan energi mengalir dan berputar mengelilinginya, seperti bola pintalan benang ada cincin asap, bentuk ini secara sederhana tak lebih berupa bola dengan “lubang donat” menembus bagian tengahnya, secara teknis disebut “Spherical Torus”.
  • Para “Shaman” atau cenayang/dukun kuno, berjalan “diluar tubuh” (Out of Body Experience) dan menyaksikan struktur kubah bulat melingkupi tata surya, dengan warna biru putih transparan yang kontras dengan latar belakang hitamnya ruang luar angkasa lengkap dengan saluran energi berbentuk tabung menembus langsung melalui pusat matahari. Dari perspektif orbit bumi sepanjang bidang bundaran tengah dari bulatan energi matahari (yang merupakan pusat bola energi tatasurya), bila kita melihat kebagian kutub utara bola energi matahari, saluran energi ini terlihat seperit pilar menara yang muncul dari matahari dan membesar keluar kebagian atas atap bulatan – saluran yang sama membesar turun ke arah kutub utara bulatan energi dari matahari, akibatnya bagian utara terlihat seperti batang pohon dan cabang-cabangnya, bagian utara terlihat mirip akar pohon, itulah mengapa para cenayang menyebutnya “Pohon Dunia” (World Tree). Ini sebenarnya adalah struktur energi yang sama yang membentuk semua pohon dibumi. Ini pula salah satu cara yang dipakai tradisi kuno dari Atlantis untuk menyembunyikan pengetahuan mereka melalui simbolisme, di kemudian hari jika ada yang mampu “melihat”nya kembali mereka hanya akan merujuk pada mitos tersebut dan mempercayai bahwa memang ada “Pohon” dan tidak mengerti sains dibalik itu.
  • Simbolisme lain atau metafora dari medan energi ini yang dipakai oleh pewaris pengetahuan Atlantis adalah “Telur Orphic”, “Batu Omphalos”, yang menggambarkan telur dengan ular melingkar mengelilingi telur itu – sebuah simbol yang sangat akurat dari apa yang sebenarnya terlihat dari medan pusaran energi, dengan ular merepresentasikan “pilinan medan energi” dan telur menunjukan strutur dasar dari bola energi.
  • Setiap atom dalam realitas kita sekarang ini, terutama yang terbentuk dari kondisi alami mempunyai eksistensi paralel pada suatu derajat tertentu di densitas yang berbeda, namun nampaknya cenderung fokus pada densita level yang kita bisa “tangkap” sekarang ini.
  • Karena energi ini “berkesadaran” atau “hidup”, seorang yang sangat terlatih dan disiplin dalam mengelola penggunaan energi kehidupan ini dapat “membentuk” atau mewujudkan materi fisikal dengan hanya niat dan kesadarannya saja (proses yang sering disebut materialisasi).
  • Struktur medan energi yang sama eksis dalam semua level dan ukuran dalam semesta (dan semuanya hidup dalam bentuk tertentu) dari atom, ke mikroba, ke rumput, ke organ-organ dalam manusia, ke pohon, ke bulan, ke planet, ke bintang, ke galaksi, ke kumpulan galaksi, dan ke semesta. Di setiap level kita akan temukan pola struktur energi pembentuk materi sedang bekerja, seperti halnya pada medan aura (elektromagnetik) manusia atau medan mangnetik planet bumi, jika kita bisa memperbaiki kerusakan yang ada dalam cara berfikir dunia ilmiah modern sekarang ini.
  • Rasio yang gamblang dan harmonis seperti halnya “rasio musik dari Ray Tomes” menentukan struktur dari berbagai level dan ukuran tersebut, semesta ternyata secara ekstrim terstruktur dengan sangat rapi mengikuti prinsip dan hukum dari getaran (Vibrations).
  • Karena itu bahkan di bagian terkecil “partikel sub-atomik” citra dari seluruh ciptaan terkodekan atau tercetak didalamnya, persis seperti hologram. Ada “semesta” dalam setiap sel di tubuh kita, makro kosmos dalam mikro kosmos – terbentuk dari pola dasar yang sama dengan sang Pencipta, seperti yang “di-isyaratkan” dalam ungkapan: “barang siapa mengenal Diri-nya akan mengenal Penciptanya”.
  • Setiap densitas terpopulasi dengan berbagai bentuk kehidupan cerdas yang terus berevolusi, bergerak kian mendekat menuju ke-Esa-an yang utuh (Oneness) – dan kita, umat manusia di bumi hanya berada di level ketiga dari 7 level densitas yang ada. Oleh karenanya kita membutuhkan semua pertolongan yang dimungkinkan sekarang ini, karena kita dapat mengatakan bahwa kita telah “mengacaukan” hidup kita di level global, menyebabkan kerusakan besar diseluruh planet bumi dan secara umum kita yang merupakan bagian dari kesadaran kolektif bernama umat manusia yang hidup dengan kondisi spiritual yang “buta”.

Sejalan dengan kemunculan berbagai pertanyaan dan pemikiran dalam kepala kita, mereka akan terus bergulir dan terungkap dalam keagungan dan hakikat makna dari penciptaan semesta yang akan terus kita ungkap dalam serial tulisan ini.


...Bersambung ke bagian keempat
Read more...

Tuesday, December 9, 2008

Menguak Rahasia Penciptaan (2)

Rancang Bangun Harmonis sang-Pencipta
Disadur ringkas dari buku Shift of the Ages karya David Wilcox
Selengkapnya dapat di download for free di: www.divinecosmos.com



Bagian Kedua

Berbicara mengenai literatur Atlantis ada anggapan umum bahwa naskah rujukan akan keberadaan peradaban Atlantis telah hilang atau sangat langka untuk dapat ditemukan, nyatanya kontras dari anggapan tersebut beberapa sumber literatur tentang Atlantis selamat melewati masa ribuan tahun untuk dapat dipelajari di masa modern ini. Salah satu sumber yang paling informatif dalam menyediakan penjelasan tentang model pesawat terbang yang kita bicarakan di bagian pertama berasal dari naskah kuno Vedic dari India. David Hatcher Childress dalam bukunya “Vimana Aircraft of Ancient India and Atlantis” menulis :


India di masa 15.000 tahun lalu, masa yang dikenal sebagai masa Imperium Rama adalah sebuah peradaban yang sejaman dengan Atlantis. Sejumlah besar naskah kuno ditemukan di India mengabadikan peradaban yang sangat maju sekitar lebih dari 26.000 tahun yang lalu. Perang besar dan perubahan bumi yang terus menerus menghancurkan peradaban ini, meninggalkan hanya beberapa kantung kecil peradaban.


Perang besar (dalam naskah Hindu disebut) Ramayana dan terutama Mahabrata disebut sebagai puncak dari perang-perang mengenaskan dari Kali Yuga ( Siklus Kosmos) terakhir. Proses penentuan waktunya cukup sulit, karena tidak ada tanggal pasti dari yuga, karena ada siklus dalam siklusnya dan yuga dalam yuga. Siklus besar yuga dinyatakan selama 6000 tahun dan yuga yang lebih kecil berperiode hanya 360 tahun dalam teori yg dikemukakan Dr. Kunwarlai Jain Vyas. Thesisnya mengatakan bahwa Imperium Rama hidup pada yuga kecil ke-24 dan karena ada interval 71 siklus antara Manu dan Mahabrata sehingga keluar perkiraan angka 26.000 tahun.


Yang jelas, jika siklus yuga kecil dalam kebudayaan Hindu adalah 360 tahun dan penulis naskah kuno Vedic tersebut secara cermat menghitung bahwa paling tidak ada 71 siklus dari masa itu, maka artinya kita membicarakan sebuah peradaban yang jauh lebih tua dari peradaban yang ingin kita cari. Lebih penting lagi dalam gunungan naskah kuno Vedic tersebut berulang kali disebutkan tentang Vimanas, atau pesawat terbang termasuk juga penggunaan dari apa yang digambarkan seperti senjata pemusnah masal. Dan ternyata deskripsi dalam naskah kuno tentang vimana secara sempurna cocok dengan konsep modern tentang pesawat terbang.


Untuk mengelaborasi sedikit lebih jauh tentang vimana, kita mesti melihat cuplikan dari buku “Alien Identities” karya Dr. Richard L. Thompson, lulusan universitas Cornell dan Profesor di bidang Matematika yang juga punya minat mendalam terhadap studi tentang Vedic dan UFOlogi. Buku ini dikenal luas sebagai salah satu terobosan orisinal dalan UFOlogi dewasa ini, dimana si penulis melakukan penemuan baru yang penting ketimbang sekedar memakai informasi tangan kedua dari kejadian-kejadian yang sering di kaitkan dengan UFOlogi.


Untuk itu dari bab 7 halaman 260-261 dari buku tersebut kita membaca sebagai berikut :


Naskah kuno Bhoja (nama penulis naskah) berjudul Samarangana-sutradhara, menyebutkan bahwa material utama dari mesin terbang atau Vimana adalah kayu ringan atau laghu-daru. Pesawat ini punya bentuk seperti burung besar. Tenaga pendorong berasal dari ruang pembakaran dengan merkuri diletakkan diatas pembakaran. Tenaga dihasilkan oleh merkuri yang dipanaskan dibantu dengan kepakan sayap oleh pengendaranya akan menyebabkan pewawat terbang ke angkasa. Karena pesawat dilengkapi dengan sejenis mesin kita dapat menyatakan bahwa kepakan sayap tersebut dimaksudkan lebih untuk pengendalian atau keperluan kontrol ketimbang menghasilkan tenaga pendorong.


Dapat dikemukakan disini bahwa vimana seperti dalam teks Bhoja lebih mirip pesawat konvensional yang kita kenal ketimbang UFO, itulah kenapa terbuat dari material umum seperti kayu, punya sayap dan terbang seperti burung...


Bagaimanapun vimana ini sebenarnya bermesin, karena nampaknya bergantung pada suatu mekanisme konvensional yang menghasilkan tenaga dari bahan bakar dan menggunakannya untuk menghasikan dorongan udara dibawah sayap, ini tentu saja berlawanan dengan karakteristik UFO yang tidak punya sayap, knalpot atau jet pendorong dan nampaknya mampu terbang dengan cara yang kontradiktif dengan hukum-hukum fisika yang kita kenal.


Deskripsi akan sesuatu yang bisa kita sebut sebagai ledakan nuklir, dari yang ditemukan pada halaman 677 dari naskah kuno Drona Parva saja cukup untuk membuat kita bergidik sekarang ini. Walaupun deskripsi tersebut mengerikan, ada baiknya kita coba simak untuk mengingatkan diri kita kembali akan apa yang pernah kita sebagai species yang disebut manusia lakukan satu sama lainnya dalam sejarah masa lalu kita bersama:


Adwathaman yang gagah berani, dalam keteguhan diatas vimananya, mengeluarkan senjata pamungkas Agneya, yang bahkan dewa sekalipun tidak akan mampu menahannya. Mengarahkannya kepada seluruh lawan yang bisa dilihat maupun tidak, sang pembantai ksatria-ksatria yang memusuhinya itu dengan suara keras merapal mantra Agneya yang mengeluarkan dinding besar menyilaukan dari “api yang tidak berasap” dan melepaskannya ke segala arah penuh dengan kemarahan.


Kilatan jutaan cahaya bak hujan panah api kemudian muncul memenuhi angkasa dari Agneya yang dilepaskan. Terbakar oleh bara api kemarahan panah api tersebut menembus apa saja yang dilewati dalam lintasannya ke segala arah. Meteor menyambar turun dari cakrawala. Kedukaan yang dalam tiba-tiba menyelimuti kemah Pandawa. Seluruh penjuru mata angin juga diselimuti oleh kegelapan itu. Angin dingin yang mebawa kesedihan mulai berhembus.


Matahari sendiri tidak lagi memancarkan kehangatan. Semua elemen alam terganggu...Jagat raya yang terpanggang oleh panas terlihat seperti sedang demam. Ratusan gajah dan binatang lainnya yang terpanggang oleh energi dari senjata tersebut, sekarat dan tersengal-sengal, mencari perlindungan dari teror kekuatan yang mengerikan. Seluruh permukaan air ikut terpanggang, dan makhluk yang hidup di dalam elemen air...O Bharata, ikut terbakar dan menjemput ajal...


Gajah-gajah besar hangus oleh senjata itu, bergelimpangan memenuhi permukaan bumi. Sementara lolongan tangis pilu memecah angkasa. Gajah besar lainnya terpanggang oleh api, lari tunggang langgang, melengking dalam kengerian luar biasa seperti sedang dalam kepungan kebakaran besar. Kuda-kuda tunggangan, O Raja...berikut kereta-kereta mereka juga hangus...O tuan, seperti pucuk pohon terbakar hangus dalam kebakaran hutan.


Sungguh, kalau ini bukan deskripsi mengerikan dari penggunaan senjata pemusnah masal dalam kemurkaan, bagaimana kita lalu bisa menjelaskan semua hubungan yang sangat jelas terlihat ? Apakah ini sebabnya Robert Oppenheimer, salah satu Bapak perintis bom nuklir, berkomentar menjelang testing pertama dari prototipe modern bom nuklir yang bila diterjemahkan bebas berbunyi: “Ini bukan pertama kalinya umat manusia meledakkan senjata pemusnah masal”..


Pendatang dari Langit


Jadi dari upaya mempelajari akan hal ini, kita melihat bahwa bukti yang melimpah termasuk naskah tertulis dan 8 mil persegi kota dibawah dasar laut di barat Kuba memperlihatkan keberadaan kebudayaan canggih yang hilang. Sangat penting bagi kita untuk mengingat bahwa deskripsi dari peradaban ini hanya mirip secara gambaran kualitatif dan hampir semua kemiripannya berkisar pada teknologi.


Menurut banyak sumber berbeda, termasuk naskah kuno Vedic di India, kebudayaan Atlantis jauh lebih “spiritualis-tis” dari yang dapat dicapai oleh kebudayaan modern sekarang ini. Mereka secara umum meyakini suatu perspektif yang sama sekali berbeda tentang realitas, dimana banyak kebenaran fundamental dari mekanisme alam raya ini bekerja dimengerti dan dijelaskan dalam pengertian yang mungkin tidak dikenal oleh kebanyakan dari kita.


Schwaller de Lubicz mendiskusikan dengan sangat detil dalam makalahnya tentang paradigma yang dipengang teguh oleh para manusia kuno, dan sejalan dalam perkembangannya, kita harus mencuplik ilmuwan bernama Manly Palmer Hall yang akan membantu kita untuk mengerti bahwa simbolisme itu mempunya peran sangat penting dalan perspektif dan paradigma spiritual dari kebudayaan Atlantis.


Lebih lanjut, seperti yang telah disebutkan dari banyak naskah kuno dari berbagai belahan dunia, peradaban Atlantis nampaknya menerima kunjungan rutin dan menjalin kerjasama erat dengan Extraterrestrial Intelligence, sebuah peradaban yang jauh lebih maju dari luar bumi. Joseph Campbell yang menggunakan nama pena “Ernest Scott” menyebut peradaban dari luar bumi ini “Sutradara yang tersembunyi” dalam bukunya “The People of the Secret”. Hal ini pun dielaborasi secara mendetil dalam karya ilmiah berjudul “Gods and Spacemen of the Ancient East” oleh W. Raymond Drake yang memberikan perspektif budaya yang mendunia akan adanya kerjasama Manusia bumi – Manusia luar angkasa di masa yang jauh lampau. Peristiwa-perisiwa sejarah yang dikutip dalam buku Drake mencakup berbagai peradaban yang beraneka ragam, mulai dari India, Sumeria, Tibet, Cina, Japan, Mesir, Israel dan Babilonia, dan buku ini berperan penting dalam memperbaiki skandal yang dilakukan beberapa penulis lain seperti Erich Von Daniken, yang nampaknya memanipulasi sejumlah besar data untuk sampai pada kesimpulan yang serupa dalam buku best-seller nya “Chariots of the Gods” di tahun 1970an.


Untuk mendukung argumentasi kita selanjutnya tentang Peradaban maju jaman lampau yang menjalin kerjasama erat dengan makhluk cerdas dari luar bumi atau makhluk berdimensi lebih tinggi, sekali lagi kita mengutip sumber dari buku Dr. Thompson halaman 216-217. Disini ia membahas berbagai “Kemampuan” yang disebut “Siddhi” yang dimiliki oleh para pendatang dari langit dimasa itu, yang dalam naskah kuno Vedas disebut sebagai “Dewa serupa manusia. Kemampuan ini disebutkan pula dapat dikuasai oleh Enlightenment Human Master, sekelompok manusia yang mendedikasikan dirinya dalam disiplin dan latihan jalan pencerahan. Kemampuan ini diantaranya:


  1. Komunikasi mental, semacam telepati dan pembacaan pikiran. Kemampuan ini merupakan kemampuan standar dari “manusia dewa” namun verbal komunikasi dengan berbicara juga tetap dipakai secara umum.
  2. Kemampuan untuk melihat atau mendengar dari jarak yang sangat jauh.
  3. Laghima-siddhi, kemampuan untuk mengendalikan gravitasi, baik untuk membebaskan diri dari gravitasi sehingga dapat melayang dan terbang maupun untuk melipatgandakan gravitasi guna menciptakan bobot yang luar biasa berat.
  4. Anima dan Mahima-Siddhi, kemampuan untuk merubah ukuran suatu benda atau makhluk hidup tanpa merusak strukturnya.
  5. Prapti-siddhi, kemampuan untuk menembus halangan fisikal atau media padat, juga berhubungan dengan kemampuan untuk masuk ke alam atau dunia paralel yang lebih tinggi dimensinya.
  6. Kemampuan untuk memindahkan objek langsung melalui ether, tanpa dibatasi oleh batasan fisikal. Metode perpindahan seperti ini disebut Vihayasa. Ada pula metode pemindahan lain yang disebut Mano-java, dimana objek di pindahkan langsung ke tempat yang jauh dengan menggunakan pikiran.
  7. Vasita-siddhi, kemampuan untuk melakukan hipnotis dari jarak jauh. Naskah kuno tentang Vedic melukiskan bahwa kekuatan ini dapat digunakan untuk mengontrol pikiran orang lain dari jarak jauh.
  8. Antardhana, kemampuan untuk tidak terlihat.
  9. Kemampuan untuk berubah wujud atau menciptakan wujud semu.
  10. Kemampuan untuk merasuki diri orang lain dan kemudian mengendalikannya. Ini dilakukan menggunakan tubuh halus.


[Catatan : Definisi tubuh halus dalam literatur parapsikologi disebut juga Tubuh Astral atau Tubuh Mental, nampaknya peradaban kuno memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang keberadaan dan penggunaan berbagai lapisan tubuh manusia, termasuk untuk memindahkan satu kesadaran manusia ke dalam kesadaran manusia yang lainnya. Dalam literatur fenomena seperti ini disebut OBE (Out of Body Experience), suatu pengalaman kesadaran di luar tubuh fisikal.]


Walaupun banyak akademisi yang secara spontan menyatakan bahwa kemampuan seperti itu terlalu tidak masuk akal untuk dapat dipercayai kebenarannya, ada banyak contoh yang berulang kali muncul dari “siddhi” ini pada orang-orang tertentu di masa modern sekarang ini. Michael Talbot dalam bukunya “The Holographic Universe” membahasa secara detil fenomena semacam ini, sebagaimana kita juga akan membahasnya lebih lanjut nanti. Dalam buku Dr Thompson pun disebutkan banyaknya hubungan antara fenomena yang ditulis dalam naskah kuno Veda dan fenomena dari berbagai laporan kontak dengan UFO. Pendek kata, kita dapat melihat bahwa suatu peradaban yang mampu menguasai berbagai kemampuan seperti yang ada dalam daftar diatas pastilah merupakan kebudayaan luar biasa yang melihat realitas hidup dari perspektif yang sangat jauh berbeda dari yang kita punya sekarang ini.


Kembali kepada pokok bahasan kita tentang pendatang dari luar bumi, dalam bukunya tersebut Dr. Thompson menceritakan perspektif dari peradaban Vedic tentang keaneka ragaman kehidupan luar bumi persis dihalaman sebelum daftar kemampuan atau siddhi mereka dipaparkan :


Para Purana menceritakan tentang 400.000 ras mirip manusia yang hidup di berbagai planet jauh di luar planet bumi, dan sekitar 8.000.000 bentuk kehidupan lain termasuk tumbuhan dan hewan. Dari ratusan ribu ras mirip manusia tersebut, manusia bumi seperti yang kita kenal sekarang ini adalah yang termasuk paling lemah.


Sekarang ini yang jelas kita ketahui adalah bahwa peradaban kita tidak punya kontak terbuka atau kerjasama apapun dengan “pendatang” yang sering diberitakan muncul di berbagai kesempatan. Dalam peradaban yang memang punya hubungan baik dengah “pendatang dari langit” tersebut pandang mereka tentang alam semesta pastilah sangat berbeda dengan kita, terlebih lagi dengan informasi bahwa “ras manusia bumi” merupakan ras yang paling lemah menurut hasil observasi si pendatang tadi. Memang ada saat dimana nampaknya kita memahami tentang keanekaragaman bentuk kehidupan di galaksi kita dan memiliki kontak dengan mereka. Namun saat seperti itu sudah lama hilang. Dan walaupun saat itu peradaban manusia tergolong masih sebagai versi “Taman Kanak-kanak” dari Evolusi Semesta, pada saat itu, imperium Rama dan peradaban Atlantis memiliki kualitas diri dan teknologi maju yang kita sekarang ini baru mulai bisa menuju kesana sekali lagi.


Sangat penting untuk kita catat, walaupun beberapa “vimana” nampaknya serupa dengan pesawat terbang di masa kita, ada desain-desain lain di masa itu yang jauh melampui teknologi manapun yang kita miliki sekarang ini. Salah satu naskah Vedic kuno paling penting adalah Vaimanika Sastra, yang ditemukan pertama kali pada tahun 1918 di Perpustakaan “Baroda Royal Sanskrit” di India. Seperti yang kita cuplik berikut ini, naskah ini telah diterjemahkan sedemikian rupa untuk memberikan pengertian yang paling dekat dengan maksud naskah tersebut dengan bahasa kita sekarang ini :


Deskripsi dari naskah Vaimanika Sastra tentang isi dari naskah itu sendiri : “Buku ini adalah terdiri dari 8 bagian besar yang memberikan penjelasan tentang cara membuat berbagai macam alat terbang, sebagai cara mudah dan nyaman bepergian melalui udara, kekuatan pemersatu dari Semesta Raya dan berguna bagi kesejahteraan umat manusia.

Dengan alat ini manusia bisa bepergian dengan kemampuannya sendiri, seperti burung, diudara yang disebut Vimana, untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain, dari satu benua ke benua lain dan dari satu bumi ke bumi lainnya. Teknologi lain juga disebutkan dapat di pelajari dari naskah yang sama, yaitu :


  • Rahasia untuk membangun mesin terbang, yang tidak bisa rusak, tidak bisa retak, tidak bisa terbakar dan tidak dapat dihancurkan.
  • Rahasia untuk membuat mesin terbang tidak bisa bergerak.
  • Rahasia untuk membuat mesin terbang tidak terlihat.
  • Rahasia mendengar pembicaraan dan bunyi lain dari tempat musuh yang jauh.
  • Rahasia mendapatkan gambar bagian dalam dari pesawat musuh.
  • Rahasia mengetahu arah tujuan pesawat musuh yang mendekat secara tepat.
  • Rahasia untuk membuat pengendara atau penumpang di pesawat musuh hilang kesadarannya.
  • Rahasia untuk menghancurkan pesawat musuh.

Sayang topik yang sangat luas ini tidak bisa kita bahas di sini karena keterbatasan tempat yang ada, padahal untuk membuktikan apakah teknik yang disebutkan dalam naskah tersebut benar-benar bisa diterapkan diperlukan suatu kajian yang lengkap dan komprehensif, tapi bukti2 nya telah tersedia. Alasan yang membuat buku Dr. Thompson, “Alien Identities” disebutkan sebagai terobosan besar adalah karena buku ini berisi sejumlah besar dokumentasi, yang detil dan mengagetkan baik dari naskah kuno Vedic dan literatur UFO modern, dan dengan jelas menunjukkan kesamaan dengan jumlah yang sangat banyak dari kedua kumpulan data tersebut ditinjau dari perihal yang dibicarakan maupun dari sudut pandang spiritual. Meski Vimana jelas termasuk suatu bentuk pesawat terbang, ada banyak contoh lain yg disebutkan tentang “benda terbang” dan “makhluk serupa manusia” yang jelas jauh, bahkan sangat jauh, lebih maju dari manusia kontemporer di jaman itu.


Peradaban Sumeria – Mata rantai yang hilang..


Karya ensiklopedi dari Zecharia Sitchin, termasuk yang berjudul “Genesis Revisited” dan terutama serial yang diberi judul “Earth Chronicles” juga banyak menceritakan tentang kerjasama dan kontak yang terjadi antara umat manusia dengan “pendatang dari luar bumi” yang di masa lampau pernah terjalin. Dr. Sitchin sendiri merupakan 1 dari 200 orang di dunia yang mampu secara fasih membaca dan menterjemahkan gulungan naskah berbahasa Sumeria kuno. Dengan prinsip untuk mencari fakta dan tidak terburu-buru berpraduga bahwa semua yang dituliskan di gulungan itu adalah hanya mitos, Dr. Sitchin ternyata menemukan suatu dokumentasi yang menakjubkan. Karya ilmiahnya dibangun atas dasar argumentasi yang sangat solid, sehingga tidak ada seorang skeptis pun yang pernah mencoba secara serius untuk mematahkan argumentasinya. Sehingga Sitchin sekedar tidak diacuhkan, karya karya ilmiahnya begitu kompleks, konsisten dan menyangkut banyak hal sensitif sehingga tidak ada seseorang yang mau untuk benar-benar melancarkan serangan atau sanggahan atas karyanya.


Sekali lagi dalam karya-karya Dr. Sitchin kita melihat bukti tertulis dari dokumentasi era Sumeria akan adanya teknologi angkasa super canggih (termasuk versi lebih besar seperti roket), makhluk luar angkasa serupa manusia, laser dan persenjataan canggih, berbagai macam pengetahuan maju termasuk deskripsi detil yang luar biasa akurat dari Tata surya kita. Termasuk di dalam gulungan naskah kuno ini ada diagram dan gambar tentang semua planet yang kita ketahu ada dalam tata surya kita, bahkan termasuk “planet ke-12” bernama Nibiru. Keberadaan akan planet Nibiru secara formal (dan diam-diam) baru mulai diakui oleh komunitas ilmuwan sekitar Oktober 1999.


Berdasarkan deskripsi teknis yang sangat kaya dari gulungan naskah kuno Sumeria, yang beberapa diantaranya akankita eksplorasi secara matematis di bahasan selanjutnya, kita pasti bertanya-tanya apakah paling tidak itu sebagian dari itu diwariskan secara verbal turun temurun oleh keturunan Atlantis yang selamat. Hal ini bisa menjelaskan dasar dari epic “The Saga of Gilgamesh” yang menceritakan tentang petualangan sejumlah kecil ksatria dipimpin oleh seseorang bernama Gilgamesh yang selamat dari air bah besar di masal lalu (contohnya tenggelamnya Atlantis). Dalam karyanya “Earth Chronicles” Dr. Sitchin memberikan argumentasi kuat bahwa cerita tentang Nuh dan Bahteranya adalah versi ringkas dan sederhana dari epic yang sama, dimana karakter Gilgamesh diganti menjadi Nuh dan banyak detil lainnya yang tidak diceritakan.


OANNES: Kontak Pertama


Keberadaan dari “mereka yang selamat” dari tenggelamnya Atlantis seperti Gilgamesh, juga membantu mengidentifikasikan apa yang dikenal sebagai “Manusia dari dasar Laut” seperti Raja lautan Sumeria/Babylonia bernama “Oannes” yang sering diceritakan dalam berbagai naskah kebudayaan kuno muncul secara tiba-tiba dan memberdayakan masyarakat setempat ke lever peradaban tinggi dalam sekejap.


Kemungkinan yang paling mudah difikirkan akan rahasia dibalik cerita ini adalah bahwa “Oannes” merupakan salah satu keturunan dari orang-orang yang selamat dari peradaban Atlantis yang muncul ke hadapan publik dan menyamar menggunakan baju serupa ikan untuk memberikan kesan mistis pada kehadiran mereka di peradaban yang masih percaya takhayul dan terbelakang.


Dengan kemungkinan besar beberapa Vimana (termaasuk yang bisa menyelam ke dalam air) masih terselamatkan, Oannes bisa dengan mudah memarkir kendaraan tersebut jauh di dalam laut, untuk kemudian muncul di keramaian di siang hari dan kembali ke kapal pada malam hari. Coba kita perhatikan cuplikan dari naskah kuno yang ditulis oleh seseorang yang menyebut dirinya “Berossus” sebagaimana yang disebutkan dalam buku Raymond Drake :


Berossus menginformasikan tentang binatang yang mempunyai kepandaian, yang dikenal sebagai Oannes. Seluruh tubuh binatang ini serupa dengan umumnya ikan, dan dibawah “kepala ikan”nya ada kepala lain berupa kepala manusia, dan juga memiliki kaki untuk berdiri selain juga tetap memiliki buntuk ikan. Suara dan bahasa yang digunakannya adalah sebagaimana manusia, setiap kemunculan selalu di waktu siang hari dan ia bercakap-cakap dengan masyarakat namun tidak pernah memakan makanan yang umum dimakan di wilayah itu. Ia juga mengajarkan tentang huruf dan ilmu pengetahuan serta berbagai macam seni atau ketrampilan. Ia mengajarkan masyarakat cara mendirikan rumah, membuat kuil, menyusun peraturan dan menjelaskan prinsip-prinsip ilmu tentang geometri. Selain itu Oannes juga mengajarkan mencari benih dan memetik buah hasil cocok tanam, pendek kata ia menunjukkan segala yang perlu dilakukan masyarakat untuk menuju peradaban yang lebih baik dan berperikemanusiaan. Namun ketika matahari terbenam, makhluk ini akan menghilang kedalam air dan tidak muncul lagi sepanjang malam karena ia adalah makhluk amfibi yang hidup di dua alam.


Seperti yang bisa kita lihat, satu hal yang paling luar biasa dari kebudayaan era Sumeria adalah bagaimana seseorang seperti Oannes bisa memimpin mereka dalam waktu yang luar biasa singkat berubah dari masyarakat nomaden yang hidup dari berburu dan mengumpulkan makanan menjadi masyarakat maju dengan irigasi, sekolah, peraturan yang diundangkan, pemerintahan, berternak, bercocok tanam, mengenal teknik meramu berbagai herbal sebagai obat, termasuk juga matematika dan geometri, medirikan bangunan dan semacamnya. Jelas sekali ada orang-orang dari peradaban yang lebih maju datang ke peradaban primitif dan membuat perbaikan dan perubahan dengan cepat, seperti halnya ketika orang-orang “Barat” mengkolonisasi berbagai belahan dunia di era modern.


Tradisi “MISTERIUS”

Menurut naskah-naskah kuno dari berbagai tempat di dunia, orang-orang yang selamat dari tenggelamnya Atlantis menyimpan kumpulan pengetahuan mereka secara tergesa-gesa mengingat bencana alam yang menenggelamkan daratan mereka berlangsung dengan cepat sekali, kejadian yang mengilhami cerita kuno tentang Nuh dan Bahteranya. Satu-satunya dokumen sejarah akan Atlantis yang pernah dipublikasikan adalah yang berasal dari filosofi Yunani, Plato. Dan sering ditulis di naskah yang ditemukan bahwa tindakan Plato ini membuat para pendeta Mesir naik pitam karena informasi ini dimaksudkan untuk secara ketat disembunyikan dari pengetahuan publik. Menurut dokumentasi Plato, Atlantis hilang tersabu air bah besar yang mengakibatkan benua itu tenggelam ke dasar laut. Ada beberapa pemimpin Atlantis yang “Tahu” akan datangnya bencana itu dan berhasil meninggalkan benua besar itu sebelum bencan itu terjadi. Mereka bermigrasi ke berbagai area yang sekarang ini bernama Eropa, Afrika dan Asia termasuk juga America, terutama di area Mesoamerican di Yucatan.

Menurut Plato lagi, mayoritas penduduk dunia ketika itu belum berbudaya dan hidup secara primitif, sedangkan benua Atlantis yang dikelilingi samudra luas di seluruh tepinya menikmati kemajuan peradaban dan teknologi yang jauh di depan dari berbagai kebudayaan primitif yang telah ada di belahan dunia lainnya. Jadi waktu itu tidak ada keseragaman tingkat peradaban antara satu dengan yang lainnya.


Ketika benua Atlantis total terkubur di dasar laut, minoritas yang selamat menghadapi tantangan besar karena mereka sekarang berada ditengah-tengah peradaban lain yang masih primitif bahkan untuk mulai memahami peradaban dari mana mereka berasal. Dalam beberapa kasus jika pengungsi ini mulai buka mulut soal pengetahuan yang mereka miliki, seringkali berujung kepada maut karena mayoritas masyarakat primitif itu takut kepada mereka yang berbicara tentang sesuatu yang “beda” dengan yang mereka ketahui. Karenanya sebagian besar para pengungsi tersebut harus mewariskan pengetahuan traditional mereka dalan kondisi yang “sangat rahasia” karena kepercayaan dan pengetahuan mereka yang bertubrukan dengan kepercayaan dan pengetahuan kebudayaan yang lebih primitif dapa membawa mereka kepada kematian.


Istilah dari para akademisi barat menyebut tradisi rahasia yang diwariskan turun-temurun ini adalah tradisi “Misterius” yang dalam berbagai kasus proses penyampaiannya dijaga seketat mungkin dan menuntut serangkaian syarat dan inisiasi yang sulit bagi siap saja yang berminat atau diundang masuk ke dalam tradisi.


Lebih jauh lagi, untuk menjamin keselamatan garis keturunan dari pengungsi Atlantis, para anggota tradisi atau kelompok ini diharuskan memberikan janji untuk bersedia “dihukum mati” jika membocorkan pengetahuan yang didapat dari tradisi Misterius ini kepada mereka yang diluar kelompok. Kita tentu segera bisa membayangkan seseorang anggota tradisi yang tidak menjaga rahasia atau tidak sehati-hati dan sedramatis Oannes dari Babylonia atau Viracocha dari kebudayaan Mesoamerican akan segera disingkirkan, dan ini mungkin yang menjaga pengetahuan yang mereka punya bisa bertahan diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.

Dalam perjalanannya beberapa kali hampir saja pengetahuan ini secarat total musnah karena kondisi yang sangat represif dari peradaban di masa itu. Namun kekuatan yang bisa di hasilkan dari informasi itu begitu kuat sehingga selalu saja ada orang besar yang datang dan mengumpulkan kembali semua potongan informasi yang ada. Ini terjadi jaman Yunani kuno dimana Thales, Pythagoras dan Plato berkelana di benua Afrika dan Eurasian mengumpulkan ceceran informasi dari berbagai tempat. Aksi serupa hanya dilakukan di masa modern oleh Francis Bacon, seorang bangsawan Ingris berpendidikan tinggi di jaman Elizabeth yang memiliki akses ke berbagai naskah kuno di Vatikan dan tempat lainnya. Upaya Bacon untuk menghidupkan kembali “Tradisi Misterius” secara langsung bertanggung jawab dalam kelahiran organisasi “Order of Mason” di era modern, itulah mengapa Manly Palmer Hall dalam bukunya “Secret Teachings of All Ages” menobatkan Francis Bacon dan Phytagoras sebagai dua figur paling penting bagi organisasi Freemason sekarang ini.


Perkumpulan Freemason, seringkali dianggap sebagai dalang dari semua konspirasi kekuasaan di muka bumi dalam era modern, terutama oleh para penganut “Conspiracy Theory” karena memang sifatnya yang penuh kerahasian dan kekuasaan yang sangat luas dalam mempengaruhi berbagai aktivitas di dunia begitu terlihat. Memang ada bukti “tangan pertama” bahwa ada grup ekstrim yang berorientasi kepentingan sempit kelompoknya sendiri yang disebut “illuminati” di dalam organisasi freemason yang berhasil menguasai puncak pimpinan organisasi. Meski ini tidak berlaku umum untuk seluruh anggota “biasa” dari freemason, namun lebih detil akan kita bahas nanti. Sebagai salah satu contoh dari ratusan contoh yang ada: hampir seluruh penanda tangan proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat adalah anggota Mason, termasuk sebagian besar astronauts, senator, konglomerat dan bahkan president AS. Sejarah Amerika tidak bisa lepas dari organisasi Mason (pernah berfikir kenapa ada gambar Piramida dengan lambang “Mata yang bisa melihat Semua” di uang Dolar Amerika? Atau kenapa Monumen Washington berbentuk persis sama dengan Tugu Obelisk Mesir?) dan dewasa ini banyak penulis yang secara demonstratif dapat membuktikan bahwa mayoritas Eksekutif puncak di perusahaan-perusahaan besar Amerika, Perwira-perwira tinggi militer dan Pejabat pemerintahan juga punya kaitan erat dengan freemason.


Walaupun begitu, hanya beberapa orang pilihan yang bisa menempus level tertinggi dari hirarki organisasi freemason yang mengetahui akan apa sebenarnya misteri yang disimpan erat-erat oleh organisasi ini. Level rendah, terutama 3 level “Biru” pertama sengaja di desain untuk menarik minat dan kesetiaan sebagaian besar anggota sehingga kekuasaan organisasi bisa makin meluas tanpa beresiko membuka rahasia sebenarnya. Mereka-mereka yang akan diberi kepercayaan untuk mewarisi rahasia yang selama ini dilestarikan adalah yang dipilih berdasarkan observasi yang panjang dan sangat hati-hati, sedikit saja ada keraguan dan tanda bahwa integratisnya dipertanyakan, maka karir orang tersebut akan tamat dalam organisasi karena para “tetua” akan memastikan orang tersebut tidak akan bisa naik lagi ke level organisasi yang lebih tinggi.


Jadi, walaupun ada fraksi dari illuminati yang bisa menembus level tertinggi organisasi freemason, lalu menjadi terdis-orientasi dan malah haus kekuasaan, informasi yang asli dari peninggalan Atlantis tetaplah penting bagi kita. Kita tidak menemukan bahwa informasi dari naskah-naskah kuno itu membawa kita ke sisi negatif dari pengetahuan spiritual, walau memang bisa saja terjadi “illuminati” telah memanipulasi informasi tersebut sedemikian rupa bagi kepentingan kelompoknya sendiri. Banyak peneliti kemudian sepakat bahwa buku Manly Hall (yang juga seorang mason level 33, level yg paling tinggi diketahui publik) merupakan sumber terbaik untuk mengumpulkan potongan informasi guna menyusun kembali gambar besar dari misteri Atlantis.


Dalam bukunya Hall mulai dengan diskusi panjang dan melelahkan akan filosofi. Mulai dari jaman Yunani, Romawi sampai era modern ini terutama soal ide mereka yang saling berlawanan. Di akhir bab permulaannya tersebut , ketika pembaca mulai kelelahan dari diskusi panjang dari berbagai informasi filosofis, Hall menawarkan penjelasan yang gamblang sekaligus menunjukkan bahwa dengan pengetahuan rahasianya ia mempunyai kontak langsung dengan sumber asli dan rahasia dari semua pemikiran filosofis. Hall juga mengungkapkan fakta penting akan penggunaan simbolisme dalam mengirimkan informasi dengan menyembunyikan arti sebenarnya dari pihak luar organisasi, termasuk juga beberapa kutipan penting yang menggugah pikiran kita untuk mempertimbangkannya lebih lanjut, seperti:

Pengetahuan transendental yang disebut juga sebagai “Pengetahuan Suci” begitu dalam untuk bisa difahami oleh hampir semua intelektual tanpa mengguncang mentalnya dan begitu ampuhnya sehingga diajarkan secara hati-hati hanya pada mereka yang ambisi pribadinya telah padam dan telah mendedikasikan dirinya pada pengabdian kepada kemanusiaan.

Sejarah Atlantis adalah kunci dari mitologi Yunani. Tidak dipertanyakan lagi bahwa dewa-dewa Yunani sebenarnya adalah manusia dalam arti sebenarnya, kecenderungan untuk melekatkan atribut-atribut ketuhanan kepada Penguasa agung di dunia adalah sesuatu yang merupakan sifat alami manusia.


...”Garden of Eden” istilah terpopuler dari konsep agama-agama ibrahim akan suatu kondisi ideal, kondisi surgawi, tempat dari mana manusia terusir karena “kemarahan” Tuhan mungkin sekali merupakan penggambaran dari kehidupan harmonis yang pernah ada di bumi, di salah satu lokasi di Atlantis dan hancur oleh bencana vulkanis. Legenda Air bah besar juga dapat ditelusuri sampai ke masa tenggelamnya Atlantis, masa dimana “dunia” hancur oleh Air.


Apakah kepercayaan agama, filosofi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para pemuka masyarakat dari jaman purbakala sampai Atlantis benar-benar telah tengelam musnah dan kehilangan seluruh keberadaannya dalam drama besar perubahan dunia? Pemujaan terhadap Dewa Matahari tersirat masih lestari dalam ritual dan upacara dari kebudayaan Nasrani dan penyembah berhala, baik Salib dan ular melingkar keduanya adalah simbol Atlantis dari Kebijaksanaan Ilahiyah.


Namun dunia bukan hanya mewarisi seni dan kebudayaan, filosofi dan iptek, etika dan agama namun juga mewarisi, perselisihan dan keserakahan. Para Atlantis sendiri lah yang saling memulai peperangan satu sama lain, selanjutnya pertikaianti dak terelakkan karena masing-masing melakukannya untuk menjustifikasi aksi sebelumnya atau menuntut balas. Sebelum tenggelamnya Atlantis, orang-orang yang secara spiritual telah matang menyadari bahwa peradaban mereka telah tergelincir dari jalan terang keselamatan dan segera meninggalkan benua yang sedang “sakit” itu. Mereka membawa serta pengetahuan suci Atlantis bersama mereka dan kemudian sampailah mereka di Mesir, dimana akhirnya mereka menjadi Penguasa Agung pertama Mesir. Hampir semua konsep mitologi kuno yang menjadi landasan berbagai “kitab suci” di dunia berasal dari tradisi Misterius Atlantis.


Tanpa perlu memberikan kutipan panjang lebar disini, dibagian akhir dari bukunya, Manly Palmer Hall mengelaborasi satu pesan penting bahwa penggunaan bahasa simbolisme merupakan cara untuk menyebunyikan pengetahuan Atlantis baik yang ilmiah maupun spiriitual.

Maksud dari Hall disini, ada bangunan fisik tertentu seperti piramida atau kuil yang didirikan dan di desain mengikuti prinsip-prinsip tertentu dari “proporsi suci” yang mereka kuasai “ilmu”nya. Begitu seseorang menguasai pemahaman mendasar dari “Ilmu Alam” yang akan kita paparkan nanti dalam rangkaian seri “Memahami Penciptaan” ini, misteri yang tersembunyi akan sekali lagi bisa kita ungkapkan.


Ajaran mitologi setelah diturunkan berulang-ulang generasi ke generasi juga digunakan untuk menyembunyikan informasi yang sangat maju. Banyak gambar dan ilustrsi juga digunakan sementara arti sebenarnya tersembunyi dalam mitologinya itu sendiri.


Gerak Tari dan Mandala dalam ajaran Hindu mengandung “Geometri Rahasia” dalam pola-pola didalamnya. Simbol Yin-Yang dari peradaban Timur kuno juga punya arti sama pentingnya begitu juga tongkat dengan dua ekor ular melingkarinya, yang sekarang ini menjadi simbol dari ilmu kedokteran.


Informasi “RA”


Jadi, dengan segala informasi diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa nampaknya kita membicarakan sebuah peradaban canggih kuno yang menjalin hubungan baik dengan “pendatang dari luar bumi” atau “makhluk dari dunia lain” yang bahkan jauh lebih canggih dan maju dalam evolusinya. “Peradaban canggih kuno” ini seiring dengan kehancurannya kemudian mewariskan pengetahuannya secara rahasia maupun dengan “menyebunyikannya di depan publik” menggunakan simbolisme tertentu guna menutupi makna sebenarnya, seringkali dengan mengukirnya pada bangunan atau kuil suci. Kita harus ingat bahwa saat ini pun tidak ada peradaban modern yang mencapai tingkat kecanggihan peradaban Atlantis, sehingga tidak punya dokumentasi sejarah yang gamblang akan Atlantis, akibatnya informasi tentang Atlantis tetap menjadi mitos sehingga sangat mudah untuk melupakan Atlantis.


Melalui seri tulisan ini, kita akan melihat bukti tidak terbantahkan dari pengetahuan ilmiah kuno yang sangat maju bahwa manusia Atlantis pada masanya memiliki kesadaran dan pemahaman penuh akan sistem kosmologi dan ilmu tentang mekanisme alam semesta bekerja. Lebih menarik lagi, kita punya dalam dokumentasi modern sekarang ini sumber informasi yang sangat lengkap yang dapat memberikan gambaran lebih jelas akan sejarah masa lalu dan peradaban canggihnya tersebut.


Untuk itu kita akan berkenalan dengan sumber informasi yang dikenal sebagai “RA material” yang dipublikasikan sejak 1984 oleh lembaga riset bernama Love/Light Research (lebih lanjut lihat di: www.llresearch.org) dalam serial 5 buah buku berjudul “Law of One Series”, sebuah dokumentasi hasil wawancara yang direkam dalam pita kaset lewat “mediumisasi” (proses dimana tubuh fisikal seseorang secara sengaja diambil alih kesadarannya oleh entitas lain untuk digunakan berkomunikasi, di indonesia jika seseorang mengalami hal ini, biasanya tidak disengaja, disebut “kemasukan”) yang paling tinggi reputasinya yang pernah ada.


Pendiri lembaga riset ini Don Elkins, Phd yang pada tahun 1962 memulai proyek penelitiannya, sebenarnya bertujuan untuk menyelidiki tentang fenomena UFO pada awalnya, namun tanpa diduga justru mendapatkan informasi yang luar biasa kaya dan mendalam menyangkut bukan hanya jati diri UFO namun juga tentang filosofis, agama, spiritual, dan hampir seluruh aspek kehidupan manusia dan alam semesta.


Setelah belasan tahun mencoba berbagai teknik dan metode penelitian, mulai dari mewawancara saksi mata baik secara sadar atau dibawah hipnotis, membaca laporan kejadian, mengumpulkan data, sampai kepada mengontak secara langsung lewat bantuan orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan khusus seperti telepati atau komunikasi pikiran, akhirnya disimpulkan bahwa cara yang paling efektif menggali informasi tentang UFO adalah teknik yang terakhir, kontak telepati namun untuk memastikan tidak ada “subjektifitas pribadi” dari orang yang melakukan kontak, diputuskan untuk membuat orang tersebut kehilangan kesadaran (kondisi tertidur pulas atau pingsan) dan hanya menggunakan tubuhnya untuk dipakai berkomunikasi dengan entitas yang di kontak.


Baru pada tahun 1981, Don Elkins mulai mendapatkan titik terang ketika dalam salah satu percobaan mereka, entitas yang memperkenalkan dirinya sebagai “RA” melakukan kontak dengan mereka. Dalam sesi tanya jawab yang kemudian terjadi, Ra mengatakan bahwa pernah melakukan kontak dengan peradaban Atlantis kuno dan memang membagi pengetahuannya dengan orang-orang Atlantis dimasa itu, termasuk “bantuan teknis” dalam pembuatan bangunan yang merupakan “keajaiban arsitektur” yaitu Piramida Agung Mesir.


Selama belasan ribu tahun sejak tenggelamnya Atlantis, secara terbuka banyak upaya untuk mengintegrasikan pengetahuan suci yang hilang, namun tampaknya tidak satupun yang diketahui publik berhasil untuk membangun model mekanisme alam semesta yang utuh dan komplit seperti yang digunakan oleh orang-orang peradaban Atlantis...sampai sekarang.

Karena seperti yang dikatakan Manly Palmer Hall, semua pengetahuan warisan Atlantis ini tersembunyi dalam bahasa simbolisme, yang memungkinkan terjadinya banyak interpretasi. Oleh sebab itu kontak dengan “RA” menjadi sangat penting, ketika kita menyadari bahwa “Narasumber dari semua informasi teknis yang dimiliki peradaban Atlantis, sekali lagi membagi pengetahuannya dengan umat manusia tanpa menggunakan simbol-simbol, bahasa kode dan terisolasi jauh dari jangkauan segala macam organisasi rahasia maupun konspirasi pemerintah”.


Sejumlah besar informasi yang diungkap dalam kontak dengan RA ditahun-tahun berikutnya tervalidasi dengan penemuan-penemuan ilmiah yang sebelumnya sama sekali tidak diketahui di masa terjadinya kontak, sehingga permasalahan akan “kurangnya bukti” secara sangat memuaskan terpenuhi. Belum pernah ada sebelumnya sumber informasi yang sedemikian lengkap dengan begitu banyaknya validasi ilmiah seperti halnya “Law of One”, sehingga berbagai kalangan mengkategorikannya dalam kategori “Tidak pernah ada sebelumnya”.


Jadi memang ada dua cara yang bisa kita tempuh dalam merekonstruksi sekali lagi ilmu pengetahuan alam semesta yang pernah menjadikan Atlantis sebagai pusat peradaban tinggi di bumi, terlepas dari fakta bahwa orang-orang Atlantis di kemudian hari menghancurkan peradaban mereka dengan tangan-tangan mereka sendiri.


Pertama, kita bisa saja bersusah payah mengumpulkan segenap pecahan informasi yang tesebar di berbagai penjuru dunia dalam berbagai bentuknya dan tersembunyi di balik berbagai simbolisme rahasia, seperti halnya yang bisa ditemukan di buku Manly Palmer Hall tadi, yang berasal dari warisan pengetahuan atau tradisi rahasia dari jaman Atlantis hasil kontak mereka dengan “pendatang dari luar bumi” yang menurut Ra, “cepat sekali diselewengkan” oleh para pendeta/pemuka agama di jaman Atlantis.


Cara kedua yang dapat dilakukan adalah dengan langsung memaparkan disini beberapa keterangan penting dan mendasar dari Ra tentang alam semesta, yang telah disederhanakan bahasanya dengan beberapa kesimpulan ilmiah yang kita punya seperrti yang akan kita lakukan dalam rangkaian seri tulisan ini, untuk kemudian diserahkan kepada tiap pribadi yang membacanya apakah akan menerima atau menolak segala sesuatu yang disampaikan dalam material ini.


Dengan berbagai pertimbangan, cara kedua adalah cara yang kami pilih untuk menyajikan serial tulisan ini, sehingga mulai dari titik ini, kita akan mengambil prinsip-prinsip yang diberikan oleh Ra ditambah validasi dari berbagai terobosan ilmiah yang terjadi di era modern ini dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang diperlukan guna merekonstruksi kembali pengetahuan “rahasia” yang hilang bersama tenggelamnya Atlantis.


Dibagian berikutnya kita akan mulai mengunyah “menu utama” dari pengetahuan “suci” yang dimiliki peradaban Atlantis yang sekarang ini mulai sedikit demi sedikit terkuak lewat berbagai terobosan ilmiah, terpecah-pecah dalam berbagai “disiplin ilmu”...seperti apakah itu? Tunggu tulisan berikutnya...


...bersambung ke bagian ketiga

Read more...
 

Copyright 2016 Wanderers Home

Created By Yan Rezky | Designed By Zalfy Putra